IHSG Turun ke 5.941,07, Pasar Pertanyakan Kredibilitas RI

6 hours ago 2

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Rabu sore ditutup melemah. Investor mencermati tata kelola dan kredibilitas kebijakan Indonesia.

IHSG ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 30,28 poin atau 4,89 persen ke posisi 588,99.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah dipimpin sektor barang baku yang turun sebesar 9,31 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor infrastruktur yang masing-masing turun sebesar 5,23 persen dan 5,01 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu WEHA, MMIX, OMRE, MSIN dan CASA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni TPIA, APIC, ARKO, GMTD dan KJEN.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.767.373 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 40,17 miliar lembar saham senilai Rp25,25 triliun. Sebanyak 69 saham naik, 692 saham menurun dan 54 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.742,76 poin atau 2,61 persen ke 68.477,00, indeks Shanghai menguat 8,87 poin atau 0,22 persen ke 4.083,97, indeks indeks Hang Seng melemah 405,11 poin atau 1,56 persen ke 26.038,32, dan indeks Strait Times menguat 37,29 poin atau 0,73 persen ke 5.134,98.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan IHSG hari ini sempat anjlok ke level dekat 5,882 atau balik ke level terendah tahun 2025. Sementara rupiah menembus Rp 17,950 per dolar AS dan investor asing mencatat net sell Rp 66.20 triliun sepanjang tahun berjalan.

"Kondisi ini terasa semakin kontras ketika beberapa bursa global justru masih mampu catatkan rekor baru masing-masing," kata Liza dalam analisis Kiwoom Sekuritas yang diterima Tempo, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Liza, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia. Setidaknya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor saat ini, yakni tata kelola dan kredibiltas setelah outlook negatif dari Moody's dan Fitch,
tekanan rupiah yang mendekati level 18 ribu per dolar AS, menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik, dan foreign outflow yang terus berlanjut.

"Terakhir, yang paling hot atau viral belakangan ini adalah meningkatnya leadership & policy communication risk di mata investor global," kata Liza.

Pertanyaannya, apakah Indonesia sedang memasuki fase structural de-rating, Liza mengatakan, "Mungkin saja, tetapi belum tentu." Sebab nyatanya saat ini pasar terlihat mulai memperlakukan Indonesia berbeda dibanding emerging markets lain. EIDO (Indonesia ETF) mencatat return -28,6 persen sejak awal 2025, sementara emerging markets naik +64.6 persen, Vietnam +63,2 persen, Taiwan +107,2 persen, dan Amerika Serikat +30,9 persen.

"Dengan kata lain, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, tapi mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," kata Liza.

Dia menambahkan, fokus investor kini bergeser ke dua minggu paling krusial tahun ini. Pada 19 Juni, akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review. Disusul FTSE Rebalancing yang efektif 22 Juni, serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026. Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia.

Menurut Liza, menariknya, hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah muncul dalam enam bulan terakhir: Rupiah melemah, foreign outflow meningkat, Moody's dan Fitch negatif, kekhawatiran terhadap S&P meningkat, serta MSCI dan FTSE melakukan review terhadap Indonesia. Namun hingga saat ini, Indonesia masih mempertahankan status investment grade, S&P masih mempertahankan outlook stabil, MSCI belum mengubah klasifikasi Indonesia, dan FTSE juga belum menempatkan Indonesia dalam downgrade watch list.

Artinya, dia melanjutkan, sebagian risiko yang saat ini ditakuti pasar masih berupa kemungkinan, bukan fakta yang telah terjadi. "Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak, suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market. Sementara pasar masih mencerna implementasi awal DSI, DHE SDA, ada lagi aturan baru pajak UMKM, and God knows what in the near future," kata Liza.

Menurut dia, pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual. Pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual. Dalam jangka pendek, FTSE dan MSCI kemungkinan akan menjadi ujian terpenting berikutnya. Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi "mengapa IHSG jatuh?", melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya.

Antara memberikan kontribusi terhadap penulisan artikel ini
Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |