Jepang Sambut Gencatan Senjata Israel-Libanon

3 hours ago 3

PEMERINTAH Jepang menyambut kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Libanon, yang dicapai melalui mediasi Amerika Serikat, pada Jumat, 17 April 2026. Tokyo menyebut langkah itu sebagai kemajuan penting menuju perdamaian di Timur Tengah.

Menurut Kyodo News, gencatan senjata yang pertama kali diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial itu mulai berlaku pada tengah malam Kamis di Beirut. Kesepakatan tersebut terjadi di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung di kawasan, termasuk perundingan Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Jepang Sambut Gencatan Senjata

Deputi Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Masanao Ozaki dalam konferensi pers di Tokyo mengatakan Jepang menyambut kesepakatan ini sebagai langkah penting menuju perdamaian di Timur Tengah. "Jepang memandang kesepakatan itu sebagai perkembangan awal yang perlu dijaga di tengah situasi yang masih tidak pasti," kata Ozaki.

Di tengah ketidakpastian pelaksanaan gencatan senjata, Ozaki mengatakan Jepang sangat berharap kesepakatan ini dapat dipertahankan dan membawa lebih jauh pada perdamaian serta stabilitas di kawasan. "Langkah ini penting sebagai upaya meredakan ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah," kata Ozaki.

Pengumuman Gencatan Senjata

Dikutip Anadolu, pada Kamis, Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Libanon akan memulai gencatan senjata selama 10 hari pada tengah malam waktu Beirut dan Tel Aviv (2100GMT).

Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan, “Saya baru saja melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun dari Libanon yang sangat dihormati, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel.”

Ia menambahkan, “Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara kedua negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata selama 10 hari pada pukul 5 sore waktu EST.” Pengumuman tersebut disampaikan setelah perundingan yang dimediasi Amerika Serikat antara delegasi Israel dan Libanon di Departemen Luar Negeri AS di Washington DC pada Selasa.

Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu balasan dari Teheran terhadap sekutu Amerika Serikat di Teluk serta dari Hizbullah di Libanon. Israel kemudian meningkatkan serangan terhadap Hizbullah yang menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan sekitar 1 juta warga mengungsi dalam enam pekan terakhir.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |