Dampak Ekonomi saat Pekerja Terkena Demam Berdarah Dengue

4 hours ago 1

DEMAM berdarah dengue masih menjadi tantangan di Indonesia. "Kita menyumbang 17 persen kematian dengue secara global," kata Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Kementrian Kesehatan Fadjar Silalahi pada diskusi bertajuk SIAP Lawan Dengue “Bersama Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan” pada 23 April 2026 di Jakarta.

Berdasarkan laporan sepanjang 2025, terdapat 121 ribu kasus dengan 673 kematian di Indonesia. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam fatalitas akibat virus yang dibawa nyamuk Aedes aegypti tersebut, tepat di bawah Brasil.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Situasi semakin parah karena penderita kini didominasi oleh kelompok usia produktif. Fadjar mencatat kasus terbesar berada pada rentang usia 15 hingga 44 tahun. Di titik inilah, tempat kerja menjadi ruang bagi usia produktif terkena virus dengue. "Dengue tidak memandang usia, tapi kehilangan produktivitas pada usia kerja setara dengan hilangnya sepuluh tahun kehidupan sehat masyarakat kita," kata Fadjar.

Beban Ekonomi di Balik Dengue

Bagi dunia usaha, dengue bukan sekadar urusan izin sakit karyawan. Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki), Agustina Puspitasari membedah dampak finansial yang kerap luput dari pembukuan perusahaan. Selain absensi (absenteeism), muncul fenomena presenteeism, artinya karyawan tetap bekerja namun dalam kondisi tidak bugar, yang akhirnya justru merugikam performa bisnis.

Hitungannya bahkan tidak murah. Agustina memperkirakan perusahaan dengan skala 4 ribu karyawan bisa merogoh kocek Rp 300 juta hingga Rp 500 juta per tahun hanya untuk menangani kasus dengue. "Satu kasus rata-rata menghabiskan 6 juta untuk biaya medis dan non-medis. Itu setara dua kali lipat upah minimum nasional," kata Agustina.

Dia juga memperingatkan bahwa siklus wabah kini kian memendek, dari sepuluh tahunan menjadi hanya tiga tahunan, yang berarti ancaman ini akan semakin sering ditemui di lingkungan kerja.

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia melihat celah ini sebagai "titik emas intervensi". Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Maika Nurhayati menambahkan bahwa kesehatan pekerja adalah investasi, bukan beban operasional. "Gigitan nyamuk terjadi di jam aktif kerja. Begitu mereka pulang, mereka membawa virus ke keluarga, atau sebaliknya. Tempat kerja sangat strategis untuk memutus rantai penularan ini," kata Maika.

Pemerintah melalui Kementrian Ketenagakerjaan pun mulai memperketat pengawasan. Direktur Pengujian K3 Kemnaker, M. Yusuf, menegaskan bahwa perlindungan dari bahaya biologis merupakan bagian integral dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerta tahun 1970 hingga Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2025 yang menekankan peran Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).

Dia mendorong perusahaan untuk menjadikan pencegahan dengue sebagai bagian dari tata kelola kelulusan yang berkelanjutan. "Kami mendukung target nol kematian akibat dengue pada 2030. Langkah strategisnya mencakup pengendalian lingkungan melalui gerakan 3M Plus hingga monitoring berkala oleh departemen HSE perusahaan," katanya.

Namun, di atas semua regulasi itu, intervensi medis berupa vaksinasi dianggap sebagai langkah awal pencegahan paling efektif. Agustina menyebutkan bahwa vaksinasi kini menjadi rekomendasi resmi Perdoki, terutama bagi pekerja di sektor berisiko tinggi seperti konstruksi, perkebunan, dan pertanian. "Vaksinasi adalah wujud tanggung jawab sosial sekaligus cara menjaga reputasi dan keberlangsungan usaha," kata dia.

"Senang Ribet di Awal" Ala Raditya Dika

Penulis dan Komedian Raditya Dika setuju dengan kewaspadaan penyakit DBD dengan melakukan proteksi dini. Ia akan memilih untuk menjadi ribet di awal daripada harus tumbang di tengah jadwal tur yang padat. Ia memastikan seluruh anggota keluarganya, termasuk anak-anak, sudah mendapatkan vaksinasi dengue. "Saya cuma takut dua hal: tipes dan DBD. Kalau sudah kena itu, kerjaan pasti batal semua," kata Radit.

Dia juga mengenang pengalamannya terkena tipes tahun lalu yang mengharuskannya dirawat selama tiga hari berkat proteksi vaksinasi sebelumnya. "Kalau nggak vaksin, mungkin bisa sebulan pemulihan. Ruginya lebih besar karena banyak pekerjaan yang harus dibatalkan," katanya 

Bagi Radit, edukasi kesehatan bukan soal menakut-nakuti, melainkan memberikan pemahaman perlindungan diri jangka panjang ke anak-anaknya. Usai mengikuti diskusi sinergi perusahaan ini, ia bahkan mulai mempertimbangkan untuk memfasilitasi vaksinasi bagi tim kerja di bawah naungannya. "Ternyata ada aspek kesehatan yang selama ini banyak yang terlewat. Padahal vaksinasi adalah kunci supaya pekerjaan tetap lancar," kata Radit.

Dengan target Zero Dengue Deaths pada 2030, kolaborasi antara regulasi yang ketat dan kesadaran preventif dan dunia usaha menjadi harga mati. Sebab, di balik angka ekonomi dan grafik produktivitas, ada nyawa pekerja yang harus tetap dijaga agar tetap berdaya saing.

IMANDA ZAHWA 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |