PLTS Atap dan Power Wheeling untuk Cegah Krisis Listrik

3 hours ago 4

YAYASAN Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia atau SUSTAIN menilai pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa menjadi bukti rapuhnya sistem kelistrikan nasional yang bergantung pada batu bara. Menurut organisasi tersebut, gangguan pasokan batu bara berpotensi terus mengancam ketahanan energi nasional apabila ketergantungan terhadap sumber energi fosil tidak segera dikurangi.

Direktur Eksekutif SUSTAIN, Tata Mustasya, mengatakan kebutuhan batu bara untuk pasar domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) saat ini telah mencapai sekitar 220 juta metrik ton. Angka tersebut sangat besar dan berpotensi menimbulkan persoalan pasokan, terutama ketika selisih antara harga DMO dan harga pasar global semakin lebar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tata menilai Indonesia akan kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut meskipun merupakan negara pengekspor batu bara. “Akibatnya, kekurangan pasokan batu bara akan terus menghantui Indonesia dan mengancam ketahanan energi,” katanya melalui keterangan tertulis, Senin, 22 Juni 2026.

Menurut dia, perbaikan gangguan teknis pembangkit saja tidak cukup untuk menyelesaikan akar persoalan. Berdasarkan hasil kajian terbaru yang tertuang dalam SUSTAIN Brief Vol. 4: Unlocking Solar Energy Demand: Peran Strategis PLTS Atap dan Power Wheeling dalam Mencapai Target 100 GW Energi Surya, organisasi tersebut menawarkan diversifikasi energi berbasis tenaga surya sebagai solusi jangka panjang.

Tata mengatakan permintaan listrik dari sektor rumah tangga dan industri dapat menjadi pendorong percepatan pengembangan energi surya melalui pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan penerapan skema power wheeling. Dalam skenario akseleratif yang dihitung SUSTAIN, tambahan kapasitas energi surya berpotensi mencapai sekitar 11,4 gigawatt peak (GWp) dalam waktu relatif singkat.

“Tambahan kapasitas tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap target pembangunan PLTS nasional sebesar 17 GW dalam tiga tahun tanpa semakin membebani keuangan negara,” ujarnya.

Dua Solusi Utama

SUSTAIN mengusulkan dua langkah utama untuk mencegah terulangnya pemadaman listrik berskala luas.

Pertama, memperluas penggunaan PLTS atap untuk mengurangi ketergantungan pada sistem kelistrikan terpusat. Menurut Tata, sistem kelistrikan yang terlalu terpusat rentan mengalami gangguan ketika terjadi masalah pada pembangkit atau jaringan utama.

Melalui dukungan regulasi dan insentif bagi sektor industri, komersial, hingga rumah tangga, masyarakat dapat memproduksi listrik secara mandiri. Dengan demikian, Tata melanjutkan, ketika jaringan utama mengalami gangguan, sebagian kebutuhan listrik tetap dapat dipenuhi dari PLTS atap yang terpasang di lokasi pengguna.

Kedua, SUSTAIN mendesak pemerintah menerapkan skema power wheeling atau pemanfaatan bersama jaringan transmisi PLN oleh produsen listrik swasta berbasis energi terbarukan.

Menurut Tata, saat ini banyak pelaku industri yang ingin menggunakan energi bersih namun terkendala keterbatasan pasokan listrik hijau. Melalui power wheeling, produsen energi terbarukan dapat menyalurkan listrik langsung kepada konsumen dengan memanfaatkan jaringan transmisi yang sudah tersedia.

Ia menilai ketergantungan pada sejumlah pembangkit besar berbasis fosil membuat sistem kelistrikan rentan terganggu ketika terjadi masalah pada pasokan energi primer maupun jaringan transmisi.

“Pulau Jawa merupakan pusat 60-70 persen aktivitas ekonomi Indonesia sehingga membutuhkan diversifikasi energi yang lebih kuat melalui energi terbarukan,” ujarnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |