PEMERINTAH Norwegia akan memberlakukan larangan ketat penggunaan akal imitasi (AI) generatif bagi siswa sekolah dasar (SD) mulai tahun ajaran baru yang dimulai pada akhir Agustus 2026. Kebijakan ini diterapkan setelah negara tersebut lebih dulu melarang penggunaan ponsel pintar dan tablet di ruang kelas.
Menurut laporan Engadget pada 20 Juni 2026, Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere menilai penggunaan AI berpotensi membuat anak-anak melewatkan tahapan penting dalam proses belajar. Ia mengatakan sekolah seharusnya berfokus mengajarkan siswa cara “membaca, menulis, dan berhitung.”
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Larangan tersebut berlaku bagi siswa kelas satu hingga tujuh atau anak berusia enam hingga 13 tahun. Sementara itu, remaja berusia 14 hingga 16 tahun masih diperbolehkan menggunakan AI generatif dengan pengawasan guru. Adapun siswa berusia 17 tahun ke atas didorong untuk menggunakan teknologi tersebut secara mandiri dan bertanggung jawab.
Kebijakan ini melanjutkan upaya Norwegia mengurangi penggunaan teknologi di lingkungan pendidikan. Pada 2024, pemerintah melarang penggunaan ponsel pintar di sekolah. Kebijakan tersebut dilaporkan berhasil menekan perundungan, meningkatkan prestasi akademik, serta mengurangi kunjungan ke psikolog akibat masalah kesehatan mental, terutama di kalangan siswi perempuan.
Selain membatasi penggunaan AI, Norwegia juga tengah menyiapkan larangan media sosial bagi seluruh anak di bawah usia 16 tahun. Rancangan undang-undang terkait dijadwalkan diajukan ke parlemen sebelum akhir tahun ini. Kebijakan tersebut serupa dengan langkah yang telah diterapkan Australia.
Di Amerika Serikat, pembatasan penggunaan AI oleh anak-anak juga mulai dibahas. Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat tengah mengkaji rancangan undang-undang yang mewajibkan perusahaan AI menerapkan verifikasi usia serta melarang penyediaan chatbot kepada anak di bawah umur.
Rancangan aturan yang dikenal sebagai Guidelines for User Age-verification and Responsible Dialogue Act (GUARD Act) telah lolos dari Komite Kehakiman Senat AS, tetapi belum memasuki tahap pemungutan suara.
Pada awalnya aturan tersebut ditujukan untuk hampir seluruh chatbot berbasis AI. Namun, revisi terbaru mempersempit cakupannya hanya pada layanan yang dikategorikan sebagai “AI companions”, sehingga produk seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot berpotensi tidak termasuk dalam aturan tersebut.
Sejumlah pihak mengkritik perubahan itu karena dinilai dapat membuka celah bagi perusahaan untuk menghindari regulasi jika fungsi chatbot dalam produk mereka dianggap hanya sebagai fitur tambahan. Menurut para pengkritik, batas antara “pendamping AI” dan “alat pencarian” yang digunakan seseorang untuk berinteraksi sepanjang waktu masih sangat tipis.




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4382809/original/074926600_1680593144-top-view-hand-holding-silver-coins.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4016804/original/046265400_1652067919-KPK_4.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518245/original/007067800_1772495256-1.jpg)





