Cerita 202 Kali Digigit Ular Berbisa dan Kini Menjadi Kebal

2 hours ago 3

SETIAP tahunnya, gigitan ular berbisa menyebabkan 80-100 ribu kematian di dunia, dan sekitar 300 ribu lainnya menjadi cacat. Sehingga bisa dimaklumi kalau sepertiga orang dewasa di muka bumi ini memiliki ophidiophobia atau ketakutan yang berlebih terhadap jenis satwa itu.

Tapi ketakutan itu tak berlaku bagi Tim Friede. Warga Wisconsin, Amerika Serikat, ini telah selama hampir dua dekade dalam hidupnya membiarkan dirinya digigit ular. Terhitung 202 jenis ular berbisa mematikan telah menggigitnya untuk kepentingan eksperimen membangun kekebalan tubuh.

Hasilnya, kini Friede imun terhadap beragam bisa ular mematikan, termasuk dari jenis ular black mamba, king cobra, dan ular harimau. Jurnal Cell edisi Juni 2025 lalu mempublikasikan hasil studi yang memaparkan temuan antiracun dalam antibodi yang berkembang dalam darah Friede.

Ketua tim penelitian itu, yang juga CEO Centivax, Jacob Glanville, menyatakan Friede potensial membuka jalan menciptakan antibodi penawar racun ular yang luas. Glanville mengutip data WHO bahwa ada lebih dari 600 spesies ular berbisa yang telah teridentifikasi hingga saat ini. "Menciptakan antibisa-nya satu per satu tentu butuh waktu dan biaya," katanya dilansir Science News.

Dari pertimbangan dan kebutuhan itu, Glanville mengaku mengontak Friede. Dia menyampaikan kalau Centivax tertarik mendapatkan dan meneliti sampel darahnya. Gayung bersambut, Friede menyambut antusias. "Saya sudah menunggu lama untuk permintaan ini," katanya.

Menyebut dirinya sebagai ahli racun otodidak, Friede sendiri kini adalah Direktur Herpetologi di Centivax dan telah pensiun dari relawan gigitan ular. Menurutnya, masa selama hampir 20 tahun digigit ular adalah petualangan saintifik baginya. "Ini adalah sebuah metode penelitian," katanya dikutip dari Popular Mechanics, 1 April 2026.

Imun tubuh Friede terhadap bisa ular tak tercipta begitu saja. Dalam metodenya itu, Friede pertama-tama memerah bisa ular dan menyuntikkan ke dalam tubuhnya. Dia melakukannya berkala seiring dengan dosis yang ditingkatkan dari waktu ke waktu. Friede bertujuan memberi waktu kepada tubuhnya untuk mengembangkan antibodi antiracun yang bisa melawan gigitan ular.

Kemudian, ketika imun tubuhnya dinilai sudah cukup, Friede mengujinya dengan membuat ular menggigitnya secara langsung. Proses yang dijalani diaku tak mudah. Dia mencontohkan ketika eksperimen gigitan kembar, dari ular kobra Mesir disusul ular kobra monokel satu jam berselang. Friede langsung diterbangkan ke rumah sakit usai eksperimen itu dan sempat koma selama empat hari.

Dia mengungkapkan bahwa setiap gigitan ular memberi rasa terbakar dan sangat menyakitkan. "Apakah yang saya lakukan ini salah? Ya. Apakah ini bodoh? Ya juga," katanya.

Tapi kini, apa yang dilakukannya itu dianggap bisa menyelamatkan jutaan korban gigitan ular di masa depan. Dengan menganalisis antibodi antiracun Friede yang unik itu, tim peneliti di Centivax mengembangkan sebuah ramuan antibisa yang bisa menghilangkan efek mematikan dari beberapa jenis ular paling berbahaya di dunia. 

Centivax menciptakan ramuan dengan cara mengombinasikan dua antibodi Friede (LNX-D09 dan SNX-B03) dengan obat pengeblok racun yang disebut varespladib. Saat diuji pada tikus, obat mampu melindungi hewan tersebut secara penuh dari 13 jenis ular, dan melindungi sebagian dari enam jenis yang lain. 

Total 19 jenis itu berasal dari Kategori 1 dan 2 ular menurut WHO. Kategori 1 adalah spesies ular berbisa yang tersebar luas, mudah ditemui, dan menyebabkan angka kesakitan, kecacatan, atau kematian yang tinggi. 

Kategori 2 juga sangat berbisa dan mampu menyebabkan kematian atau kecacatan, namun kasusnya lebih jarang ditemui dibandingkan Kategori 1 karena habitatnya cenderung di daerah terpencil, hutan, atau jauh dari permukiman padat manusia.

Tim peneliti akan melanjutkan menguji pengobatan antibisa yang baru ini di Australia, yakni pada hewan anjing yang mengalami luka gigitan ular. Harapannya, mereka bisa menyediakan pengobatan serupa untuk gigitan ular jenis viper yang dikenal sangat berbisa.

"Kami sudah memulainya, menyiapkan reagen untuk menjalani proses uji berulang agar bisa diketahui berapa jumlah minimum ramuan yang dibutuhkan untuk dapat memberikan efek pelindungan luas melawan bisa ular viper," kata Peter Kwong, virolog dari Departemen Biofisika Molekuler dan Biokimia, Columbia University, juga tergabung dalam tim peneliti.

Glanville menambahkan, masih ada miliaran antibodi dalam darah Friede yang bisa diteliti. "Dia telah melakukan sesuatu yang luar biasa, dan kami kira akan bisa mengubah dunia medis," katanya. Namun dia juga menekankan tak perlu ada orang lain melakukan serupa Friede. "Tidak perlu ada yang melakukannya lagi," katanya.

Friede dalam usianya yang ke-57--saat Science News memberitakannya tahun lalu--dilaporkan dalam kondisi sehat. Secara berkala dia memeriksakan kondisi hati dan ginjal untuk memastikan riwayat eksperimen dengan bisa ular tak merusak kedua organnya itu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |