SAKSI penculikan dan pembunuhan Kepala Kantor Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih Muhammad Ilham Pradipta mengungkap keterlibatan prajurit TNI dalam perkara ini. Hal ini Antonius Aditia Maharjuna sampaikan dalam kesaksiannya di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Senin, 27 April 2026.
Terdakwa dalam perkara ini adalah Sersan Kepala Mochamad Nasir, Kopral Dua Feri Herianto, dan Sersan Kepala Frengky Yaru. Antonius mengatakan anggota TNI direkrut untuk membantu Dwi Hartono, auktor intelektualis kejahatan ini, meyakinkan pimpinan cabang bank agar mau bekerja sama menggeser dana di dalam rekening dorman.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sepengetahuan Antonius, kerja sama itu membutuhkan pimpinan cabang untuk mengakses komputer dan ruangan kerjanya. “Secara otomatis Pak Dwi minta tolong ‘Ton gimana caranya, yakinkan Pak Nasir (terdakwa I), bahwa jangan sampai korban disentuh lah, jangan sampai lecet’ seperti itu,” ujarnya.
Antonius menjelaskan untuk mengakses komputer dan ruang kerja, pimpinan cabang harus memasuki kantornya dengan kondisi sehat. Sehingga tidak memicu kecurigaan. “Kalau memang untuk diajak kerja sama, kenapa harus melibatkan terdakwa sebagai anggota TNI?” cecar oditur.
“Karena sepaham saya, Pak Dwi bicara bahwa ‘kita cari aparat aja karena lebih meyakinkan, lebih bisa meyakinkan dari pihak pimpinan cabangnya’,” jawab Antonius. “Kalau sipil ketemu sipil, bahasanya lebih sulit dipercaya dibanding ketemu aparat, Pak.”
Berdasarkan informasi yang diterima Tempo, pelaku sempat memindahkan sejumlah dana hasil pembobolan salah satu bank pelat merah ke tempat penukaran uang (money changer). Candy alias Ken—yang juga menjadi terdakwa klaster auktor intelektualis—kemudian meminta bantuan Dwi Hartono untuk kembali menggeser uang di money changer tersebut.
Keduanya kemudian mencari sejumlah kepala cabang bank yang bisa diajak bekerja sama untuk menggeser dana tersebut. Ada tiga profil kepala cabang bank yang mereka siapkan dari dua bank badan usaha milik negara (BUMN) berbeda.
Namun, dua kepala cabang yang mereka dekati ternyata menolak diajak bekerja sama. Akhirnya tersisa satu alternatif, yakni Muhammad Ilham Pradipta.
Kepala KCP BRI Cempaka Putih itu dipilih oleh pelaku secara random. Hanya berbekal kartu nama milik korban, pelaku menetapkan target, mulai membuntuti hingga akhirnya menculik korban.































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770150/original/051663000_1710247846-20240312-Berbuka_Puasa_di_Istiqlal-HER_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417338/original/087225200_1763529762-Buka_Puasa.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)
