Bos ID Food Blakblakan soal Kesulitan Dapat Kemasan Plastik

5 hours ago 2

DIREKTUR Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food Ghimoyo bercerita perusahaannya mulai kesulitan mendapatkan produk kemasan plastik. “Lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan,” kata Ghimoyo dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Selasa, 7 April 2026.

Ghimoyo mengatakan krisis plastik terjadi karena pabrik produsen mulai mengalami kelangkaan bahan baku atau biji plastik terimbas konflik TImur Tengah. Menurutnya, kemasan plastik sangat penting untuk produk pangan seperti beras dan minyak goreng hingga pupuk. “Ini lebih krusial, karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik,” tuturnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Harga plastik di Tanah Air melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir akibat terganggunya pasokan nafta yakni turunan minyak bumi yang menjadi bahan utama dalam produksi plastik yang diimpor dari Timur Tengah. Perang Iran-Israel membuat distribusi energi dan bahan kimia di kawasan tersebut terganggu, sehingga memicu kenaikan harga di pasar global.

Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya mengatakan pemerintah tengah mencari alternatif sumber nafta untuk memastikan pasokan tetap lancar dan menstabilkan harga di dalam negeri. “Memang kita itu kan bahan baku plastik salah satunya nafta, harus impor dari Timur Tengah. Sementara saat ini Timur Tengah kan lagi terdampak perang Iran-Israel dan Amerika Serikat," ujarnya saat ditemui seusai kunjungan ke wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis, 2 April 2026.

Budi menyebutkan setidaknya ada tiga negara yang menjadi alternatif pemasok bahan baku plastik tersebut yaitu Afrika, India, dan Amerika. Negosiasi dengan pemasok nafta dari tiga negara itu tengah dilakukan, meskipun penyelesaian kontrak dan distribusi masih memerlukan waktu.

Selain masalah pasokan dari Timur Tengah, Budi mengungkapkan beberapa negara yang selama ini menjadi penghasil dan pemasok plastik global juga menghadapi kendala produksi. 

Beberapa fasilitas di Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan dilaporkan mengalami force majeure, sehingga tidak mampu memenuhi kontrak pasokan. “Jadi ini memang masalah global. Mudah-mudahan perang selesai dan semua bisa normal kembali nanti,” tuturnya. 

Salah seorang pemilik toko plastik di wilayah Sukoharjo, Zubaedah, 47 tahun, menuturkan lonjakan harga plastik sudah terasa sejak sebelum Lebaran 2026. "Sebelum Lebaran kemarin harga plastik kenaikannya rata-rata sekitar 30 persen. Setelah Lebaran naik lagi rata-rata sampai sekitar 70 persen," tuturnya saat dihubungi Tempo

Ia mencontohkan untuk beberapa merek plastik kualitas bagus dari yang semula harganya Rp 7 ribu per pack untuk ukuran tertentu sekarang menjadi Rp 10.000 per pack. Merek lain untuk plastik cup ukuran tertentu dari harga semula Rp 8.000 per pack menjadi Rp 13.000 per pack.

Septia Ryanthie berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |