Kekeringan dan Karhutla Masih Terjadi di Sejumlah Daerah

4 hours ago 2

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merespons sejumlah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla selama musim kemarau akibat fenomena El Nino.

Berdasarkan data yang dihimpun per 2 Agustus 2026, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan karhutla dan kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah selama musim kemarau.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kejadian karhutla yang pertama terjadi di wilayah Desa Taddakong, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 19.00 WITA. 

“Peristiwa diduga dipicu oleh kondisi daun dan ranting kering di kawasan perbukitan berbatu yang mudah terbakar akibat suhu panas, sehingga memunculkan titik api secara tiba-tiba,” kata Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Ahad, 2 Agustus 2026.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar lima hektare.

Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Pinrang segera melakukan asesmen dan pendataan di lokasi terdampak serta mendokumentasikan perkembangan penanganan di lapangan. Abdul menuturkan pemadaman dibantu Dinas Pemadam Kebakaran bersama masyarakat setempat.

Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Pinrang bersama unsur TNI, Polri, serta masyarakat melakukan pemadaman melalui metode fire breaking. Fire breaking adalah pembuatan sekat bakar dengan mengisolasi vegetasi di sekitar titik api guna mencegah penyebaran kebakaran ke area yang lebih luas.

Karhutla lain terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Abdul menyebut BNPB menerima laporan karhutla di Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Desa Gemantar, Kecamatan Selogiri.

Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan oleh pihak terkait. “Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Sementara itu, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar empat hektare,” ujar Abdul. 

BPBD Kabupaten Wonogiri segera melakukan asesmen cepat di lokasi terdampak sekaligus melakukan pemadaman api. Abdul mengatakan, berdasarkan laporan terakhir yang diterima pada Sabtu, api berhasil dipadamkan sehingga tidak lagi mengancam area di sekitarnya.

Selain karhutla, El Nino berdampak kekurangan curah hujan yang menyebabkan sejumlah sumber air bersih di wilayah Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Abdul mengatakab Banyumas mulai mengering sehingga masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BPBD Kabupaten Banyumas bersama pemerintah desa, unsur kemanusiaan, dan masyarakat terus melakukan upaya pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Adapun kebutuhan mendesak saat ini meliputi pasokan air bersih dan penampungan air.

Berdasarkan laporan Sabtu, 1 Agustus 20026, BPBD Kabupaten Banyumas telah mendistribusikan sebanyak 27.000 liter air bersih atau setara lima tangki ke sejumlah wilayah terdampak.

Distribusi air bersih dilakukan ke Grumbul Tembelang, Desa Sudimara, Kecamatan Cilongok sebanyak 4.000 liter yang bersumber dari Perumda Pabuwaran. 

“Distribusi juga dilakukan ke Pondok Pesantren Hidayatul Kholil dan Pondok Pesantren An Najah di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok sebanyak 8.000 liter dari Perumda Tonjong Ajibarang,” kata dia. 

Selain itu, BPBD menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok yang bersumber dari hydrant Karangbawang, 5.000 liter ke Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang dari PDAM Tonjong, serta 5.000 liter ke Desa Cipete, Kecamatan Cilongok yang juga berasal dari PDAM Tonjong.

BNPB mengapresiasi langkah cepat pemerintah daerah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kekeringan. BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan kondisi di lapangan, mengoptimalkan distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air, serta mengedukasi masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.

Abdul meminta masyarakat melaporkan kepada pemerintah desa atau BPBD apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih sehingga bantuan dapat disalurkan secara cepat dan tepat sasaran. “Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran terbuka maupun aktivitas lain yang dapat memicu munculnya titik api,” kata dia. “Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan kepada BPBD atau instansi terkait apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.”

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |