Krisis Kognitif Persempit Ruang Imajinasi Anak

3 hours ago 1

RUANG imajinasi anak-anak Indonesia tampak kian menyempit. Ketika pertanyaan tentang cita-cita diajukan, jawaban yang muncul semakin seragam yaitu kreator konten, YouTuber, atau influencer. Bagi Indonesia Health Development Center (IHDC), keseragaman itu bukan semata pergeseran preferensi profesi, melainkan isyarat bahwa kemampuan anak membayangkan sekaligus memetakan masa depannya mulai tereduksi oleh derasnya arus informasi digital dan lemahnya fondasi perkembangan kognitif.

Lembaga riset kesehatan tersebut memperkenalkan istilah silent cognitive burden, yakni beban kognitif yang berlangsung perlahan tanpa banyak disadari, tetapi berpotensi menggerus kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. IHDC menilai persoalan itu tak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, melainkan juga kapasitas anak untuk berpikir kritis, berimajinasi, dan merancang orientasi masa depannya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Direktur Eksekutif IHDC Ray Wagiu Basrowi mengatakan selama ini pembangunan anak lebih banyak diukur melalui indikator kesehatan fisik maupun capaian akademik. Padahal, menurut dia, ada kapasitas lain yang belum banyak diperhatikan, yakni kemampuan neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, memecahkan masalah, berkreasi, hingga membangun orientasi masa depan.

"Kami dari IHDC ingin mengajukan paradigma baru, bahwa ketika mengukur masa depan anak Indonesia, jangan cuma ukur nilai rapor, jangan cuma IQ dan EQ, ukur juga kemampuan anak memetakan masa depannya," kata Direktur Eksekutif IHDC Ray Wagiu Basrowi dalam pemaparan Seri Kajian Strategis IHDC di Restoran Beautika, Panglima Polim, Jakarta Selatan, Kamis, 23 Juli 2026.

Ray menyebut kemampuan tersebut sebagai Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kapasitas neurokognitif yang memungkinkan seorang anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, sekaligus membangun orientasi masa depan. Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi yang inovatif dan produktif.

Namun, kemampuan itu kini menghadapi ancaman dari empat persoalan kesehatan yang kerap dianggap berdiri sendiri, yakni gangguan refraksi mata yang tidak terkoreksi, kekurangan zat besi, kekurangan protein, serta gangguan perilaku. Keempat faktor tersebut, menurut IHDC, saling mempengaruhi perkembangan otak dan proses belajar anak.

Dalam paparannya, Ray menjelaskan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menurunkan kemampuan belajar, tetapi juga mempengaruhi cara anak menyaring informasi di era digital.

Menurut dia, anak-anak kini menerima arus informasi yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Persoalannya, kemampuan untuk melakukan critical review tidak berkembang secepat derasnya informasi yang mereka terima.

"Semakin banyak informasi diterima anak-anak Indonesia, tetapi kemampuan mereka melakukan critical review tidak berkembang. Anak belum mampu memilah mana informasi yang bagus, mana informasi yang benar, dan mana informasi yang bisa diresapi sebagai bekal untuk memetakan masa depannya," ujar Ray.

IHDC menilai kemampuan berpikir kritis menjadi tahapan awal sebelum seorang anak mampu membangun imajinasi masa depan. Tanpa kemampuan memilah informasi, anak akan lebih mudah mengikuti apa yang paling sering muncul di hadapannya dibanding membangun cita-cita berdasarkan proses berpikir yang matang.

Ray menilai kondisi tersebut ikut mempengaruhi cara anak membangun imajinasi mengenai masa depan. Ketika sumber informasi sehari-hari didominasi konten yang seragam, pilihan cita-cita yang muncul pun menjadi semakin terbatas.

"Sekarang kebanyakan anak ingin jadi YouTuber, personal blogger, atau influencer. Karena sumber informasi itu dicekokin sampai imajinasi mereka melihat mana yang paling sering mereka lihat," kata Arya.

Ia mencontohkan, anak kini jauh lebih sering melihat kehidupan kreator konten dibanding profesi lain seperti petani, nelayan, guru, maupun peneliti. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat ruang imajinasi anak mengenai pilihan masa depan menjadi semakin sempit.

Meski demikian, IHDC menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan membatasi akses media sosial. Menurut Ray, regulasi pemerintah, termasuk pembatasan akses media digital bagi anak, hanya mengurangi salah satu faktor risiko. Di sisi lain, faktor pelindung seperti kecukupan gizi, kesehatan mata, kesehatan mental, serta pola asuh keluarga tetap harus diperkuat agar kapasitas berpikir anak berkembang secara optimal.

"Regulasi pemerintah cuma menghadang faktor risiko. Tapi faktor protektif harus kita selesaikan juga, mulai dari gangguan refraksi, kecukupan protein, zat besi, sampai pola asuh dan kesehatan perilaku anak," ujar Ray.

Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan periode 2014–2019 Nila F. Moeloek menyatakan bahwa empat persoalan kesehatan tersebut selama ini lebih sering dipandang sebagai masalah individu. Padahal, apabila dialami jutaan anak secara bersamaan, dampaknya dapat mempengaruhi kualitas modal manusia Indonesia. "Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," kata Nila.

IHDC memperkirakan lebih dari delapan juta anak Indonesia mengalami gangguan refraksi yang belum terkoreksi. Di sisi lain, lebih dari tujuh juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi, sementara lebih dari 300 ribu anak usia sekolah menghadapi gangguan perilaku cemas. Menurut lembaga tersebut, kondisi itu berpotensi menjadi penghambat tersembunyi bagi daya saing Indonesia apabila tidak ditangani sejak dini.

IHDC pun mendorong perubahan paradigma pembangunan anak. Fokus kebijakan, menurut mereka, tidak cukup berhenti pada pencegahan penyakit. Tapi anak perlu diarahkan pada pembangunan kapasitas otak sejak usia sekolah melalui skrining gangguan penglihatan, pencegahan anemia defisiensi besi, pemenuhan protein, serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan modal manusia.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |