Ternyata Perasaan Sensitif pada Perempuan Bisa jadi Kekuatan, Ini Penjelasan Ahli

6 hours ago 3

CANTIKA.COMJakarta - Masih sering terdengar kalimat seperti “perempuan itu terlalu sensitif”, “dikit-dikit nangis”, atau “kebanyakan perasaan”. Label tersebut seolah menjadi stigma yang terus melekat, membuat banyak perempuan merasa harus menahan emosi agar tidak dianggap berlebihan. Padahal, di balik sensitivitas itu, ada proses biologis dan psikologis yang jauh lebih kompleks.

Psikolog Indah Sundari menjelaskan bahwa perasaan sensitif perempuan tidak bisa dipandang hanya dari sisi perilaku luar. Tubuh manusia terdiri dari aspek fisik dan mental yang saling berkaitan. Artinya, sensitivitas bukan sekadar reaksi emosional, tetapi juga bagian dari mekanisme alami tubuh dalam merespons berbagai situasi.

"Secara biologis, perempuan memiliki hormon seperti estrogen dan progesteron yang memengaruhi cara mereka merespons emosi. Hal ini membuat ekspresi perasaan cenderung lebih terlihat dibandingkan laki-laki. Selain itu, dari sisi neurologis, perempuan lebih sering memproses emosi secara langsung melalui perasaan sebelum mengambil keputusan. Tidak heran jika dalam situasi tertentu, respons emosional muncul lebih dulu sebelum logika menyusul," papar Indah dalam acara peluncuran SOS: Strength of Sensitivity yang digelar AVEENO, Jumat, 17 April 2026.

Psikolog Indah Sundari di acara peluncuran SOS: Strength of Sensitivity yang digelar AVEENO, Jumat, 17 April 2026/Foto: Doc. AVEENO

Belum lagi siklus biologis perempuan, mulai dari fase pramenstruasi, menstruasi, hingga pascamenstruasi yang turut memengaruhi mood. Dalam satu bulan, perubahan hormon ini bisa membuat emosi naik turun secara signifikan. Kondisi tersebut bukan sesuatu yang dibuat-buat, melainkan bagian alami dari tubuh perempuan.

Namun, sensitivitas sering kali disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, menurut Indah, justru sebaliknya sensitivitas adalah sinyal. Ketika seseorang merasa mudah lelah secara emosional, tiba-tiba ingin menangis tanpa sebab jelas, atau merasa cemas, itu bisa menjadi tanda bahwa energi mental sedang terkuras.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Sensitivitas yang tidak dipahami atau divalidasi dapat memicu berbagai kondisi, seperti kelelahan emosional, kecemasan, hingga penurunan rasa percaya diri. Bahkan, dalam beberapa kasus, perempuan bisa mengalami gejala fisik seperti sesak napas, tangan gemetar, atau sulit fokus semua berawal dari tekanan emosional yang tidak tersalurkan.

"Stigma dari lingkungan sering memperparah keadaan. Ketika perasaan dianggap “lebay” atau “tidak penting”, banyak perempuan akhirnya memilih memendam emosi. Lama-kelamaan, hal ini dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, bahkan memicu citra tubuh negatif dan rasa tidak berharga," ucap Indah.

Padahal, emosi bukan untuk disimpan, melainkan untuk dikenali dan diekspresikan dengan sehat. Menangis, misalnya, adalah salah satu bentuk ekspresi emosional paling dasar yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa seseorang sedang merespons sesuatu secara manusiawi.

Indah menekankan pentingnya memiliki ruang aman atau safe space untuk berbagi. Entah itu dengan teman dekat, pasangan, keluarga, atau bahkan tenaga profesional. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja justru menjadi langkah awal untuk bangkit, bukan sebaliknya.

Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Mereka lebih mudah berempati, lebih peka terhadap lingkungan sosial, dan mampu membangun hubungan yang hangat dengan orang lain. Ini adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Indah menegaskan jika sensitivitas bukan sesuatu yang harus ditakuti atau ditekan, tetapi cara tubuh dan pikiran memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperhatikan. Mungkin saatnya beristirahat, menurunkan ekspektasi, atau sekadar memberi ruang untuk diri sendiri.

Alih-alih menganggapnya sebagai beban, sensitivitas justru bisa menjadi kekuatan terbesar perempuan. Karena dari situlah lahir empati, kepekaan, dan kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan lebih dalam.

Pilihan Editor: Krakow Jadi Destinasi Terbaik di Eropa untuk Solo Traveler Perempuan

ECKA PRAMITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |