Antrean di SPBU Disebabkan Konsumen Beralih ke BBM Subsidi

12 hours ago 6

BADAN Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi menyatakan peningkatan konsumsi bahan bakar minyak atau BBM subsidi menjadi salah satu pemicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). “Adanya shifting, perubahan pola pembelian BBM non-subsidi, banyak yang pindah menjadi subsidi,” kata Kepala BPH Migas Wahyudi Anas saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR, Kamis, 16 Juli 2026.

Data BPH Migas mencatat realisasi penyaluran solar mencapai 9,48 juta kiloliter. Artinya, BBM solar telah tersalurkan sekitar 50,85 persen dari kuota tahun ini sebanyak 18,64 juta kiloliter.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Untuk minyak tanah tercatat tersalurkan sebanyak 0,26 juta kilometer atau mencapai 48,91 persen dari kuota yang ditetapkan sebanyak 0,53 juta kiloliter. Sementara itu, penyaluran Pertalite Ron 90 mencapai 13,96 juta kilometer atau setara 47,68 persen dari kuota sebanyak 29,27 juta kiloliter.

Pemerintah sebelumnya menaikkan harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026. Harga Pertamax RON 92 naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Wahyudi mengatakan kenaikan penyaluran BBM solar terjadi setelah pemerintah menaikkan jenis bahan bakar lainnya seperti Dex Series dan Pertamax. Kenaikan harga itulah yang menurut Wahyudi menjadi penyebab masyarakat beralih menggunakan BBM subsidi.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengatakan antrean pembelian di Sumatera juga dipengaruhi oleh keterlambatan distribusi ke lembaga penyalur. “Atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat kami menyampaikan permohonan maaf,” tuturnya.

Terhadap kejadian antrean panjang di Sumatera, Taufik mengatakan Pertamina Patra Niaga akan terus menambah pasokan dan pengaturan pola distribusi dengan menambah armada. Kemudian, Taufik mengatakan perusahaan juga menambah jam operasional SPBU dan penyaluran distribusi dari depo. 

Hingga Kamis pagi, 16 Juli 2026, Taufik mengatakan total pasokan BBM, dan LPG mencapai 3,61 juta kiloliter. Berdasarkan proyeksi supply dan demand, Taufik menyatakan Pertamina Patra Niaga masih bisa memenuhi kebutuhan konsumen.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |