TEMPO.CO, Jakarta - Hari Raya Nyepi untuk memperingati pergantian Tahun Baru Saka. Tahun ini Hari Raya Nyepi jatuh pada Sabtu, 29 Maret 2025. Bagi umat Hindu, Nyepi bermakna merenungkan hidup dan memohon kepada Tuhan untuk menyempurnakan kesucian Bhuana Agung (alam dunia) maupun Bhuana Alit (alam manusia), dalam menemukan jati diri sekaligus mendapatkan keseimbangan diri dan alam semesta.
Selama Nyepi, umat Hindu bermeditasi atau beristirahat, sambil tetap beraktivitas seperti biasa. Namun sesuai aturan selama Nyepi, tidak ada lampu atau api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang. Beberapa memutuskan untuk berpuasa karena adanya larangan untuk memasak atau menghidupkan api.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh. Berbaga desa di Bali membawa patung ogoh-ogoh, patung raksasa yang menggambarkan makhluk mitos dan legenda Bali, mengelilingi jalanan dan diiringi musik gamelan serta tarian. Dilansir dari laman Taman Mini, setiap ogoh-ogoh memiliki makna simbolis, yang merepresentasikan kejahatan atau masalah sosial yang ingin diusir dari masyarakat.
Pawai ogoh-ogoh ini bertujuan untuk membersihkan alam semesta dari kejahatan dan kekacauan, serta menyambut tahun yang baru dengan keadaan batin yang suci. Di akhir pawai, ogoh-ogoh dimusnahkan dalam upacara Tawur Kesanga, di mana mereka dibakar sebagai lambang penyucian.
Pawai ogoh-ogoh di beberapa daerah
Pawai ogoh-ogoh tidak hanya sekedar perayaan tapi juga momen untuk merayakan kekayaan budaya masyarakat Bali. Beberapa daerah di Indonesia juga menggelar pawai ogoh-ogoh, termasuk TMII atau Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Tempat wisata ini menggelar pawai ogoh-ogoh pada Jumat, 28 Maret 2025, sore. Ngarak Ogoh-Ogoh Tauw Kesanga, Sang Kala Rau, digelar di Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabhumi.
Sebelumnya, pawai ogoh-ogoh juga digelar pada Sabtu 22 Maret 2025. Sebuah ogoh-ogoh besar dan 10 ogoh-ogoh kecil yang didatangkan langsung dari Bali. Ogoh-ogoh tersebut diarak dari Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabhumi ke menuju Plaza Kori Agung Museum Indonesia, diiringi tradisi mapeed yang khas serta kehadiran tokoh-tokoh mitologi Bali seperti Rangda dan Barong.
Dilansir dari Antara, pawai ogoh-ogoh untuk menyambut Tahun Baru Saka, juga digelar di kota Batam. Pawai di kota tersebut dilakukan di satu ruas jalan dan usai waktu berbuka puasa.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Provinsi Kepri Purwadi menjelaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari upacara Tawur Kesanga, yang bertujuan untuk membersihkan lingkungan dan membawa kedamaian bagi masyarakat. "Kami berharap melalui perayaan ini, umat Hindu dapat lebih memahami makna spiritual dari Nyepi, sekaligus mempererat hubungan harmonis dengan umat beragama lainnya," ujarnya.
Sementara di Palangka Raya, Kalimantan tengah, pawai ogoh-ogoh digelar di Jalan Bundaran Besar, pada Jumat 28 Maret 2025. Pawai tersebut menampilkan sebanyak delapan ogoh-ogoh yang digelar dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947.