Bacaan Lengkap Asmaul Husna dan Artinya, Cara Pengamalan dan Fadhilahnya

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Memahami Asmaul Husna dan artinya menjadi salah satu cara bagi seorang Muslim untuk mengenal Allah SWT lebih dekat. Asmaul Husna secara bahasa berarti nama-nama yang indah. Nama-nama tersebut menggambarkan kesempurnaan sifat dan keagungan Allah SWT.

Mempelajari Asmaul Husna tidak sekadar menghafalkan 99 nama Allah, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebab, setiap nama Allah memiliki makna yang mendalam.

Mengenal Ar-Rahman, misalnya, mengajarkan seorang hamba tentang luasnya kasih sayang Allah. Sementara Ar-Ghafur mengingatkan manusia bahwa Allah Maha Pengampun. Pemahaman terhadap nama-nama tersebut diharapkan dapat menumbuhkan keimanan sekaligus membentuk sikap dan perilaku seorang Muslim dalam menghadapi berbagai keadaan.

Umat Islam diperintahkan berdoa dengan menyebut nama-nama Allah. Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-A'raf ayat 180. Allah SWT berfirman, “Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu..”.

Dalam buku Al-Asma' al-Husna, Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar menjelaskan bahwa mempelajari nama-nama Allah memiliki kaitan erat dengan upaya membangun dan menguatkan keimanan. Menurutnya, pengetahuan tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah membantu seorang hamba mengenal Tuhan dan Penciptanya secara lebih baik. Dari pemahaman tersebut, seseorang dapat mencapai makrifat kepada Allah dan mengetahui apa yang dikehendaki-Nya.

Bacaan Asmaul Husna dan Artinya

Berikut adalah daftar lengkap 99 Asmaul Husna beserta tulisan Arab, Latin, dan artinya yang telah disusun ulang dalam bentuk daftar urut:

1. الرَّحْمـٰنُ (Ar-Rahmânu): Yang Maha Pengasih

2. الرَّحِيْمُ (Ar-Rahîmu): Yang Maha Penyayang

3. الْمَلِكُ (Al-Maliku): Yang Maha Merajai/Memerintah

4. الْقُدُّوْسُ (Al-Quddûsu): Yang Maha Suci

5. السَّلاَمُ (As-Salâmu): Yang Maha Memberi Kesejahteraan

6. الْمُؤْمِنُ (Al-Mu'minu): Yang Maha Memberi Keamanan

7. الْمُهَيْمِنُ (Al-Muhaiminu): Yang Maha Pemelihara

8. الْعَزِيْزُ (Al-'Azîzu): Yang Maha Perkasa

9. الْجَبَّارُ (Al-Jabbâru): Yang Maha Perkasa (Memiliki Mutlak Kegagahan)

10. الْمُتَكَبِّرُ (Al-Mutakabbiru): Yang Maha Megah

11. الْخَالِقُ (Al-Khâliqu): Yang Maha Pencipta

12. الْبَارِئُ (Al-Bâri'u): Yang Maha Melepaskan/Mengadakan

13. الْمُصَوِّرُ (Al-Mushawwiru): Yang Maha Membentuk Rupa

14. الْغَفَّارُ (Al-Ghaffâru): Yang Maha Pengampun

15. الْقَهَّارُ (Al-Qahhâru): Yang Maha Menundukkan/Menaklukkan

16. الْوَهَّابُ (Al-Wahhâbu): Yang Maha Pemberi Karunia

17. الرَّزَّاقُ (Ar-Razzâqu): Yang Maha Pemberi Rezeki

18. الْفَتَّاحُ (Al-Fattâhu): Yang Maha Pembuka Rahmat

19. الْعَلِيْمُ (Al-'Alîmu): Yang Maha Mengetahui

20. الْقَابِضُ (Al-Qâbidlu): Yang Maha Menyempitkan

21. الْبَاسِطُ (Al-Bâsithu): Yang Maha Melapangkan

22. الْخَافِضُ (Al-Khâfidlu): Yang Maha Merendahkan

23. الرَّافِعُ (Ar-Râfi'u): Yang Maha Meninggikan

24. الْمُعِزُّ (Al-Mu'izzu): Yang Maha Memuliakan

25. الْمُذِلُّ (Al-Mudzillu): Yang Maha Menghinakan

26. السَّمِيْعُ (As-Samî'u): Yang Maha Mendengar

27. الْبَصِيْرُ (Al-Bashîru): Yang Maha Melihat

28. الْحَكَمُ (Al-Hakamu): Yang Maha Menetapkan Hukum

29. الْعَدْلُ (Al-'Adlu): Yang Maha Adil

30. اللَّطِيْفُ (Al-Lathîfu): Yang Maha Lembut

31. الْخَبِيْرُ (Al-Khabîru): Yang Maha Mengetahui (secara mendalam)

32. الْحَلِيْمُ (Al-Halîmu): Yang Maha Penyantun

33. الْعَظِيْمُ (Al-'Azhîmu): Yang Maha Agung

34. الْغَفُوْرُ (Al-Ghafûru): Yang Maha Pengampun

35. الشَّكُوْرُ (As-Syakûru): Yang Maha Mensyukuri

36. الْعَلِيُّ (Al-'Aliyyu): Yang Maha Tinggi

37. الْكَبِيْرُ (Al-Kabîru): Yang Maha Besar

38. الْحَفِيْظُ (Al-Hafîdzu): Yang Maha Memelihara

39. الْمُقِيْتُ (Al-Muqîtu): Yang Maha Memberi Kecukupan

40. الْحَسِيْبُ (Al-Hasîbu): Yang Maha Menghitung

41. الْجَلِيْلُ (Al-Jalîlu): Yang Maha Agung (Luhur)

42. الْكَرِيْمُ (Al-Karîmu): Yang Maha Mulia

43. الرَّقِيْبُ (Ar-Raqîbu): Yang Maha Mengawasi

44. الْمُجِيْبُ (Al-Mujîbu): Yang Maha Mengabulkan

45. الْوَاسِعُ (Al-Wâsi'u): Yang Maha Luas

46. الْحَكِيْمُ (Al-Hakîmu): Yang Maha Bijaksana

47. الْوَدُوْدُ (Al-Wadûdu): Yang Maha Mengasihi

48. الْمَجِيْدُ (Al-Majîdu): Yang Maha Mulia (Maha Pemurah)

49. الْبَاعِثُ (Al-Bâ'itsu): Yang Maha Membangkitkan

50. الشَّهِيْدُ (Asy-Syahîdu): Yang Maha Menyaksikan

51. الْحَقُّ (Al-Haqqu): Yang Maha Benar

52. الْوَكِيْلُ (Al-Wakîlu): Yang Maha Memelihara/Mewakili

53. الْقَوِيُّ (Al-Qawiyyu): Yang Maha Kuat

54. الْمَتِيْنُ (Al-Matînu): Yang Maha Kokoh

55. الْوَلِيُّ (Al-Waliyyu): Yang Maha Melindungi

56. الْحَمِيْدُ (Al-Hamîdu): Yang Maha Terpuji

57. الْمُحْصِيْ (Al-Muhshî): Yang Maha Menghitung

58. الْمُبْدِئُ (Al-Mubdi'u): Yang Maha Memulai

59. الْمُعِيْدُ (Al-Mu'îdu): Yang Maha Mengembalikan

60. الْمُحْيِيْ (Al-Muhyî): Yang Maha Menghidupkan

61. الْمُمِيْتُ (Al-Mumîtu): Yang Maha Mematikan

62. الْحَيُّ (Al-Hayyu): Yang Maha Hidup

63. الْقَيُّوْمُ (Al-Qayyûmu): Yang Maha Berdiri Sendiri

64. الْوَاجِدُ (Al-Wâjidu): Yang Maha Penemu

65. الْمَاجِدُ (Al-Mâjidu): Yang Maha Mulia

66. الْوَاحِدُ (Al-Wâhidu): Yang Maha Esa

67. الْأَحَدُ (Al-Ahadu): Yang Maha Tunggal

68. الصَّمَدُ (Ash-Shamadu): Yang Maha Dibutuhkan

69. الْقَادِرُ (Al-Qâdiru): Yang Maha Kuasa

70. الْمُقْتَدِرُ (Al-Muqtadiru): Yang Maha Menentukan

71. الْمُقَدِّمُ (Al-Muqaddimu): Yang Maha Mendahulukan

72. الْمُؤَخِّرُ (Al-Mu'akhkhiru): Yang Maha Mengakhirkan

73. الْأَوَّلُ (Al-Awwalu): Yang Maha Awal

74. الْآخِرُ (Al-Âkhiru): Yang Maha Akhir

75. الظَّاهِرُ (Azh-Zhâhiru): Yang Maha Nyata

76. الْبَاطِنُ (Al-Bâthinu): Yang Maha Tersembunyi

77. الْوَالِيْ (Al-Wâlî): Yang Maha Memerintah

78. الْمُتَعَالِيْ (Al-Muta'âlî): Yang Maha Tinggi

79. الْبَرُّ (Al-Barru): Yang Maha Baik

80. التَّوَّابُ (At-Tawwâbu): Yang Maha Menerima Tobat

81. الْمُنْتَقِمُ (Al-Muntaqimu): Yang Maha Pembalas

82. الْعَفُوُّ (Al-'Afuwwu): Yang Maha Pemaaf

83. الرَّؤُوْفُ (Ar-Ra'ûfu): Yang Maha Pengasih

84. مَالِكُ الْمُلْكِ (Mâlikul Mulki): Yang Merajai Kerajaan

85. ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (Dzul Jalâli wal Ikrâm): Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan

86. الْمُقْسِطُ (Al-Muqsithu): Yang Maha Adil

87. الْجَامِعُ (Al-Jâmi'u): Yang Maha Mengumpulkan

88. الْغَنِيُّ (Al-Ghaniyyu): Yang Maha Kaya

89. الْمُغْنِيْ (Al-Mughnî): Yang Maha Memberi Kekayaan

90. الْمَانِعُ (Al-Mâni'u): Yang Maha Mencegah

91. الضَّارُّ (Adh-Dhârru): Yang Maha Memberi Bahaya

92. النَّافِعُ (An-Nâfi'u): Yang Maha Memberi Manfaat

93. النُّوْرُ (An-Nûru): Yang Maha Bercahaya

94. الْهَادِيْ (Al-Hâdî): Yang Maha Memberi Petunjuk

95. الْبَدِيْعُ (Al-Badî'u): Yang Maha Pencipta (tanpa contoh)

96. الْبَاقِيْ (Al-Bâqî): Yang Maha Kekal

97. الْوَارِثُ (Al-Wâritsu): Yang Maha Mewarisi

98. الرَّشِيْدُ (Ar-Rasyîdu): Yang Maha Bijaksana

99. الصَّبُوْرُ (Ash-Shabûru): Yang Maha Sabar

Tata Cara dan Waktu Terbaik Mengamalkan Asmaul Husna

Tata Cara Mengamalkan

1. Membaca dengan Tartil dan Penghayatan

Asmaul Husna hendaknya dibaca dengan perlahan, tartil, dan penuh penghayatan terhadap setiap makna yang terkandung di dalamnya. Seorang hamba tidak sekadar melafalkan, tetapi juga merenungkan kebesaran Allah melalui nama-nama yang dibacanya.

2. Berdoa dengan Menyebut Asmaul Husna

Allah memerintahkan umat-Nya untuk berdoa dengan menyebut Asmaul Husna. Cara ini diyakini menjadi sebab terkabulnya doa dan tercegahnya malapetaka. Rasulullah s.a.w. sendiri biasa memohon kepada Allah dengan Asmaul Husna dan bertawasul kepada-Nya dengan nama-nama tersebut.

3. Meneladani Sifat-Sifat Allah

Mengamalkan Asmaul Husna berarti berusaha meniru sifat setiap nama Allah dalam praksis kehidupan. Sebagai contoh, seorang hamba yang memahami Al-'Afuww (Maha Pemaaf) akan terdorong untuk memaafkan kesalahan orang lain.

4. Membaca dengan Jumlah Tertentu

Beberapa ulama menganjurkan membaca Asmaul Husna dengan jumlah tertentu, misalnya 7 kali, 11 kali, 21 kali, atau 100 kali. Jumlah ini dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kekhusyukan masing-masing.

5. Diawali dengan Shalawat

Sebagian ulama menganjurkan untuk mengawali wirid Asmaul Husna dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad s.a.w..

Waktu Terbaik Mengamalkan

1. Setelah Shalat Fardhu

Waktu paling utama untuk membaca Asmaul Husna adalah setelah menunaikan shalat fardhu lima waktu. Ini merupakan waktu yang mustajab untuk berzikir dan berdoa.

2. Pagi dan Sore Hari

Asmaul Husna dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang sebagai wirid harian. Membacanya di waktu ini dapat menjadi benteng perlindungan diri sepanjang hari.

3. Sebelum Tidur

Membaca Asmaul Husna sebelum tidur dapat membawa ketenangan jiwa dan mimpi yang baik.

4. Saat Memulai Aktivitas

Membaca Asmaul Husna di awal hari dapat menjadi bekal spiritual untuk menghadapi berbagai aktivitas dan tantangan.

Fadhilah Asmaul Husna

1. Sebab Masuk Surga

Keutamaan paling utama dari Asmaul Husna adalah janji Rasulullah s.a.w. bahwa barangsiapa menghafal, memahami, dan mengamalkannya akan masuk surga. Sebagaimana sabda Nabi: "Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menguasainya akan masuk surga." (HR Bukhari dan Muslim). Menghitung dan menghafalnya berarti menjaganya dengan baik, bukan sekadar melafalkan.

2. Sebab Terkabulnya Doa

Asmaul Husna menjadi perantara agar doa mudah dikabulkan. Allah berfirman: "Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka berdoalah kalian kepada Allah dengan Asmaul Husna." (QS Al-A'raf: 180). Berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang sesuai dengan hajat yang diminta menjadi sebab terkabulnya doa dan tercegahnya malapetaka.

3. Menambah Keimanan dan Ketenangan Hati

Memahami dan mengamalkan Asmaul Husna akan menambah keimanan serta menghilangkan kesusahan dan kegalauan hati. Melalui nama-nama-Nya, seorang hamba mengenal Allah secara lebih mendalam, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Allah Swt. mencintai seorang hamba yang mencintai Asmaul Husna.

4. Memudahkan Urusan dan Menyembuhkan Penyakit

Dalam kitab Khawwash Asma'ul-Husna Littadawi wa Qadha il-Hajat, Syekh Muhammad bin Alwi al-Aidarus menjelaskan bahwa berdzikir dengan Asmaul Husna bermanfaat bagi urusan dunia, agama, dan akhirat. Orang yang membacanya akan dipermudah hidupnya, utangnya terlunasi, dan disembuhkan dari penyakit. Tidak ada kesulitan yang ditekuni dengan Asmaul Husna melainkan Allah akan melapangkannya.

5. Mengenal Allah dengan Sebenar-Benarnya

Asmaul Husna adalah media untuk mengenal Allah Swt.. Allah hanya bisa dikenal melalui sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya, dan perbuatan-Nya. Seluruh nama Allah itu bagus dan menunjukkan kesempurnaan dan pujian yang absolut. Dengan mengenal nama-nama Allah dan tafsirnya, seorang hamba dapat mengagungkan Allah Swt. dengan hak.

Pertanyaan Seputar Asmaul Husna

1. Apa itu Asmaul Husna?

Asmaul Husna adalah nama-nama Allah Swt. yang paling indah dan agung, berjumlah 99 nama. Secara bahasa, "Asma" berarti nama-nama, sedangkan "Husna" berarti baik atau indah. Nama-nama ini mencerminkan sifat-sifat kesempurnaan Allah dan disebutkan dalam Al-Qur'an serta hadits.

2. Berapa jumlah Asmaul Husna?

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Asmaul Husna berjumlah 99 nama, seratus kurang satu. Meskipun demikian, tidak ada yang mengetahui secara pasti keseluruhan nama Allah selain Allah sendiri.

3. Apa dalil tentang keutamaan Asmaul Husna?

Dalil utamanya adalah hadits Rasulullah s.a.w.: "Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya akan masuk surga." (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, firman Allah dalam Surat Al-A'raf ayat 180: "Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu."

4. Bagaimana cara mengamalkan Asmaul Husna?

Cara mengamalkannya antara lain: membacanya dengan tartil dan penghayatan, berdoa dengan menyebut nama-nama yang sesuai dengan hajat, meneladani sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari, serta mengamalkannya secara rutin pada waktu-waktu utama seperti setelah shalat fardhu, pagi dan sore hari.

5. Apa manfaat membaca Asmaul Husna setiap hari?

Manfaatnya antara lain: menjadi sebab masuk surga, doa lebih mudah dikabulkan, menambah keimanan dan ketenangan hati, memudahkan urusan hidup, melunasi utang, menyembuhkan penyakit, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.. Dengan mengamalkannya secara istiqamah, seorang hamba akan merasakan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |