GALERI ArtSociates di Bandung menghelat pameran karya seniman Asia Tenggara berjudul Akal-akalan mulai 12 Juni hingga 24 Juli 2026. Para seniman dari Indonesia dan negara tetangga berkreasi membuat karya dengan beragam ide dan media dalam bentuk instalasi, video, kerajinan, kinetik, dan olahan suara.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Akal-akalan yang merujuk pada beberapa arti seperti kelicikan, tipu daya, dan kecerdasan menyiasati sesuatu, pada pameran ini dikaitkan dengan solusi material praktis yang kreatif untuk menghadapi situasi dan tantangan keseharian. “Para seniman berspekulasi mengenai potensi radikal dari praktik budaya seperti akal-akalan untuk mengguncang dan menunjukkan cara-cara alternatif dalam membayangkan hubungan kita dengan teknologi,” kata tim kurator dalam keterangannya, Sabtu 13 Juni 2026.
Dikuratori oleh Gunalan Nadarajan dan Roopesh Sitharan, seniman peserta dari Indonesia yaitu Abshar Plastiza, Jompet Kuswidananto, dan Mira Rizki Kurnia. Kemudian Hoo Fan Chon, Fendi Mazalan, dan Haris Abadi dari Malaysia. Sementara dari Singapura yaitu, Margaret Tan, Tisya Wong, dan Tang Jie. Seniman lainnya Corrine de San Jose dari Filipina, Giang Nguyen Hoang asal Vietnam, serta Witaya Junma dari Thailand.
Abshar Plastiza dengan karya instalasi berjudul Stirena menggunakan kolom untuk membuat lingkungan mikro terkontrol bagi pertumbuhan organisme dari sampel air Waduk Saguling yang berkembang di ruang galeri. Interaksi mikroorganisme dengan potongan styrofoam bekas dan mikroplastik secara dinamis ditangkap oleh sensor yang kemudian dikonversi ke audio visual. Karya itu menyajikan bagaimana mikroorganisme bertahan hidup dan berkembang di lingkungan yang tercemar.
Sementara Corrine de San Jose membawa suara jangkrik dari habitat alaminya di alam dan tempat pembiakan untuk dimakan lewat seratusan unit radio transistor dengan judul 59:59. Ada pun Jompet Kuswidananto menghadirkan karya instalasi berjudul Don’t Let the Song Play yang menggali sejarah tersembunyi dari objek, material, dan peristiwa untuk mengungkap jejak-jejaknya yang samar. Sedangkan Margaret Tan dan Frank Liaw lewat karya AI Race berupaya mengungkap keterlibatan algoritmik dari sistem pengenalan wajah berbasis akal imitasi yang banyak digunakan oleh pemerintah dan perusahaan.
Fendi Mazalan lewat karya Negaraku mengalihkan hasil cetak mesin pembuat obyek tiga dimensi menjadi lagu kebangsaan negaranya. Sementara, Giang Hoang Nguyen menampilkan karya video berjudul Human Learning yang menggoyahkan keingin robot agar bisa meniru perilaku manusia. Sedangkan Yang Jie menyuguhkan seperangkat alat minum seperti cangkir dan teko yang pecah lalu dibentuk kembali dan menghidupkannya dengan perangkat mekanik dengan judul Second Live.
ANWAR SISWADI




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5263253/original/068977400_1750812433-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__10_.jpg)














