DUTA Besar Cina untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan pembahasan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh masih berlangsung antara pemerintah Indonesia dan Cina. Menurut dia, komunikasi antara kedua pihak berjalan lancar, namun rincian kesepakatan belum dapat diungkapkan.
“Kami terus berkomunikasi dekat dengan orang-orang penting serta kementerian terkait. Semuanya berlangsung dengan baik,” kata Wang, ditemui usai menghadiri FPCI China-Indonesia Think Tank and Media Forum di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 24 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pemerintah Indonesia sebelumnya menyebut proses negosiasi restrukturisasi utang proyek tersebut telah mencapai tahap akhir. Ketika ditanya apakah kedua negara telah mencapai kesepakatan, Wang tidak menjawab secara spesifik dan hanya menegaskan bahwa pembahasan masih berlangsung.
“Masih belum memungkinkan untuk menyampaikan rinciannya di tengah diskusi yang berjalan. Yang pasti, semuanya berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Pinjaman untuk Proyek Whoosh
Indonesia mengajukan restrukturisasi atas pinjaman yang digunakan untuk membangun kereta cepat Jakarta-Bandung. Proyek yang kini beroperasi dengan nama Whoosh itu menelan biaya sekitar US$ 7,2 miliar atau setara Rp 120 triliun.
Sebanyak 75 persen pendanaan proyek berasal dari pinjaman China Development Bank, sedangkan 25 persen sisanya berasal dari ekuitas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) menguasai 60 persen saham KCIC, sementara 40 persen lainnya dimiliki konsorsium Cina, Beijing Yawan HSR Co Ltd.
Proyek yang mulai dibangun pada 2016 itu mengalami pembengkakan biaya. Total investasi terdiri atas biaya awal sebesar US$ 6,02 miliar dan pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar US$ 1,21 miliar.
Pembahasan Restrukturisasi Utang
Upaya restrukturisasi utang telah dibahas pemerintah Indonesia bersama Danantara sejak tahun lalu. Pada November 2025, tim pendahulu teknis dikirim untuk membuka jalur negosiasi dengan pihak Cina.
Pada awal April 2026, Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan proses penyelesaian restrukturisasi telah mencapai tahap akhir. Menurut dia, seluruh kajian telah selesai dan proses berikutnya tinggal memasuki tahapan formal.
“Sudah selesai semua kajian dan lain sebagainya. Tinggal kita akan ada proses formalnya ya. Ada signing dan sebagainya,” kata Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Beberapa pekan kemudian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan negosiasi restrukturisasi telah rampung. Ia mengatakan hasil pembahasan bahkan telah disampaikan kepada pemerintah Cina.
“Sudah kelar, tinggal diumumkan,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu, 22 April 2026. Purbaya tidak menjelaskan skema restrukturisasi yang disepakati. Ia hanya menyebut konsekuensi finansial proyek Whoosh ditanggung oleh para pihak yang terlibat dalam investasi di kedua negara. “Kita berapa persen, mereka (Cina) berapa persen bayarnya, gitu kan. Jadi sama-sama agak menderita,” tuturnya.
Ilona Estherina ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Purbaya: Nego Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Rampung



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)





