Neraca Perdagangan Defisit, Apa Dampak ke Perbankan?

6 hours ago 4

TEMPO.CO, Jakarta - TIM ekonom Bank Rakyat Indonesia atau Office of Chief Economist Group BRI menilai defisit necara perdagangan menimbulkan sejumlah implikasi bagi sektor perbankan. Pada Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit untuk pertama kalinya sejak April 2020, yaitu sebesar US$ 1,61 miliar.

Dalam hasil risetnya, tim ekonom BRI menyatakan defisit neraca perdagangan berpotensi memperbesar tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah karena berkurangnya pasokan devisa dari aktivitas perdagangan. “Kondisi ini meningkatkan kebutuhan lindung nilai bagi debitur importir, sehingga membuka peluang ekspansi layanan hedging,” kata mereka dalam laporan BRI Regular Economic Update, dikutip Sabtu, 4 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tim ekonom BRI menyoroti kenaikan porsi Cina sebagai mitra ekspor nonmigas utama, di tengah penurunan porsi Amerika Serikat, India, dan Malaysia. Sedangkan dari segi impor, Cina tetap menjadi sumber utama dengan porsi mencapai 42 persen dari total impor nonmigas. Melonjaknya konsentrasi perdagangan dengan Cina, menurut tim ekonom BRI, berpotensi meningkatkan sensitivitas debitur terhadap perlambatan ekonomi maupun gangguan rantai pasok dari negara tersebut, sehingga perlu dicermati dari sudut pandang pengelolaan risiko portofolio kredit.

Sementara itu, kredit investasi diprediksi tumbuh lebih moderat, seiring melambatnya impor barang modal. “Meski impor bahan baku atau penolong tetap tumbuh kuat, prospek permintaan kredit modal kerja ke depan tetap tertahan, seiring dengan PMI manufaktur Indonesia yang turun ke zona kontraksi,” ucap tim ekonom BRI.

Meski demikian, tim ekonom BRI memproyeksikan kinerja neraca perdagangan berpotensi membaik ke depan. Sejumlah faktor yang bisa mendorong kinerja neraca perdagangan adalah membaiknya aktivitas manufaktur di beberapa negara tujuan ekspor utama, impor bahan baku yang berpotensi tertahan akibat melemahnya aktivitas manufaktur Indonesia, serta kenaikan harga batu bara dan minyak sawit mentah atau CPO.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan defisit neraca perdagangan pada Mei disebabkan oleh defisit pada komoditas migas. “Defisitnya sebesar US$ 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah,” ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers pada Rabu, 1 Juli 2026.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |