Kumpulan Ayat Al-Quran tentang Mencari Rezeki di Bumi Lengkap Tafsir dan Hikmahnya

3 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Bumi ini bukan sekadar hamparan tanah yang diam melainkan sumber kehidupan yang Allah bentangkan bagi manusia untuk dijelajahi, diolah, dan dimanfaatkan sebagai sarana mencari rezeki. Ayat Al-Qur'an tentang mencari rezeki di bumi menjadi panduan bahwa bekerja dan berusaha di muka bumi merupakan bagian dari ibadah, bukan sekadar aktivitas duniawi.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mulk [67]: 15, "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya." Ayat ini menegaskan bahwa bumi diciptakan dalam keadaan dzalûlan, mudah dimanfaatkan, sehingga manusia dapat bertani, berniaga, dan melakukan berbagai aktivitas ekonomi.

Pemahaman tentang ayat-ayat rezeki tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial masyarakat. Penelitian Muhammad Khairil dalam Jurnal Ulumuha tentang implementasi pemahaman ayat Al-Qur'an tentang rezeki di kalangan pemulung Kota Padang mengungkapkan, masyarakat perlu memahami ayat-ayat rezeki seperti dalam QS. Al-Baqarah: 60 dan QS. Al-Jumu'ah: 10 sebagai landasan etos kerja mereka. Dengan begitu mereka bekerja keras, jujur, dan optimis, meyakini bahwa rezeki yang diperoleh adalah karunia Allah yang harus disyukuri dan diiringi doa.

Mencari rezeki di bumi bukanlah sekadar aktivitas fisik, melainkan ibadah yang memiliki dimensi spiritual. Dengan memahami ayat-ayat ini secara komprehensif, seorang Muslim dapat menjalani ikhtiar ekonomi dengan landasan tauhid, etika, dan tanggung jawab sosial.

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Mencari Rezeki di Bumi

1. QS. Al-Mulk [67]: 15

Arab: هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Latin: Huwal-ladzī ja‘ala lakumul-arḍa dzalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū min rizqih, wa ilaihin-nusyūr.

Artinya: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim (8: 179) menafsirkan: "Maka, bepergianlah ke manapun kamu mau dari wilayahnya. Dan telusuri serta pulang pergilah ke setiap sudutnya untuk mencari segala macam keuntungan dan perdagangan. Dan ketahuilah bahwa usahamu tidak akan membawa manfaat apa pun kepadamu kecuali jika Allah memudahkannya untukmu."

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini menguraikan tentang rububiyat, betapa kuasa dan wewenang Allah dalam mengatur alam semesta. Melalui ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menjadikan kenyamanan hidup untuk manusia di bumi sehingga manusia dapat menjadi mudah untuk melakukan aneka aktivitas, baik bertani, berniaga, maupun mencari rezeki di bidang apapun.

Tafsir Jalalayn (Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi) menyebutkan bahwa bumi dijadikan "mudah untuk dipakai berjalan di atas permukaannya", maka "berjalanlah di segala penjurunya" pada semua arahnya, dan "makanlah dari rezeki-Nya" yang sengaja diciptakan untuk manusia.

2. QS. Al-Jumu'ah [62]: 10

Arab: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Latin: Fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantasyirū fil-arḍi wabtaghū min faḍlillāhi ważkurullāha kaṡīran la‘allakum tufliḥūn.

Artinya: "Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

Tafsir Tahlili Kemenag RI menjelaskan bahwa setelah selesai melaksanakan salat Jumat, umat Islam boleh bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan urusan duniawi dan berusaha mencari rezeki yang halal, sesudah menunaikan yang bermanfaat untuk akhirat. Hendaklah mengingat Allah sebanyak-banyaknya dalam mengerjakan usaha dengan menghindarkan diri dari kecurangan dan penyelewengan.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk kembali bekerja dan berbisnis setelah salat, mencari rezeki yang halal, berkah, dan melimpah, serta mengingat Allah banyak-banyak ketika salat maupun ketika bekerja atau berbisnis agar menjadi pribadi yang seimbang, sehat mental dan fisik.

3. QS. Al-Baqarah [2]: 22

Arab: الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Latin: Alladzī ja‘ala lakumul-arḍa firāsyaw was-samā’a binā’aw wa anzala minas-samā’i mā’an fa akhraja bihī minaṡ-ṡamarāti rizqal lakum, fa lā taj‘alū lillāhi andādaw wa antum ta‘lamūn.

Artinya: "(Dialah) yang menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui."

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim menyebutkan bahwa ayat ini menjelaskan tentang keesaan Allah dalam menciptakan dan memberi rezeki. Allah menurunkan hujan dari langit yang menjadi sebab tumbuhnya tanaman dan buah-buahan di bumi sebagai rezeki bagi manusia dan ternak mereka.

Sesungguhnya Dialah yang dengan kekuasaan-Nya menjadikan bumi sebagai hamparan bagi manusia sehingga layak dan nyaman untuk dihuni, dan menjadikan langit sebagai atap yang kukuh. Dialah yang menurunkan air hujan dari langit sebagai sumber kehidupan, lalu menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki. Karena itu, janganlah mengadakan tandingan bagi Allah yang telah menciptakan sedemikian rupa dan telah memberimu rezeki.

4. QS. Al-Qasas [28]: 73

Arab: وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Latin: Wa min raḥmatihī ja‘ala lakumul-laila wan-nahāra litaskunū fīhi wa litabtaghū min faḍlihī wa la‘allakum tasykurūn.

Artinya: "Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya."

Allah menciptakan manusia dari tanah dan mengilhami mereka untuk memakmurkan bumi dengan bercocok tanam, menyiapkan cara-cara mendapat penghidupan, memahat gunung-gunungnya, mendirikan bangunan di tanahnya yang lapang, menikmati rezekinya, dan mengeluarkan harta bendanya. Mencari penghasilan dan pekerjaan di muka bumi merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia.

Hikmah Memahami Ayat Al-Qur'an tentang Mencari Rezeki di Bumi

1. Bumi Diciptakan untuk Memudahkan Manusia Mencari Rezeki

Allah menegaskan bahwa bumi diciptakan dalam keadaan dzalûlan—mudah dijelajahi dan dimanfaatkan. Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia agar mereka dapat bertani, berdagang, dan melakukan berbagai aktivitas ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hikmahnya adalah manusia tidak perlu merasa pesimis atau putus asa dalam mencari rezeki karena Allah telah menyediakan fasilitas yang memadai di bumi ini.

2. Mencari Rezeki adalah Bagian dari Ibadah

Ayat-ayat Al-Qur'an tentang mencari rezeki di bumi sering kali dikaitkan dengan perintah untuk mengingat Allah. Dalam QS. Al-Jumu'ah [62]: 10, setelah perintah bertebaran di bumi dan mencari karunia Allah, langsung diikuti dengan perintah untuk mengingat Allah sebanyak-banyaknya. Ini menunjukkan bahwa bekerja dan berusaha di muka bumi bukanlah aktivitas yang bertentangan dengan ibadah, melainkan bagian integral dari ketaatan kepada Allah.

3. Keseimbangan antara Dunia dan Akhirat

Ayat-ayat ini mengajarkan keseimbangan (tawazun) antara urusan dunia dan akhirat. Setelah menunaikan salat Jumat, umat Islam diperintahkan untuk bertebaran di bumi mencari rezeki, namun tetap mengingat Allah. Hikmahnya adalah seorang Muslim tidak boleh tenggelam dalam urusan duniawi hingga melupakan akhirat, dan sebaliknya tidak boleh meninggalkan dunia secara berlebihan tanpa usaha.

4. Kerja Keras sebagai Wujud Syukur

QS. Al-Qasas [28]: 73 mengaitkan pencarian rezeki dengan rasa syukur. Siang diciptakan untuk mencari karunia Allah, dan malam untuk beristirahat. Hikmahnya adalah bekerja keras dan memanfaatkan waktu siang sebaik mungkin merupakan bentuk syukur kepada Allah atas nikmat waktu dan kesempatan yang diberikan.

5. Tawakal Setelah Berusaha Maksimal

Ibnu Katsir menegaskan bahwa berusaha mencari jalan rezeki sama sekali tidak bertentangan dengan rasa tawakal. Justru, tawakal yang benar adalah berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal. Hikmahnya adalah seorang Muslim harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah yang Maha Pemberi Rezeki.

Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran

1. Apa saja ayat Al-Qur'an yang memerintahkan mencari rezeki di bumi?

Beberapa ayat utama antara lain: QS. Al-Mulk [67]: 15 yang memerintahkan menjelajahi bumi dan memakan rezeki-Nya; QS. Al-Jumu'ah [62]: 10 yang memerintahkan bertebaran di bumi setelah salat Jumat; QS. Al-Baqarah [2]: 22 yang menyebutkan bumi sebagai hamparan dan hujan sebagai sumber rezeki; serta QS. Al-Qasas [28]: 73 yang menyebutkan siang untuk mencari karunia Allah.

2. Apa makna "famsyū fī manākibihā" dalam QS. Al-Mulk ayat 15?

Frasa famsyū fī manākibihā berarti "maka jelajahilah di segala penjurunya". Menurut Ibnu Katsir, ini adalah perintah untuk bepergian ke manapun yang dikehendaki dari wilayah bumi, menelusuri setiap sudutnya untuk mencari keuntungan dan perdagangan. Quraish Shihab menambahkan bahwa ayat ini menegaskan bahwa bumi diciptakan dalam keadaan mudah dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang bermanfaat.

3. Apakah mencari rezeki di bumi bertentangan dengan tawakal?

Tidak. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim menegaskan bahwa berusaha mencari jalan rezeki sama sekali tidak bertentangan dengan rasa tawakal yang harus diyakini. Justru, tawakal yang benar adalah berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal. Allah memerintahkan manusia untuk berusaha, namun hasilnya tetap bergantung pada kehendak-Nya.

4. Apa hikmah utama dari ayat-ayat tentang mencari rezeki di bumi?

Hikmah utamanya adalah bahwa bumi diciptakan Allah untuk memudahkan manusia mencari rezeki, dan aktivitas ini merupakan bagian dari ibadah. Ayat-ayat ini juga mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, kerja keras sebagai wujud syukur, serta tawakal setelah berusaha maksimal. Selain itu, ayat-ayat ini menanamkan kesadaran bahwa rezeki yang diperoleh adalah karunia Allah yang harus disyukuri.

5. Bagaimana penerapan ayat-ayat rezeki di kalangan masyarakat pekerja?

Penelitian Muhammad Khairil dalam Jurnal Ulumuha tentang pemulung Kota Padang menunjukkan bahwa mereka memahami ayat-ayat rezeki sebagai landasan etos kerja. Langkah yang ditempuh meliputi berusaha, bekerja keras, jujur, optimis, dan berdoa kepada Allah, sesuai dengan anjuran QS. Al-Jumu'ah: 10. Mereka meyakini bahwa rezeki adalah karunia Allah yang harus disyukuri dan diiringi doa.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |