Upaya Pindho Saraswati Hadirkan Solusi Limbah Tekstil Melalui Label Fashion Berkelanjutan KALLArona

8 hours ago 9

CANTIKA.COMJakarta - Industri fashion terus berkembang menjadi salah satu ruang ekspresi paling dinamis dalam kehidupan modern. Namun, di balik perputaran tren yang semakin cepat, industri ini juga menghadirkan persoalan lingkungan, mulai dari limbah tekstil, penggunaan bahan yang sulit terurai, hingga pencemaran air akibat proses produksi dan pewarnaan.

Di tengah tantangan tersebut, muncul generasi kreatif yang mencoba menghadirkan cara pandang baru terhadap fashion. Salah satunya adalah Pindho Saraswati, Founder jenama fashion lokal KALLArona, yang menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian penting dari identitas dan proses kreatif brand yang dibangunnya.

Berangkat dari kegelisahannya melihat dampak fast fashion dan pencemaran lingkungan, terutama di kawasan pesisir Indonesia, Pindho mendirikan KALLArona pada 2021 lalu. Bersama tim kreatifnya, ia menghadirkan fashion yang tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga mempertimbangkan jejak lingkungan dari proses produksi hingga produk sampai ke tangan konsumen.

KALLArona dikenal melalui eksplorasinya terhadap cotton gauze atau kain kasa, material yang dikembangkan menjadi wearable art dengan karakter ringan, nyaman, dan memiliki potensi lebih ramah terhadap lingkungan. Eksplorasi tersebut dipadukan dengan penggunaan pewarna alami dari tumbuhan, seperti indigo, secang, kunyit, tegeran, dan berbagai sumber warna alami lainnya.

Bagi Pindho, keberlanjutan bukan sekadar konsep yang ditempelkan pada produk. Prinsip tersebut diterapkan dalam proses produksi yang terbatas untuk menghindari kelebihan stok dan limbah tekstil, penggunaan kemasan minim plastik, hingga eksplorasi layanan pewarnaan ulang untuk memperpanjang usia pakai pakaian.

KALLArona juga membangun kolaborasi dengan pengrajin lokal dalam proses produksinya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa fashion berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang material, tetapi juga tentang membangun ekosistem yang lebih sadar terhadap lingkungan dan melibatkan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab.

Melalui penyelenggaraan Apresiasi Swara Cantika 2026 Cantika memberikan apresiasi kategori Penjaga Bumi Lestari atas kontribusi perempuan dalam berbagai industri Indonesia, salah satunya dalam dunia mode. Atas konsistensinya dalam mengembangkan praktik fahsion berkelanjutan, mengeksplorasi material dan pewarna alami, mengurangi limbah produksi, serta mengedukasi generasi muda mengenai konsumsi fashion yang lebih bertanggung jawab.

Karya Pindho Saraswati, founder KALLArona di Kallarona Fashion Force Award At Jakarta Fashion Week 2023/Doc. KALLArona

Secara khusus Pindho Saraswati berbincang dengan Cantika melalui daring, Rabu, 9 September 2026.

KALLArona lahir dari kegelisahan Anda terhadap dampak fast fashion. Seberapa besar persoalan lingkungan yang Anda lihat hingga akhirnya memutuskan untuk membangun brand dengan prinsip keberlanjutan?

Pindho Saraswati: Sebelum Covid-19 aku memang lumayan concern sama fast fashion di Indonesia. Terutama limbah tekstil lumayan besar di negara ini, seperti makanan dan fashion. Mulai dari tekstil, limbah pewarna yang mencemari lingkungan, plastik packaging sekali pakai, tekstil polyester yang sulit terurai numpuk di bantar gebang. Itu lima tahun yang lalu sudah mulai dan sekarang makin parah. Makanya kayaknya kita harus bikin brand yang setidaknya mengurangi atau kalau bisa cari solusi dari permasalahan. Makanya aku coba bikin KALLArona, mulai dari semua bahan yang ramah lingkungan, juga memikirkan sisa limbahnya.

Mengapa Anda memilih fashion sebagai medium untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan di antara bidang yang lain?

Pindho Saraswati: Ya, soalnya karena fashion itu kan pakaian ya, kebutuhan kita setiap hari. Menurut aku fashion bisa jadi salah satu medium yang paling dekat untuk mulai membangun kesadaran terhadap isu lingkungan. Sebenarnya edukasinya itu enggak yang berat-berat, kalau disuruh orang malah jadi enggak mau kan.

Jadi kami mencari hal-hal yang menurut aku yang fungsional, bikin hal lucu yang orang mau pakai. Secara enggak langsung mereka sudah membantu untuk mengurangi lifestyle yang ngerusak lingkungan. Itu sudah salah satu dukungan yang termasuk besar menurut aku. Desainnya unik dan warna-warni agar kami mengincar generasi muda, karena lewat situ bisa mulai edukasi pelan-pelan. Secara tidak langsung mereka bisa nge-build lifestyle mereka sejak dini.

KALLArona dikenal mengubah kain kasa menjadi wearable art. Apa filosofi dan tantangan terbesar di balik eksplorasi material yang tidak biasa tersebut?

Pindho Saraswati: Sebenarnya kain kasa itu sederhana, mudah ditemukan. Dari kesederhanaan kain kasa itu kita melihat ada karakteristik yang bisa diubah jadi nilai yang beda. Terus karakter kain kasa sendiri pun setelah aku pelajari, ternyata sangat-sangat bagus untuk kita pakai sebagai fashion, terurainya jauh lebih cepat dibandingkan yang biasa. Kita menemukan solusi yang bisa dibikin jadi karya sekaligus menjadi solusi limbah tekstil.

Anda menggunakan pewarna alami dari tumbuhan yang prosesnya sangat bergantung pada alam. Apa yang membuat Anda tetap mempertahankan proses yang lebih panjang dan kompleks ini?

Pindho Saraswati: Prosesnya panjang itu bagian dari karakternya KALLArona, setiap outfit memiliki karakter yang unik. Orang yang beli di tahun pertama sama kedua atau ketiga bakal beda, karena bahan pewarna alam emang gak bisa selalu sama. Contohnya aku kan ambil pewarna alam dari akar akar tumbuhan, kalau yang tua sama yang muda warnanya jauh, bikin karakter yang beda. Kami berharapnya mereka bisa pakai waktu yang lama tapi tergantung orangnya lagi. kalau misalnya mereka mau pakai yang lama kita kasih re-colour, kalau mereka cepat bosan kami sudah pastikan kalau limbah tekstil dari kami akan gampang terurai.

Sejauh mana konsep limited production, pewarnaan ulang, dan daur ulang pakaian menjadi bagian dari upaya KALLArona memperpanjang siklus hidup sebuah produk?

Pindho Saraswati: Kami memberikan service recolour untuk lebih bertanggung jawab terhadap produksi. Kami ingin KALLArona ini terus ada spark-nya. Misalnya bosan masih ada solusi setiap tahun mereka bisa recolour dengan warna yang sama atau ubah warna, free seumur hidup. Kami mau produk fashion yang kami rilis bisa panjang umurnya, kalau pun sudah enggak suka dengan modelnya masih bisa dibuang karena limbahnya KALLArona mudah terurai, kami sudah siap dengan konsekuensi itu.

Karya Pindho Saraswati, founder KALLArona di Dewi Luxe Market 2024/Doc. KALLArona

Menurut Anda, apakah konsumen Indonesia hari ini sudah semakin sadar terhadap dampak lingkungan dari pakaian yang mereka beli?

Pindho Saraswati: Menurut aku sekarang mereka sudah lumayan aware dengan isu lingkungan. Apalagi sekarang banyak campaign dari influencer tentang kerusakan lingkungan di Indonesia. Jadi menurut aku brand harus jauh lebih concern dengan isu lingkungan karena itu penting. Apa yang kita lakukan hari ini bukan untuk kita, tapi untuk generasi selanjutnya, anak cucu kita nanti.

Melalui kampanye seperti #akusuKALLAut, KALLArona menghubungkan fashion dengan kepedulian terhadap laut. Seberapa penting sebuah brand memiliki peran sebagai medium edukasi sosial dan lingkungan?

Pindho Saraswati: Brand kan punya market, komunitas, sama audience yang besar. Artinya punya kemampuan mempengaruhi cara orang berpikir dan berperilaku. Misalnya ajak konsumen lebih sadar terhadap pakaian yang mereka beli, bagaimana cara pakaian tersebut dibuat, atau apa yang terjadi setelah pakaiannya nggak digunakan lagi, brand bisa membuat campaign seperti itu.

Makanya campaign kami menunjukkan kalau fashion dan isu lingkungan itu sangat berkaitan. Bagaimana kita konsumsinya berhubungan ke lingkungan, termasuk laut. Jadi brand bukan cuma tempat jual produk, tetapi juga menciptakan conversation dengan audience-nya, membawa influence positif.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar bagi brand lokal yang ingin konsisten menjalankan praktik sustainable fashion di tengah tuntutan pasar yang serba cepat?

Pindho Saraswati: Memang sih, challenging banget untuk menjalani praktik sustainable ini di antara fast fashion yang banyak dan harga murah. Tapi karena itu kan setiap problem pasti ada solusinya, KALLArona sendiri mainnya di value, sebab kami memang enggak bisa bersaing di quantity, tetapi quality. Kayak craftsmanship-nya, uniqueness-nya, umur pakaian tersebut, dan dari prosesnya. Membeli value kan pasti rasanya beda ya daripada sekadar beli barang konsumtif.

Bagaimana Anda melihat masa depan industri fashion Indonesia? Apakah keberlanjutan akan menjadi pilihan atau justru sebuah keharusan?

Pindho Saraswati: Menurut aku sekarang brand fashion udah lumayan aware sama lingkungan, enggak hanya brand aku saja. Aku optimis fashion Indonesia bisa berkembang ke arah yang jauh lebih bertanggung jawab, menjadi lebih baik lagi karena Indonesia sebenarnya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Kekayaan materialnya, teknik pewarnaan alam dari batik juga suatu aset yang sangat berharga. Craftsmanship lokal jauh lebih tinggi jam terbangnya dibandingkan negara lain. Menurut aku apa yang kita lakukan untuk ke depannya akan kembali ke kita.

Pesan apa yang ingin Anda titipkan kepada generasi muda tentang hubungan antara gaya hidup, pilihan konsumsi, dan masa depan bumi?

Pindho Saraswati: Mulai saja dari hal-hal kecil yang bisa kita kontrol, contohnya memilih produk yang proses produksinya jauh lebih bertanggung jawab, tidak terlalu konsumtif akan membeli suatu barang yang memang tidak terlalu dibutuhkan, lebih sadar sama pilihan kita, sekecil apa pun itu.

Pilihan Editor: Kategori-kategori di Apresiasi Swara Cantika: Mencatat Perempuan Penggerak Perubahan untuk Indonesia

SALSABILLA FARKA KIRANI | ECKA PRAMITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |