Air Keran Bisa Diminum? Upaya PAM JAYA Mendorong Water Purifier di Jakarta

5 hours ago 1

INFO TEMPO - Di sebuah sekolah negeri di Jakarta, antrean siswa di depan dispenser air minum kini menjadi pemandangan baru. Mereka tak lagi membawa botol air kemasan dari rumah. Cukup membuka keran yang terhubung dengan alat pemurni air atau water purifier, lalu mengisi ulang botol minum masing-masing.

Bagi PAM JAYA, perubahan kecil itu adalah bagian dari pergeseran yang lebih besar, yaitu mengubah cara warga Jakarta mengakses air minum.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Selama ini, air perpipaan di Jakarta lebih dikenal sebagai air bersih, cukup untuk mandi dan mencuci, tetapi belum sepenuhnya dipercaya untuk diminum langsung. Persepsi itu tidak muncul tanpa alasan. Sebab kualitas air, kondisi pipa, hingga kebiasaan masyarakat membentuk jarak antara air keran dan air minum.

Melalui pengembangan dan penerapan water purifier, perusahaan daerah ini mendorong satu pendekatan baru. Air perpipaan yang diolah kembali di titik konsumsi agar layak diminum. Teknologi ini menjadi lapisan tambahan setelah air melewati instalasi pengolahan utama.

Siswa SMP Negeri 115, Jakarta, sedang mengantre mengisi botol isi ulang di water purifier yang disediakan PAM Jaya, Senin, 27 April 2026. Dok. PAM JAYA

“Air perpipaan pada dasarnya sudah memenuhi standar air bersih. Dengan pemurnian lanjutan, kualitasnya dapat ditingkatkan hingga layak minum,” kata Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, belum lama ini.

Water purifier yang digunakan bekerja dengan sistem penyaringan berlapis. Teknologi seperti reverse osmosis dan ultraviolet dimanfaatkan untuk menghilangkan partikel, zat terlarut, hingga mikroorganisme yang berpotensi membahayakan kesehatan. Hasil akhirnya adalah air dengan kualitas yang lebih tinggi serta aman untuk dikonsumsi.

PAM JAYA juga memastikan tingkat kemurnian air minum tersebut melalui uji laboratorium yang dilakukan sebelum air dapat diminum langsung.

Namun, bagi PAM JAYA, teknologi ini bukan semata soal kualitas air. Di lingkungan internal perusahaan, penggunaan water purifier disebut mampu mengurangi ketergantungan pada air minum dalam kemasan secara signifikan. Penghematan biaya operasional menjadi salah satu dampak yang dirasakan, sekaligus mengurangi timbunan sampah plastik sekali pakai.

Pendekatan serupa kemudian diperluas ke ruang publik. Sekolah menjadi salah satu titik awal. Dengan menyediakan akses air minum langsung, kebutuhan siswa terhadap air kemasan dapat ditekan. Di sisi lain, kebiasaan membawa botol isi ulang mulai terbentuk.

Langkah ini juga menyasar kantor pemerintahan dan fasilitas umum lainnya. Gagasan yang dibawa cukup sederhana. Jika air minum dapat diakses langsung dari keran, maka rantai distribusi air kemasan, yang panjang dan berbiaya, dapat dipangkas.

Di kota sebesar Jakarta, efisiensi semacam itu memiliki dampak yang tidak kecil. Meski demikian, tantangan terbesar justru bukan pada teknologi, melainkan pada kepercayaan publik. Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa mengandalkan air galon atau air kemasan untuk kebutuhan minum. Mengubah kebiasaan tersebut membutuhkan waktu, sekaligus bukti konsistensi kualitas.

PAM JAYA tampaknya menyadari hal itu. Alih-alih langsung mendorong konsumsi luas, pendekatan dilakukan secara bertahap, yaitu dimulai dari lingkungan yang lebih terkontrol seperti kantor dan sekolah, sebelum meluas ke ruang publik.

Di sisi lain, pengembangan water purifier juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang lebih besar. Kebutuhan air Jakarta yang terus meningkat, sementara tekanan terhadap sumber daya air, terutama air tanah, kian besar.

Dengan menyediakan alternatif air minum berbasis perpipaan, PAM JAYA tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga mencoba mengurangi ketergantungan pada sumber air lain yang kurang berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini menjadi bagian dari transformasi peran PAM JAYA. Yang semula berperan sebagai penyedia air bersih, menjadi penyedia air minum yang lebih terintegrasi.

Tentu saja, jalan menuju perubahan itu masih panjang. Infrastruktur, distribusi, hingga kualitas layanan tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai. Namun, melalui water purifier, PAM JAYA mulai memperkenalkan kemungkinan baru, bahwa air minum di Jakarta tidak selalu harus datang dalam kemasan. Bisa jadi, di masa depan, air minum itu pada akhirnya cukup mengalir dari keran.(*)

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |