AKTOR Iqbaal Ramadhan mengungkapkan bahwa genre horor fantasi dalam film Monster Pabrik Rambut merupakan metafora untuk menggambarkan situasi dunia kerja di Indonesia. Menurutnya, realitas di balik meja kerja atau lini produksi seringkali terasa jauh lebih mencekam dibandingkan sekadar penampakan makhluk halus.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sosok monster ternyata tidak melulu muncul dari mitos atau legenda urban yang menyeramkan. Dalam banyak kasus, monster justru lahir dari sistem kerja yang eksploitatif. Hal ini yang menjadi nyawa utama dalam film Monster Pabrik Rambut. Lewat peluncuran poster, trailer, dan lagu tema pada Rabu, 29 April 2026, film ini menegaskan posisinya bukan sekadar film horor biasa, melainkan sebuah kritik sosial yang tajam mengenai nasib para pekerja.
Eksploitasi yang Lebih Horor dari Film Horor
Iqbaal melihat adanya relevansi yang sangat kuat antara kehidupan buruh pabrik yang digambarkan dalam film dengan realitas para pekerja masa kini, atau yang sering dijuluki sebagai "budak korporat". Baginya, teror yang sebenarnya dalam kehidupan nyata bukan berasal dari monster bertaring, melainkan dari dinamika toksik yang menggerus kemanusiaan seseorang setiap harinya.
"Kita mungkin sama-sama bisa mengamini, mau bekerja di lini apa pun, situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa jadi karena atasan yang killer, kolega yang 'saling tusuk dari belakang', atau mungkin ekspektasi-ekspektasi yang dibebani secara berlebih sehingga kita harus mengorbankan kesehatan mental atau bahkan kesehatan fisik sebagai pekerja," kata Iqbaal.
Dia menambahkan bahwa di berbagai bidang pekerjaan, pola-pola penindasan seringkali dianggap sebagai hal yang lumrah. Film ini berusaha membedah perasaan tersebut. Perasaan ketika seseorang harus "menelan" semua tekanan demi bertahan hidup, sebuah sikap legowo atau ikhlas yang dipaksakan oleh keadaan karena tidak memiliki pilihan lain.
Jajaran pemeran dan tim produksi film Monster Pabrik Rambut saat konferensi pers di Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu, 29 April 2026. TEMPO/Imanda Zahwa
Dari Jakarta hingga Berlin
Keresahan yang diangkat dalam film ini rupanya tidak hanya berdasarkan realita penonton lokal. Saat film ini diputar di ajang Berlin International Film Festival di Jerman, Iqbaal mengaku terkejut melihat respons para penonton Eropa yang mayoritas merupakan pekerja korporat. Meskipun mereka bukan pekerja kerah biru (blue collar workers) seperti tokoh-tokoh dalam film, mereka merasa sangat terhubung dengan narasi eksploitasi tersebut.
"Buat saya itu fenomena yang menarik. Walaupun kulturnya berbeda, kita di Timur dan mereka di Barat, ternyata kultur bekerja lembur sampai mengorbankan diri itu pesannya sampai ke mereka," ungkap Iqbaal. Dia menceritakan bagaimana penonton di Berlin merasakan hampa yang sama akibat rutinitas kerja yang menguras energi tanpa jeda.
Banyak penonton mancanegara yang kemudian berefleksi dan mempertanyakan makna kerja mereka. "Ada perasaan 'Ini gue kerja buat apa sih? Ini kenapa gue cuma kerja doang ya?'. Ternyata perasaan itu sama dan tembus. Dapat respon dari teman-teman 'Oh I relate to this, I get that, I get the feeling, I have a boss like that.' Itu kayak, oh kita pikir di Indonesia aja yang bosnya pada killer gitu. Ternyata enggak, di Eropa pun sama", kata dia.
Karakter Bona
Dalam filmnya, Iqbaal memerankan Bona, anak bungsu dari tiga bersaudara yang bekerja di sebuah pabrik pengolahan rambut. Cerita tiga bersaudara ini memimpin jalannya cerita. Jika karakter kakak pertama, Putri (Rachel Amanda), digambarkan sebagai sosok yang rasional, dan karakter Ida (Luthesa) tampil unik, maka Bona adalah sosok yang "ajaib".
Bona memiliki kemampuan regeneratif yang tidak biasa, sebuah elemen fantasi yang menjadi petunjuk besar mengenai misteri di pabrik tersebut. Sebagai adik paling kecil, Bona turut membantu kakak-kakaknya membongkar keganjilan di tempat kerja mereka, termasuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok Mariyati yang menjadi misteri.
Kedekatan Personal dengan Isu Sosial
Keterlibatan Iqbaal dalam proyek ini didorong oleh keresahan personal yang mendalam. Telah berkarier di industri hiburan sejak usia sembilan tahun, dia memahami tekanan lingkungan kerja yang menuntut dedikasi total. Iqbaal melihat teror ini tidak hanya dialami buruh pabrik, tapi juga merambah ke dunia kreatif, F&B, hingga jurnalis.
Iqbaal secara spesifik menyoroti tantangan yang dihadapi rekan-rekannya di media yang sering mendapatkan ancaman hanya karena berani mengungkap kebenaran atau menyenggol oknum tertentu. "Ancaman dan teror yang mereka dapatkan hanya karena menyampaikan kebenaran, buat saya itu sebuah hal universal yang harus disampaikan secara fokus," ucapnya.
Film Monster Pabrik Rambut segera tayang di bioskop pada 4 Juni 2016, fokus mengisahkan perjuangan Putri, Ida, dan Bona yang terpaksa bekerja di sebuah pabrik rambut demi melunasi utang keluarga yang ditinggalkan orang tua mereka. Alih-alih mendapatkan ketenangan, mereka justru terjebak dalam teror mistis dan eksploitasi yang mengancam nyawa.
Disutradarai oleh Edwin dan berkolaborasi dengan sastrawan Eka Kurniawan, film ini menjanjikan pengalaman horor yang berbeda. Iqbaal berharap film ini menjadi pemantik diskusi tentang kesehatan mental dan hak-hak pekerja di Indonesia. "Saya berharap sekali film ini tuh bisa ditonton seluas-luasnya oleh teman-teman sebanyak-banyaknya dan akhirnya bisa membuka ruang juga buat diskusi dan ngobrol," kata Iqbaal.
IMANDA ZAHWA































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417338/original/087225200_1763529762-Buka_Puasa.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153924/original/010138200_1741324616-1741320553002_ucapan-selamat-puasa-marhaban-ya-ramadhan.jpg)

