Hari Keluarga Nasional, Mengulik Kondisi Father Wound dan Tanda-tanda yang Dialami Anak

2 hours ago 3

CANTIKA.COMJakarta -  Tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun 2026, "Ayah Wajib Hadir", mengingatkan bahwa peran ayah tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Kehadiran ayah juga dibutuhkan secara emosional agar anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki hubungan yang sehat di masa depan.

Sebab, ketika sosok ayah tidak benar-benar hadir dalam kehidupan anak, dampaknya bisa membekas hingga dewasa. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai father wound atau luka emosional akibat hubungan yang tidak sehat dengan figur ayah.

Psikolog Anisa Cahya Ningrum menjelaskan bahwa father wound merupakan luka psikologis yang muncul karena seseorang tidak mendapatkan kehadiran ayah sebagaimana yang dibutuhkan selama masa tumbuh kembang.

Father Wound Tidak Selalu Berarti Kehilangan Ayah

Menurut Anisa, masih banyak orang yang mengira father wound hanya dialami oleh mereka yang ditinggal ayah karena meninggal dunia atau perceraian. Padahal, luka emosional ini juga bisa terjadi ketika ayah hadir secara fisik, tetapi tidak tersedia secara emosional.

"Father wound adalah luka atau cedera psikologis yang dialami seseorang karena tidak mendapatkan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Ketidakhadiran ini bisa bersifat fisik maupun emosional, termasuk ketika anak merasakan penolakan, pengabaian, atau tekanan emosional selama masa tumbuh kembang," jelas Anisa kepada Cantika, Minggu, 28 Juni 2026. 

Ia menambahkan bahwa anak membutuhkan figur ayah sebagai sumber rasa aman, tempat berlindung, pemberi arahan, sekaligus sosok yang memvalidasi emosinya.

Sebaliknya, ketika anak merasa diabaikan, ditolak, dijauhi, atau bahkan mengalami kekerasan fisik, verbal, maupun emosional, luka tersebut dapat tersimpan lama dan memengaruhi kehidupannya di masa depan.

Ilustrasi ayah dan anak. Pexels/Anastasia Shuraeva

Perilaku Ayah yang Dapat Memicu Father Wound

Tidak semua luka berasal dari peristiwa besar. Menurut Anisa, berbagai perilaku yang tampak sederhana tetapi terjadi berulang kali juga dapat meninggalkan bekas emosional pada anak.

Beberapa perilaku yang berpotensi memicu father wound antara lain:

- Meninggalkan anak tanpa penjelasan atau komunikasi yang memadai.

- Jarang memberikan pelukan atau sentuhan kasih sayang.

- Sering mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.

- Tidak pernah memberikan apresiasi terhadap usaha anak.

- Memberikan tuntutan yang berlebihan.

- Tidak pernah merasa puas dengan pencapaian anak.

- Terus membandingkan anak dengan orang lain.

- Bersikap kasar kepada pasangan, anak, atau anggota keluarga lainnya.

- Membiarkan ibu atau anak menghadapi berbagai persoalan sendirian tanpa dukungan.

"Anak membutuhkan rasa diterima dan dihargai. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi secara konsisten, luka emosional dapat terbentuk," ujar Anisa.

Tanda-tanda Father Wound saat Dewasa

Luka yang muncul di masa kecil tidak selalu terlihat saat itu juga. Banyak orang baru menyadari dampaknya ketika memasuki usia dewasa dan mulai membangun hubungan dengan pasangan maupun keluarga.

Menurut Anisa, beberapa tanda father wound antara lain:

- Sulit mengenali jati diri atau tujuan hidup.

- Kesulitan mengekspresikan emosi karena takut dianggap lemah.

Menyimpan kemarahan yang suatu saat dapat meledak.

Memiliki kecenderungan perfeksionis dan takut gagal.

Sulit membangun kedekatan emosional dengan pasangan.

Kesulitan menjalankan peran sebagai orang tua karena tidak memiliki contoh yang sehat.

Pada sebagian laki-laki, muncul kecenderungan menyerahkan seluruh keputusan keluarga kepada pasangan karena sejak kecil tidak melihat figur ayah menjalankan peran tersebut.

Mengapa father wound bisa terbawa hingga dewasa? Menurut Anisa, pengalaman masa kecil bersama orang tua akan tersimpan dalam memori otak dan membentuk pola berpikir serta perilaku seseorang. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan teori kelekatan (attachment theory), yaitu bagaimana hubungan awal anak dengan pengasuh utamanya akan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun menjalin hubungan dengan orang lain.

"Interaksi awal dengan orang-orang terdekat akan membentuk pola kelekatan. Ketika ada trauma akibat kehilangan atau ketidakhadiran ayah, seseorang bisa tumbuh dengan perasaan tidak aman, cemas, bahkan menghindari hubungan yang dekat dengan orang lain," jelasnya.

Dalam hubungan romantis, luka yang belum pulih juga dapat muncul dalam bentuk perilaku yang berlebihan, seperti terlalu mengekang pasangan, memiliki tuntutan yang tinggi, atau justru menolak kedekatan emosional.

Anisa mengingatkan bahwa father wound yang tidak disadari dan tidak dipulihkan dapat membentuk pola pengasuhan yang sama pada generasi berikutnya. Trauma yang tersimpan sejak kecil dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan pasangan maupun anak-anaknya. Akibatnya, siklus luka emosional terus berulang dalam keluarga.

ECKA PRAMITA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |