PEMERINTAH Kota Yogyakarta membentuk tim khusus menanggulangi dampak psikologis maupun fisik yang dialami oleh para korban kekerasan di tempat penitipan anak atau Daycare Little Aresha.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menuturkan pembentukan tim khusus di antaranya melibatkan dokter spesialis dan sub-spesialis tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Sardjito Yogyakarta.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Penanganan korban memerlukan keahlian spesifik yang tidak dimiliki oleh semua dokter umum," kata Hasto, Kamis, 30 April 2026.
Dalam tim khusus ini, setidaknya terdapat delapan dokter ahli tumbuh kembang yang bertugas memastikan proses pemulihan berjalan komprehensif.
Pemkot Yogyakarta juga mengerahkan psikolog profesional untuk pendampingan para korban.
"Sebanyak 104 anak yang terdata mendapatkan pendampingan psikolog, dengan rasio satu psikolog menangani empat hingga lima anak," kata Hasto.
Keterlibatan para pakar itu diharapkan mampu mendeteksi potensi dampak jangka panjang dari kekerasan sedini mungkin.
Hasto pun merespon terkait adanya informasi soal dugaan adanya penggunaan obat tidur atau zat tertentu seperti CTM yang diberikan kepada anak-anak korban daycare itu.
Hasto yang juga dokter kandungan itu mengakui pembuktian penggunaan CTM secara medis cukup sulit karena obat ini memiliki durasi kerja yang singkat di dalam tubuh.
Ia menjelaskan bahwa jejak biologis obat pada feses maupun urine akan sangat sulit dilacak apabila pemeriksaan dilakukan lebih dari delapan jam setelah konsumsi.
Oleh karena itu, alternatif deteksi melalui psikolog menjadi langkah yang tengah ditempuh untuk mencari tanda-tanda adiksi atau perilaku yang mengindikasikan paparan zat kimia.
“Pendekatan lain melacak penggunaan obat itu diantaranya bisa melalui psikolog, apakah anak ini ada tanda-tanda misalkan dia tergantung dengan obat tertentu atau adiksi itu, karena pendekatan biologis tidak mudah,” ujarnya.
Namun, Hasto menyatakan pihaknya siap untuk memfasilitasi pemeriksaan dan skrining medis menyeluruh pada para korban jika diperlukan untuk penyelidikan kepolisian.
Adapun Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menuturkan, pihaknya memerintahkan penutupan sementara temuan daycare tanpa izin resmi setelah kasus Little Aresha terkuak.
Sultan juga menginstruksikan kepala daerah se DIY membuat surat edaran soal pengoperasian daycare, yang salah satu isinya mewajibkan dilengkapi dengan fasilitas kamera pengawas atau CCTV.
“Dalam syaray prosedur yang dibuat misalnya sebelumnya tidak mencantumkan CCTV, sekarang perlu ada CCTV, ” kata Sultan.
Sultan juga menekankan bahwa penggunaan CCTV haruslah transparan dan jika perlu dapat diakses publik sekitar daycare sehingga pengawasan efektif.




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417338/original/087225200_1763529762-Buka_Puasa.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153924/original/010138200_1741324616-1741320553002_ucapan-selamat-puasa-marhaban-ya-ramadhan.jpg)


