Bantuan Alat Mesin Pertanian Kerap Salah Sasaran, Peneliti CORE Wanti-wanti Hal Ini

20 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian mengalokasikan 5.399 alat mesin pertanian (Alsintan) modern untuk menyambut panen raya yang diperkirakan berlangsung usai Lebaran 2025. Alsintan itu terdiri dari 3.247 unit combine harvester besar dan 2.152 unit power thresher. Alokasi itu meningkat dari realisasi penyaluran 1.400 unit combine harvester ukuran besar ke berbagai wilayah Indonesia pada tahun 2024.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan distribusi bantuan mesin-mesin canggih itu harus dilakukan secara cermat agar tepat sasaran. Eliza menilai distribusi bantuan alsintan rentan salah sasaran karena data petani di daerah jarang sekali diperbarui.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Jika ada basis data yang valid akurat setidaknya bisa mengurangi kebocoran bantuan. Karena bantuan yang sifatnya barang ini juga rentan penyalahgunaan," ucap Eliza saat dihubungi Tempo pada Kamis, 3 Aprril 2025. Ia bercerita pernah mendengar langsung dari petani di Garut yang mendapat dua unit traktor bantuan dari pemerintah. 

Petani itu, kata Eliza, lantas menjual salah satu unit traktornya. Dengan temuan kasus itu, ia menyoroti pentingnya pemerataan distribusi Alsintan, terutama di luar gabungan kelompok petani. "Kerap kali terjadi cemburu sosial karena bantuan terkonsentrasi di beberapa golongan petani atau kelompok tani. Ini perlu dipertegas dan diperjelas bagaimana agar adil dalam pendistribusiannya," katanya. 

Lebih lanjut, Eliza menjelaskan penggunaan combine harvester besar kurang cocok untuk lahan pertanian di Indonesia yang mayoritas luasnya kurang dari 0,5 hektare. Dengan luas lahan yang terbatas, ia menilai petani akan kesulitan untuk mengoperasikan combine harvester. "Agar mesin tersebut tidak berujung hanya jadi pajangan atau bahkan dijual, maka pendistribusiannya harus tepat."

Oleh karena itu, Eliza menyampaikan distribusi combine harvester harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan luasan lahan pertanian. "Prioritaskan di daerah yang lahan sawahnya luas serta ketersediaan tenaga kerjanyaa sedikit. Karena keberadaan mesin ini akan sangat membantu petani yang kesulitan mencari buruh tani," tuturnya. 

Selain efektivitas Alsintan, menurut Eliza pemerintah juga perlu mempertimbangkan mekanisme distribusi agar bisa sampai langsung ke petani yang membutuhkan. Ia menyinggung soal adanya pungutan liar kepada petani, yang juga harus menjadi perhatian pemerintah dalam menyalurkan alsintan. "Harus di distribusikan kepada yang betul betul membutuhkan agar APBN tidak sia-sia."

Sebelumnya Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Andi Nur Alam Syah mengatakan distribusi 5.399 alsintan itu bertujuan untuk mendorong produktivitas pertanian nasional. “Dengan mekanisasi, petani dapat memanen lebih cepat, lebih efisien, dan dengan hasil yang lebih baik,” tuturnya dalam keterangan tertulis pada Rabu, 2 April 2025.

Andi menilai penggunaan combine harvester mampu mengurangi kehilangan hasil panen (losses) hingga 3-5 persen dibandingkan metode manual. Selain itu ia menyebut mesin panen itu dapat mempersingkat waktu panen dalam waktu 3-4 jam per hektare. "Jauh lebih cepat dibandingkan cara tradisional yang memakan waktu 2-3 hari per hektare, " katanya.

Ia yakin power thresher atau mesin perontok juga dapat meningkatkan efisiensi perontokan padi secara signifikan. Ia membandingkan, power thresher memiliki kapasitas merontokkan padi rata-rata 300–600 kilogram per jam, sementara cara manual hanya bisa merontokkan padi sekitar 50–100 kg per jam dengan tenaga kerja terbatas.

"Selain itu, power thresher dapat menekan kehilangan hasil hingga 1–2 persen. Mesin ini juga dilengkapi blower yang membantu memisahkan kotoran dan sekam, sehingga menghasilkan gabah yang lebih bersih,” ujar Andi melanjutkan. 

Ia lantas merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang memproyeksi potensi panen padi periode Februari hingga April 2025 diperkirakan mencapai 6,63 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) di 10 provinsi sentra padi. Menurut Andi potensi itu menunjukkan besarnya kapasitas produksi yang perlu didukung teknologi modern agar petani dapat memanen secara optimal.

"Dengan dukungan mekanisasi yang terus ditingkatkan serta potensi panen yang besar, pemerintah optimis produksi pangan nasional akan makin meningkat," ucap Andi. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |