Cerita Prilly Latuconsina Perihal Tantangan Film Indonesia di Mata Global

1 hour ago 3

CANTIKA.COM, Jakarta - Industri perfilman Indonesia perlahan tapi pasti menunjukkan taringnya di panggung global. Bukan lagi sekadar penonton di rumah sendiri, kini karya sineas Tanah Air mulai dilirik, diapresiasi, bahkan dinantikan oleh pasar internasional. Hal ini juga dirasakan langsung oleh aktris sekaligus produser muda, Prilly Latuconsina, yang melihat perkembangan signifikan dalam satu dekade terakhir.

Menurut Prilly, posisi film Indonesia saat ini sudah jauh lebih maju dibandingkan 10 tahun lalu. Perubahan ini terlihat jelas dari semakin banyaknya kolaborasi lintas negara, baik dengan rumah produksi internasional maupun sutradara asing. Tidak hanya itu, kualitas produksi yang semakin matang membuat film Indonesia kini mampu bersaing di berbagai festival film bergengsi dunia.

Salah satu indikator kemajuan tersebut adalah semakin banyaknya film Indonesia yang berkeliling festival internasional. Nama-nama seperti Joko Anwar dan Kamila Andini menjadi contoh nyata bagaimana sineas Indonesia mampu menembus pasar global. Karya mereka tidak hanya diputar di festival, tetapi juga mulai didistribusikan ke berbagai negara, membuka jalan bagi film Indonesia untuk dikenal lebih luas.

Bahkan, kehadiran Kamila Andini sebagai sutradara perempuan Indonesia di Festival Film Cannes menjadi bukti bahwa dunia mulai memberi ruang dan perhatian lebih terhadap karya-karya dari Indonesia. Hal ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi generasi sineas muda untuk terus berkarya.

Namun, di balik kemajuan tersebut, Prilly juga menyoroti satu tantangan besar yang masih dihadapi industri film Indonesia: distribusi global. Menurutnya, saat ini akses film Indonesia masih banyak bergantung pada jalur festival. Padahal, untuk benar-benar bersaing di level dunia, film Indonesia perlu hadir secara luas di bioskop internasional, seperti halnya film Hollywood, Korea Selatan, hingga India yang sudah memiliki jaringan distribusi global yang kuat.

“PR-nya sekarang adalah bagaimana kita bisa memperluas akses distribusi, bukan hanya di festival, tapi juga di layar bioskop seluruh dunia,” ucap Prilly melalui pesan suara kepada Cantika, Minggu, 17 Mei 2026. 

Pengalaman Prilly menghadiri Festival Film Cannes 2026 juga membuka perspektif baru tentang pentingnya networking di industri film. Ia mengaku senang bisa bertemu langsung dengan pelaku industri global, termasuk aktris internasional seperti Léa Seydoux dan Cara Delevingne. Momen ini menjadi bukti bahwa kehadiran di festival bukan hanya soal memamerkan karya, tetapi juga membangun koneksi yang bisa membuka peluang kolaborasi di masa depan.

Dari pendapat Prilly di atas menunjukkan optimisme terhadap masa depan film Indonesia semakin terasa. Dengan kualitas yang terus meningkat, talenta yang semakin berani bereksperimen, serta peluang kolaborasi global yang terbuka lebar, bukan tidak mungkin film Indonesia akan semakin sering hadir di layar dunia, bukan hanya sebagai “tamu”, tetapi sebagai pemain utama.

Sebagai informasi, pemeran dalam film Danur ini hadir untuk pertama kalinya di Festival Film Cannes yang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Prilly mengaku masih sulit mempercayai momen yang ia alami.

Bukan tanpa alasan, kehadirannya kali ini juga membawa misi besar: memperkenalkan karya empat film pendek hasil kolaborasi sineas Indonesia dan Asia Tenggara ke panggung global.

ECKA PRAMITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |