DOSEN sekaligus peneliti di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, I Nyoman Apraz Ramatryana, menawarkan cara untuk mengoptimalkan performa jaringan 6G agar lebih efisien dan ramah energi. Dosen Fakultas Teknologi Informasi UNU Yogyakarta yang saat ini tengah menjalani studi postdoctoral di Khalifa University, Uni Emirat Arab (UEA), itu mengungkap metode optimalisasi melalui teknologi Frequency-Time Index Modulation Multiple Access (FT-IMMA).
"Dengan cara optimalisasi itu hasilnya memungkinkan miliaran perangkat mengirimkan data secara bersamaan tanpa harus memicu kemacetan jaringan," kata Apraz dalam keterangannya, Senin, 3 Agustus 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Teknologi telekomunikasi generasi keenam atau 6G akan meluncur secara resmi pada 2030 mendatang. Disebutkan Apraz, negara-negara maju tengah berkompetisi menyempurnakan sistem komunikasi supercepat tersebut.
Nyoman mempublikasikan hasil risetnya di jurnal IEEE Transactions on Vehicular Technology volume 74 edisi 5 tahun 2025 lalu. Penelitiannya itu berfokus untuk memangkas kerumitan prosedur pengiriman data pada sistem pemancar.
"Secara sederhana, riset ini mengusulkan sebuah metode baru agar banyak perangkat bisa mengirimkan data secara bersamaan di jaringan komunikasi 6G tanpa harus mengantre atau meminta izin jadwal terlebih dahulu ke menara pemancar," ujar Apraz.
Ia menjelaskan, teknologi 6G dirancang dengan kecepatan hingga 100 kali lipat dibanding 5G untuk mendukung integrasi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), hingga dunia virtual. Namun, implementasinya masih dibayang-bayangi tantangan besar. Seperti mahalnya biaya infrastruktur, jangkauan frekuensi gelombang tinggi yang sangat pendek, hingga kendala transmisi yang terhalang bangunan fisik.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Apraz mengibaratkan lalu lintas data dalam sistem telekomunikasi 6G layaknya kendaraan yang melintas di jalan tol bebas hambatan. "Ibarat jalan tol, sebelumnya kendaraan (data) hanya bisa diatur masuk berdasarkan jalur (frekuensi) atau waktu (jam masuk) secara terpisah," kata dia.
Cara kerja sistem FT-IMMA yang dirisetnya itu, ujar Apraz, menggabungkan keduanya menjadi sistem dua dimensi. "Sehingga data bisa menyelinap masuk secara cerdas dengan memilih kombinasi sumber daya jalur frekuensi dan waktu tertentu."
Langkah penggabungan frekuensi dan waktu secara dua dimensi ini menjadi kebaruan (novelty) utama yang ditawarkan dalam risetnya. Pendekatan tersebut diklaim ampuh menghemat penggunaan spektrum gelombang serta meminimalkan pemborosan energi saat proses transmisi berlangsung.
"Hasilnya, pengiriman data menjadi jauh lebih efisien secara spektrum dan energi, serta mampu menekan risiko tabrakan data dibandingkan metode konvensional," tutur lulusan doktor IT Convergence Engineering dari Kumoh National Institute of Technology Korea Selatan tersebut.
Penerapan skema FT-IMMA ini diproyeksikan bakal membawa dampak besar pada enam bidang strategis. Mulai dari immersive communication, smart cities, industry 5.0, layanan cerdas berbasis AI hingga jaringan ramah lingkungan (sustainability & green network).
Pada pengembangan smart city, kata Apraz, teknologi ini nantinya dapat diterapkan pada sistem sinyal kereta api dan lampu lalu lintas real-time guna meningkatkan keselamatan publik. "Ini bisa mengurangi kemacetan 15-30 persen dan meningkatkan public safety," kata Apraz.
Sementara pada aspek pelestarian alam, penggunaan jaringan efisien ini disebutnya mampu menopang sistem pemantauan area hijau untuk mendeteksi kerusakan hutan secara dini. Menurut Apraz, kehadiran teknologi ini bakal turut berperan aktif dalam mencegah risiko kerusakan lingkungan yang lebih parah serta menanggulangi persoalan iklim global di masa depan.
Kebutuhan akan jaringan efisien ini makin mendesak mengingat lonjakan jumlah perangkat pintar dunia yang kian masif. Menurutnya, berdasarkan data DataReportal dan Statista, saat ini terdapat sekitar 7,64 miliar unit smartphone aktif di dunia. Sebuah populasi perangkat yang berisiko memicu kepadatan lalu lintas data serta memperlambat koneksi internet.
"Sistem FT-IMMA memungkinkan perangkat-perangkat tersebut untuk saling berkomunikasi secara mulus, karena sangat memangkas beban komunikasi jaringan atau overhead yang biasanya membuat koneksi menjadi lambat," ungkapnya.




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5220347/original/094913800_1747281277-41961081_8976420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5327298/original/085035000_1756177391-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__83_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558454/original/058152900_1776419419-cek_fakta_-_petani_milenial_2026.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552530/original/095418000_1775812020-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-10T153121.431.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547119/original/085428000_1775445943-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-06T101438.375.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4909950/original/090842100_1722854822-WhatsApp_Image_2024-08-05_at_17.40.39_50d920d6.jpg)

