BANK Indonesia (BI) mencatat kewajiban neto Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan I 2026 sebesar US$ 227,6 miliar. Posisi tersebut turun US$ 45,8 miliar dibandingkan pada akhir triwulan IV 2025 yang tercatat sebesar US$ 273,4 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kewajiban neto yang menurun dipengaruhi oleh penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih dalam dari penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Adapun posisi AFLN pada akhir triwulan I 2026 tercatat sebesar US$ 556,7 miliar atau turun 0,4 persen dari US$ 559,1 miliar pada akhir triwulan IV 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Posisi AFLN Indonesia menurun terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi cadangan devisa sejalan dengan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” ucap Denny dalam siaran pers, dikutip Kamis, 11 Juni 2026. Penurunan posisi AFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga aset dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang negara penempatan aset.
Sementara itu, posisi KFLN Indonesia turun 5,8 persen dari US$ 832,6 miliar pada akhir triwulan 2025 menjadi US$ 784,3 miliar pada triwulan I 2026. Menurut Denny, penurunan tersebut terutama bersumber dari pelemahan nilai instrumen keuangan domestik di tengah kinerja investasi langsung yang tetap membukukan surplus.
Denny juga mengatakan bahwa posisi investasi portofolio dan investasi lainnya menurun, sejalan dengan pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo. Selain itu, kata dia, posisi KFLN turut dipengaruhi oleh pelemahan harga saham dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
“Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I 2026 tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan eksternal,” ujar Denny. Ia mengatakan kondisi tersebut tercerminkan dari rasio PII terhadap Produk Domestik Bruto pada triwulan I 2026 sebesar 15,5 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 sebesar 18,9 persen. Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang sebesar 92,5 persen, terutama dalam bentuk investasi langsung.































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5263253/original/068977400_1750812433-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__10_.jpg)









