Unhas Ungkap Biaya Bangun Dapur MBG Mencapai Rp 2 Miliar

5 hours ago 3

REKTOR Universitas Hasanuddin Jamaluddin Jompa membeberkan jumlah biaya yang dikeluarkan kampusnya untuk membangun dapur makan bergizi gratis. Jamaluddin menyebutkan untuk satu dapur MBG menghabiskan biaya sekitar Rp 2 miliar.

Menurut Jamalauddin, biaya itu wajar dikeluarkan untuk satu dapur MBG dengan fasilitas dapur yang dimiliki. Dia menjelaskan, pembangunan dapur MBG di lingkungan kampus bukan sekadar mendukung program pemerintah, tetapi juga menjadi investasi akademik jangka panjang bagi perguruan tinggi.

“Bagi kami ini bukan hanya dapur, tapi juga laboratorium hidup untuk pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat,” kata Jamaluddin pada Kamis, 30 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Jamaluddin mengatakan biaya Rp 2 miliar itu hanya untuk membeli perlengkapan atau alat dapur saja. Sebab, Unhas sudah memiliki bangunan jadi di dalam lingkungan kampus. Dalam proses pendirian dapur itu, Unhas menggunakan anggaran yayasan dan bekerja sama dengan perusahaan PT Krakatau Steel.

Perusahaan tersebut berperan dalam menyediakan infrastruktur dapur hingga peralatan seperti kompor, sistem ventilasi, hingga perlengkapan masak yang memenuhi standar keamanan pangan. “Kalau kita bangun sendiri, akan lama dan kompleks. Dengan standar yang sudah dimiliki mitra, prosesnya bisa lebih cepat, sekitar empat sampai lima bulan sudah selesai,” ujarnya.

Jamaluddin menjelaskan, kampus yang ingin membangun dapur MBG harus mengikuti prosedur dari Badan Gizi Nasional, mulai dari kelengkapan administrasi hingga studi kelayakan sederhana.

Selain itu, kampus juga wajib memiliki yayasan sebagai badan pengelola operasional dapur. Setelah dokumen diajukan, tim dari BGN akan melakukan verifikasi langsung di lapangan sebelum memberikan persetujuan. “Semua harus memenuhi standar, mulai dari lokasi, desain dapur, hingga kesiapan operasional,” katanya.

Berbeda dengan dapur pada umumnya, SPPG di Unhas dirancang sebagai fasilitas multifungsi. Selain memproduksi makanan bergizi bagi siswa, dapur ini juga dimanfaatkan sebagai sarana praktik mahasiswa.

Mahasiswa dari program studi gizi, kesehatan lingkungan, hingga teknik dilibatkan untuk mengembangkan inovasi, mulai dari sistem sanitasi hingga teknologi dapur. “Ini jadi tempat belajar langsung. Mahasiswa tidak hanya teori, tapi bisa melihat proses produksi makanan bergizi secara nyata,” kata Jamaluddin.

Unhas juga mengintegrasikan dapur MBG dengan ekosistem produksi internal kampus. Salah satunya melalui pemanfaatan hasil peternakan kampus yang mampu memproduksi puluhan ribu ayam per bulan. Dengan skema ini, menurut Jamaluddin, dapur MBG sekaligus menjadi offtaker bagi produk kampus, sehingga menciptakan rantai pasok yang terintegrasi. “Produk kampus langsung terserap. Ini memperkuat ekosistem sekaligus jadi bahan pembelajaran,” ujarnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |