Hadapi Tarif Impor Trump, Bapanas: Ini Waktunya Meningkatkan Produksi Dalam Negeri

17 hours ago 3

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pangan Nasional atau Bapanas menyatakan Indonesia perlu meningkatkan produksi pangan dalam negeri untuk menghadapi pembelakukan tarif timbal balik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penerapan tarif tambahan sebesar 32 persen pada produk-produk Indonesia diperkirakan berdaampak signifikan pada penurunan ekspor ke negeri Paman Sam tersebut.

Dengan adanya pemberlakuan tarif impor Trump tersebut, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menegaskan antisipasi yang akan dilakukan pemerintah terhadap komoditas pangan. Adapun sejumlah komoditas pangan yang dikirim ke AS selama ini meliputi kakao, teh, kopi, minyak kelapa sawit, hingga udang. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Pada saat currency rate tinggi, harga pangan dunia tinggi, kemudian pemberlakuan tarif yang tinggi dari beberapa negara, bukan cuma Donald Trump. Ini waktunya kita meningkatkan produksi dalam negeri," kata Arief pada Rapat Koordinasi dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional Pasca-Idul Fitri 1446 Hijriah secara daring, pada Kamis, 3 April 2025.

Selain meningkatkan produksi dalam negeri, Arief mengatakan pemerintah juga perlu menambah cadangan pangan untuk menjaga kestabilan harga. Tak kalah penting, Arief berujar perlunya pengembangan teknologi untuk memperpanjang usia konsumsi pangan atau shelf life. Hal itu dilakukan supaya menurunkan risiko kerugian akibat penurunan kualitas pangan ketika didistribusikan.  

Pemerintah, kata Arief, masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengembangkan teknologi tersebut. "Misalnya tadi pada saat karkas, live bird harganya rendah, dibeli tetap dengan harga yang bagus, kemudian digunakan airbrush freezer, simpan dalam cold storage, frozen condition," kata Arief merincikan contohnya. 

Contoh cadangan pangan itu, menurut Arief, akan berguna untuk menjadi intervensi ketika harga produk unggas sedang melonjak tinggi, yang biasanya terjadi di wilayah Indonesia bagian timur. "Atau beberapa daerah yang memang memerlukan. Jadi harga bisa tetap stabil," ucapnya. 

Sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor pada Rabu, 2 April 2025 waktu setempat. Ia menerapkan tarif minimal 10 persen terhadap semua produk yang masuk ke AS dari semua negara.

Selain itu, Trump juga menerapkan tarif timbal balik atau reciprocal tariffs yang lebih tinggi sebagai respons balasan terhadap beberapa negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Tarifnya bervariasi, misalnya Indonesia dengan besaran tarif yang diterapkan 32 persen, Cina sebesar 34 persen, dan Uni Eropa 20 persen.

Adapun Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan secara rata-rata tahunan, pangsa pasar ekspor Indonesia ke AS sebesar 10,3 persen. Pangsa pasar tersebut terbesar kedua setelah ekspor Indonesia ke Cina. Penerapan tarif tambahan pada produk-produk asal Indonesia akan berdampak secara langsung dan signifikan pada penurunan ekspor Indonesia ke AS. 

Pelaku ekspor komoditas unggulan—seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan produk pertanian—akan terkena biaya yang tinggi. “Dampaknya adalah melambatnya produksi dan lapangan pekerjaan,” ujar Eisha dalam keterangan tertulis, Kamis, 3 April 2025.

Ervana Trikarinaputri berkontribusi pada berita ini. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |