Bocah di Kanada Tewas Setelah Wajahnya Dihinggapi Kelelawar

7 hours ago 13

SEORANG anak laki-laki berusia 11 tahun di Ontario, Kanada, meninggal akibat rabies setelah dihinggapi kelelawar saat tidur. Kasus ini mendorong para dokter mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis setelah kontak dengan kelelawar, meski tidak ditemukan bekas gigitan maupun cakaran.

Laporan yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal pada 29 Juni 2026 ini menyebutkan, peristiwa itu terjadi saat anak tersebut sedang berlibur bersama orang tuanya di sebuah pondok di wilayah utara Ontario pada 2024. Ia terbangun ketika seekor kelelawar berada di hidung dan mulutnya. Ayahnya kemudian menangkap kelelawar itu menggunakan panci dan melepaskannya di luar pondok.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Karena tidak ada luka yang terlihat dan kelelawar tidak tampak agresif, keluarga memutuskan tidak membawa anak tersebut menjalani pemeriksaan medis. Tapi, sekitar beberapa pekan kemudian, anak itu mulai mengalami kesemutan, mati rasa, dan pembengkakan di sisi kanan wajah. Kondisinya terus memburuk hingga muncul gangguan bicara, demam, kebingungan, halusinasi, kesulitan menelan, serta produksi air liur yang berlebihan.

Setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari di McMaster Children’s Hospital, hasil pemeriksaan memberi konfirmasi kalau bocah itu positif rabies. Lima hari kemudian fungsi batang otaknya hilang sepenuhnya, dan 17 hari setelah dirawat alat bantu hidupnya dilepas setelah melalui konsultasi antara keluarga dan tim medis.

Rabies merupakan penyakit akibat infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), penyakit ini umumnya ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi. Di Amerika Utara, kelelawar menjadi penyebab sebagian besar kasus rabies pada manusia.

“Kelelawar memiliki risiko khusus karena gigitan atau cakaran dapat berukuran kecil dan mudah terlewatkan, serta pasien mungkin tidak mengingat atau menyadari pernah terpapar kelelawar,” tulis tim medis dalam laporannya, dikutip dari laporan Live Science, 2 Juli 2026. 

Laporan juga menyebutkan bahwa virus rabies harus mencapai otak sebelum gejala muncul. Namun, setelah gejala berkembang, infeksi ini hampir selalu berakibat fatal. Sebaliknya, penanganan segera setelah paparan berupa pembersihan luka, pemberian antibodi, dan rangkaian vaksin hampir selalu efektif mencegah penyakit berkembang.

Kasus rabies pada manusia tergolong sangat jarang di Amerika Utara. Catatan CDC menyatakan kurang dari 10 kematian akibat rabies terjadi setiap tahun di Amerika Serikat. Di Kanada bahkan lebih langka lagi karena Canadian Veterinary Medical Association melaporkan hanya 28 kematian akibat rabies pada manusia di negara itu sejak 1924.

“Pengenalan dini terhadap paparan dan pemberian PEP (profilaksis pascapajanan) secara tepat waktu tetap menjadi satu-satunya cara yang efektif untuk mencegah rabies,” tulis tim medis. “Setiap kontak langsung manusia dengan kelelawar, bahkan tanpa adanya bekas gigitan atau cakaran yang terlihat, merupakan indikasi untuk pemberian PEP.”

Mereka juga mengingatkan bahwa kelelawar yang terinfeksi rabies tidak selalu menunjukkan gejala khas, seperti bersikap agresif atau mengeluarkan busa dari mulut. “Setiap kontak langsung manusia dengan kelelawar dianggap berisiko tinggi,” tulis mereka.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |