MENTERIi Luar Negeri Iran pada Ahad 2 Juni 2026 menyatakan bahwa negaranya sedang berkoordinasi dengan Irak. Koordinasi ini untuk membentuk mekanisme khusus guna menyelenggarakan upacara pemakaman bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di tempat-tempat suci Syiah di Irak.
Pernyataan Abbas Araghchi tersebut disampaikan dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Irak, Fuad Hussein. Hal ini diungkapkan saat ia berkunjung ke ibu kota Irak, Baghdad, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai upacara tersebut seperti dilansir Anadolu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebelum memulai pertemuan resmi, Araghchi meletakkan karangan bunga di tugu peringatan untuk menghormati Jenderal Iran Qassem Soleimani dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, yang tewas dalam serangan pesawat nirawak AS di dekat bandara Baghdad pada Januari 2020.
Iran telah mengumumkan rangkaian upacara pemakaman selama enam hari untuk Khamenei pada Juli. Jenazahnya diperkirakan akan dibawa ke kota-kota suci Irak, Najaf dan Karbala, sebelum kembali ke Iran untuk dimakamkan di Mashhad.
Operasi Keamanan Skala Massif
Iran sedang mempersiapkan operasi keamanan berskala belum pernah terjadi sebelumnya untuk pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Seperti dilansir Iran International, hal ini dengan tujuan mencegah terulangnya insiden desak-desakan massa yang mematikan yang mewarnai pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 dan Jenderal Ghasem Soleimani pada 2020.
Lebih dari empat bulan setelah kematian Khamenei, pihak berwenang menyatakan bahwa ia akan dimakamkan pada 9 Juli, setelah rangkaian upacara selama lima hari di seluruh wilayah Iran dan Irak.
Penundaan yang tergolong sangat lama ini, menurut para pejabat, mencerminkan kondisi masa perang dan kekhawatiran keamanan. Hal ini sekaligus menyoroti kompleksitas politik dan logistik dalam prosesi pemakaman pemimpin tertinggi yang menjabat paling lama di Republik Islam tersebut.
Pemakaman ini juga akan menjadi upacara kenegaraan besar pertama di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Menjadikannya ujian penting bagi kemampuan kepemimpinan baru tersebut dalam menunjukkan otoritas dan menjaga ketertiban.
Jenazah akan disemayamkan selama tiga hari di kompleks salat Mosalla, Teheran, sebelum dilakukan prosesi pemakaman melintasi ibu kota.
Jenazah kemudian akan dibawa ke kota-kota suci Syiah, Najaf dan Karbala di Irak, sebelum kembali ke Iran untuk menjalani upacara di Qom dan dimakamkan di Mashhad—tempat kelahiran Khamenei—tepatnya di kompleks makam Imam Reza, Imam kedelapan dalam Islam Syiah.
Pihak berwenang belum mengumumkan siapa yang akan memimpin salat jenazah, yang secara tradisional merupakan salah satu momen paling simbolis dalam upacara tersebut.
Jika Mojtaba Khamenei—yang belum pernah muncul di hadapan publik sejak kematian ayahnya—turut hadir, sejumlah pengamat meyakini ia bisa saja memimpin salat tersebut secara langsung, meskipun para pejabat belum memberikan indikasi bahwa hal itu akan terjadi.
Keamanan Prioritas Utama
Para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan bahwa pengendalian massa dan keamanan akan menjadi prioritas utama mereka.
Gholamhossein Mozaffari, gubernur Provinsi Razavi Khorasan—tempat Khamenei akan dimakamkan—mengisyaratkan bahwa helikopter mungkin akan dikerahkan pada beberapa tahapan operasi untuk membantu mengendalikan massa dan memastikan keamanan proses pemindahan peti jenazah.
Belum jelas apakah langkah-langkah tersebut hanya akan diterapkan di Mashhad atau di sepanjang rangkaian upacara.
Melindungi para pejabat tinggi, mengendalikan massa, dan mengangkut peti jenazah melintasi beberapa kota di dua negara kemungkinan besar akan menuntut salah satu operasi keamanan terbesar dalam sejarah Republik Islam tersebut.
Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref menyebut pemakaman Khamenei sebagai "peristiwa terpenting abad ke-21." Ini mencerminkan betapa besarnya makna politis dan simbolis yang disematkan pihak berwenang pada peristiwa ini.
Pelajaran dari Pemakaman Khomeini
Sikap hati-hati Iran sebagian besar berakar pada kekacauan yang terjadi saat pemakaman pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, setelah wafatnya beliau pada 3 Juni 1989.
Jenazah beliau disemayamkan di Mosalla, Teheran, sebelum dilaksanakannya salat jenazah yang dipimpin oleh Ayatollah Agung Mohammad Reza Golpayegani.
Namun pada hari berikutnya, ratusan ribu pelayat merangsek ke arah peti jenazah Khomeini saat peti itu sedang dibawa menuju lokasi pemakaman. Aparat keamanan kehilangan kendali ketika massa berusaha menyentuh peti tersebut, yang mengakibatkan kerusakan pada peti dan robeknya kain kafan jenazah.
Pihak berwenang terpaksa mengevakuasi jenazah menggunakan helikopter dan membawanya kembali ke Jamaran untuk dipakaikan kain kafan baru, serta menunda pemakaman hingga hari berikutnya.
Media pemerintah mengklaim jumlah pelayat mencapai sekitar 10 juta orang, meskipun perkiraan pihak asing jauh lebih rendah. Banyak orang dilaporkan terluka dan beberapa lainnya diyakini tewas akibat berdesak-desakan. Namun, tidak ada angka resmi mengenai jumlah korban yang pernah dirilis.
Khomeini awalnya dimakamkan di sebuah makam sederhana di dekat pemakaman Behesht-e Zahra di Teheran. Lokasi tersebut kemudian diubah menjadi kompleks mausoleum yang luas.
Tragedi Lainnya
Upacara pemakaman Ghasem Soleimani—yang tewas akibat serangan pesawat nirawak (drone) AS di dekat bandara Baghdad pada 3 Januari 2020—menjadi pemakaman kenegaraan terbesar di Iran sejak pemakaman Khomeini.
Jenazahnya dibawa melintasi beberapa kota di Irak dan Iran sebelum tiba di kampung halamannya, Kerman. Di sana, insiden berdesak-desakan massa dan robohnya pembatas jalan menewaskan sedikitnya 56 orang serta melukai lebih dari 200 lainnya, sehingga memaksa pihak berwenang menunda prosesi pemakaman.
Dua bencana yang terjadi saat pemakaman Khomeini dan Soleimani tersebut terus memengaruhi cara Iran merancang upacara kenegaraan berskala besar.
Dengan mengutamakan pengendalian massa, pengaturan prosesi yang cermat, serta pengamanan ekstra ketat, pihak berwenang tampak bertekad memastikan bahwa pemakaman Khamenei kelak akan dikenang bukan karena kekacauan, melainkan sebagai bukti kemampuan negara dalam mengelola salah satu peristiwa paling krusial dalam sejarah Republik Islam tersebut.






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5160529/original/036403800_1741831526-hasan-almasi-_X2UAmIcpko-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518326/original/022972500_1772505463-bantuan_bibit_ayam_-klaim_link_pendaftaran.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2800821/original/002869500_1557387809-IMG_20190509_113107.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400005/original/008170900_1681813298-20230418-Zakat-Fitrah-Herman-1.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523086/original/018748500_1772788951-cpns_imigrasi.jpg)