Respons Wakil Rektor UMY Soal Intel Polda DIY Masuk Kampus

4 hours ago 4

WAKIL Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY Zuly Qodir menyebut keberadaan intelijen Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta di kampus seusai demonstrasi mahasiswa di Titik Nol Yogyakarta merupakan sesuatu yang berlebihan. Menurutnya, upaya memata-matai mahasiswa UMY itu menunjukkan paranoia negara terhadap gerakan mahasiswa.

Menurut Zuly, personel kepolisian tidak perlu memata-matai mahasiswa yang berdemonstrasi hingga ke kampus. Aksi unjuk rasa mahasiswa mewakili keresahan publik merupakan sesuatu yang sah, bagian dari demokrasi. Bila polisi membutuhkan informasi dari kampus, maka polisi bisa menghubungi pihak rektorat, bukan malah memata-matai.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Polisi masuk kampus itu berlebihan. Paranoia negara terhadap gerakan mahasiswa,” kata Zuly, Kamis, 18 Juni 2026.

Selain itu, alasan polisi datang ke UMY untuk memastikan mahasiswa aman setelah berdemonstrasi menurut Zuly terlalu berlebihan. Menurutnya seorang petugas tidak masuk akal mengamankan ratusan mahasiswa.

Dosen Ilmu Pemerintahan itu meminta polisi merumuskan ulang definisi menjaga keamanan mahasiswa. Menurutnya, pola yang muncul selama ini polisi kerap menuding aksi mahasiswa ditunggangi oleh kepentingan tertentu sehingga memata-matai gerakan mahasiswa.

Padahal, aksi demonstrasi mahasiswa tidak serta merta ditunggangi. Tugas polisi, kata dia, seharusnya menemukan perusuh atau orang yang menunggangi, bukan memata-matai gerakan mahasiswa secara berlebihan.  

Zuly menuturkan, kemarahan mahasiswa terhadap petugas intelijen yang masuk ke kampus adalah hal yang wajar di tengah represi terhadap mahasiswa. Dia mencontohkan polisi menangkap massal mahasiswa secara sewenang-wenang saat demonstrasi Agustus tahun lalu. Polisi memukuli mereka dan sebagian mahasiswa mengalami trauma.

Dia menjelaskan kronologi ratusan mahasiswa yang mengenali intelijen Polda DIY tersebut, lalu membawanya ke gedung rektorat pada Rabu malam, 17 Juni 2026. Selepas azan magrib, mahasiswa melihat seorang pria yang mengenakan kaus hitam dengan gelagat mencurigakan.

Pria tersebut memotret aktivitas mahasiswa yang masuk kampus. Lalu, mahasiswa mengepung lelaki itu dan mengejarnya hingga dia terjatuh. Sebagian mahasiswa membebaskan petugas Polda itu dari amukan mahasiswa.

Zuly yang masih mengenakan sarung selepas salat Magrib bergegas menemui mahasiswa agar mereka tenang. Mahasiswa kemudian menginterogasi pria tersebut. Mahasiswa mendesak pria tersebut untuk meminta maaf karena masuk kampus tanpa minta izin. Setelah mengaku sebagai intelijen Polda DIY, dia menyebutkan orang yang mengutus dan dari kesatuan mana.

Kemudian, mahasiswa meminta orang yang mengutusnya datang ke UMY untuk menjemput dan minta maaf di hadapan mahasiswa. Rupanya, orang yang datang bukan nama yang disebutkan. Mahasiswa kemudian marah karena petugas intelijen itu berbohong.

Dalam video yang beredar di media sosial, pria tampak pucat dan sesekali menyeka wajahnya dengan es batu. Salah satu yang mengunggah video penangkapan intelijen tersebut adalah akun Instagram @UMY_Bergerak. Mereka memberi judul video itu Intel masuk kampus UMY.

Kepala Bidang Humas Polda DIY Komisaris Besar Ihsan menyatakan pria yang diinterogasi mahasiswa tersebut adalah anggotanya. Ihsan menjelaskan anggotanya mendapat surat perintah untuk mengamankan aksi mahasiswa di Yogyakarta. “Anggota kami memantau dan memastikan peserta aksi kembali dengan aman ke kampus,” kata Ihsan.

Menurut Ihsan, penangkapan anggotanya oleh mahasiswa karena kesalahpahaman. Dia telah berkomunikasi dengan mahasiswa dan rektorat. Pernyataan Ihsan ini muncul dalam akun Instagram Polda DIY, @poldajogja.

Sebelumnya, Rektorat UMY mendukung aksi demonstrasi mahasiswa. Mereka mengeluarkan surat edaran khusus yang isinya memberikan keleluasaan mahasiswa untuk menyalurkan aspirasinya. Aksi itu dihitung sebagai kehadiran di kelas.

Dosen-dosen di sembilan fakultas UMY hari itu memindahkan perkuliahan di kelas ke jalanan untuk demonstrasi memprotes berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Titik Nol Yogyakarta ada Rabu, 17 Juni 2026.

Menurut Zuly, demonstrasi itu bagian dari penerapan ilmu yang mahasiswa pelajari di kelas. Ke depan, UMY akan memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |