IRAN dan Oman telah melangsungkan pertemuan perdana komite bersama untuk Selat Hormuz di Muscat, kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kasem Gharibabadi, Senin 29 Juni 2026.
"Dalam kunjungan ke Muscat, pertemuan pertama Komite Bersama Hormuz telah diselenggarakan," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui platform X seperti dilansir Euronews. "Sembari meninjau isu-isu terkini terkait selat tersebut, kami bertukar pandangan mengenai pengelolaannya di masa depan."
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Adapun Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada 23 Juni mengatakan, Iran dan Oman sepakat membentuk sebuah komite bersama untuk memfasilitasi dialog terkait Selat Hormuz.
"Dalam kunjungan saya ke Muscat, pertemuan perdana komite bersama untuk Selat Hormuz telah berlangsung ... dalam diskusi soal isu-isu terkini terkait selat tersebut, kami saling bertukar pandangan terkait masa pengelolaan selat dalam kerangka Pasal 5 Memorandum Islamabad dan hak kedaulatan negara-negara pesisir," kata Gharibabadi melalui media sosial X seperti dilansir Sputnik dan dikutip Antara.
Pada pertengahan Juni, otoritas Iran mengatakan bahwa tatanan baru di Selat Hormuz tengah diciptakan, dengan proses tersebut berlangsung melalui koordinasi dengan Oman.
Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz sudah terbuka untuk pelayaran bebas selama bertahun-tahun. Namun, situasi di jalur laut tersebut tidak akan sama lagi setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Otoritas Iran menekankan bahwa mereka berencana memungut biaya layanan untuk pergerakan aman kapal-kapal yang melewati jalur laut tersebut, meski pungutan tersebut bukan dalam bentuk biaya.
Menurut memorandum perdamaian dengan AS pada 18 Juni, Iran berkomitmen tidak akan memungut biaya kepada kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz selama 60 hari.
Selat yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang ini mencakup wilayah perairan Oman dan Iran. Namun, berdasarkan hukum internasional kebiasaan, secara umum tidak satu pun dari kedua negara tersebut dapat menghalangi pelayaran atau memungut biaya lintas.
Kendali berkelanjutan yang dijalankan Teheran atas selat tersebut telah memicu serangkaian ketegangan yang memuncak kembali. Insiden terbaru terjadi pada Ahad dini hari 28 Juni 2026 ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang 10 target militer Iran sebagai respons atas "agresi berkelanjutan Iran terhadap pelayaran komersial".
Pemicu langsungnya adalah serangan pesawat nirawak (drone) Iran pada Sabtu terhadap M/T Kiku, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Panama yang sedang dalam perjalanan menuju Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA).
Iran menyatakan telah melakukan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain. Mereka menyasar markas Armada Kelima AS di Pelabuhan Salman, Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Baik Kuwait maupun Bahrain mengecam serangan-serangan Iran tersebut
Perundingan dengan Qatar
Pengumuman Ghalibaf menyusul berbagai laporan media AS yang menyebutkan bahwa Washington telah menyepakati penghentian serangan dengan Teheran—setelah aksi saling serang sempat mengguncang kesepakatan tersebut—serta rencana kedua belah pihak untuk melanjutkan pembicaraan di Qatar pada Selasa 30 Juni 2026.
Seperti dilaporkan Euronews, Iran membantah klaim tersebut. Hal ini kemudian memicu pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa pertemuan itu akan tetap berlangsung, bertolak belakang dengan pernyataan Teheran.
Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi sebelumnya menyatakan pada hari ini bahwa meskipun konsultasi terpisah Iran dengan Qatar "berjalan seperti biasa," laporan dari "sejumlah media" mengenai pembicaraan teknis di Doha "belum terkonfirmasi."
Putaran pertama pembicaraan teknis baru akan dilaksanakan setelah semua persyaratan terpenuhi serta tanggal dan lokasinya disepakati oleh semua pihak, ujar Gharibabadi.
"Konsultasi mengenai masalah ini terus berlangsung melalui negara-negara perantara," tutur dia.
Trump memberikan tanggapan beberapa jam kemudian melalui platform Truth Social miliknya, dengan menyatakan—menggunakan huruf kapital seluruhnya—bahwa "Iran telah meminta pertemuan" dan pertemuan itu "akan berlangsung besok di Doha."































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5160529/original/036403800_1741831526-hasan-almasi-_X2UAmIcpko-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518326/original/022972500_1772505463-bantuan_bibit_ayam_-klaim_link_pendaftaran.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400005/original/008170900_1681813298-20230418-Zakat-Fitrah-Herman-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523086/original/018748500_1772788951-cpns_imigrasi.jpg)



