Butet Kartaredjasa Beri Paus Leo XIV Lukisan Jalan Salib

4 hours ago 3

BUDAYAWAN Butet Kartaredjasa memberikan lukisan tentang Punakawan, tokoh pewayangan Jawa kepada pemimpin Gereja Katolik se-dunia Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan, Roma, Italia pada Rabu pagi waktu setempat, 17 Juni 2026.

Butet bersama istrinya, Rulyani Isfihana memboyong 14 lukisan dengan citraan Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dari rumahnya di Bantul, Yogyakarta ke Vatikan sebagai bagian dari gagasan perjalanan spiritual yang sudah lama ia cita-citakan. Empat belas lukisan bertema Jalan Salib versi Jawa itu merupakan lukisan berseri karya Butet yang dibuat pada 2024. Ide melukis Jalan Salib muncul dari momentum perenungan spiritual Butet setelah lolos dari kelumpuhan akibat penyakit saraf kejepit parah pada 2021.

Di Basilika, Butet dan Rulyani harus mengantre selama tiga jam, menunggu bertemu Paus. Selama lima menit, keduanya yang mengenakan pakaian tradisional Jawa sempat berbincang sebentar dan mencium tangan Paus. Secara simbolis Butet menyerahkan satu lukisan Jalan Salib seri kesembilan kepada Paus. Angka sembilan pada lukisan seri ini, kata dia, menggambarkan kemujuran.

Pilihan Editor: Protes Gelar Pahlawan untuk Soeharto, Butet Kartaredjasa Buat Video Parodi Pakai AI

Arti Lukisan Jalan Salib dengan Penggambaran Punakawan

Lukisan berbingkai dalam kaca itu menggambarkan citra Yesus yang jatuh tertimpa salib berkelir merah. Yesus digambarkan melalui tokoh Semar. Adapun Gareng, Petruk, dan Bagong digambarkan sedang mengerumuni dan menghajar Yesus. “Lukisan ini menggambarkan perjuangan kemanusiaan,” kata Butet dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis, 18 Juni 2026.

Dalam tradisi Katolik, Jalan Salib atau Via Dolorosa adalah perjalanan Yesus Kristus yang penuh kesengsaraan melalui penyaliban di Bukit Golgota. Bagi umat Kristiani, peristiwa ini bermakna pengorbanan Yesus membebaskan umat manusia dari penderitaan.

Dalam pewayangan Jawa, tokoh Punakawan menyimbolkan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Ojo dumeh, artinya jangan mentang-mentang, misalnya merupakan filosofi Jawa paling ikonik yang diajarkan Semar. Tokoh itu mengingatkan manusia untuk rendah hati, tidak sombong, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaan. Paus menurut Butet senang dengan pemberian lukisan darinya yang datang jauh dari Indonesia dengan membawa kebudayaan Jawa.

Yang menarik dalam pertemuan dengan Paus menurut Butet, adalah pertemuan istrinya yang beragama Islam. Buat Butet, menunjukkan keberagaman lintas iman. Perjalanannya ke Vatikan ia ibaratkan seperti ibadah haji dalam Islam.

Butet juga mendengar Paus berpidato dalam bahasa Italia tentang seruan perdamaian untuk Iran. Dia menyatakan perjalanan selama delapan hari yang ia namai Butet Sowan Paus itu menggunakan anggaran pribadi. Dia mengirimkan 14 lukisan ke Kedutaan Besar Indonesia di Vatikan sejak awal tahun lalu. Duta Besar Indonesia untuk Vatikan Michael Trias Kuncahyono membantu Butet untuk melobi sekretaris Paus hingga akhirnya terwujud pertemuan itu. “Perjuangan yang sepadan. Saya dan istri bahagia dan bangga karena diberkati Paus,” kata Butet.

Pilihan Editor: Kritik Penetapan Hari Kebudayaan Nasional, Butet: Seperti Ingin Menjilat Kekuasaan

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |