KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan aplikasi Reviu MBG bertujuan untuk mendapatkan umpan balik dari penerima manfaat. Aplikasi yang diluncurkan pada Selasa, 26 Mei 2026 ini juga untuk melihat kualitas layanan dan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Bisa melihat kualitas layanan, kualitas menu, dan ketepatan pengiriman," kata Dadan saat dihubungi, Jumat, 29 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
BGN akan menunjuk para person in charge (PIC) penerima manfaat untuk menggunakan aplikasi Reviu MBG. PIC terdiri dari guru, kepala posyandu, hingga pengurus pondok pesantren. "PIC dari masing-masing kelompok penerima manfaat diminta untuk mengakses aplikasi dan memberikan penilaian," kata Dadan.
Dadan berkata aplikasi ini membuat BGN bisa memantau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) "BGN bisa langsung memantau SPPG mana yang perlu diawasi lebih seksama," kata dia.
Berdasarkan data laporan masuk reviu MBG yang dibagikan Dadan, tercatat sebanyak 3.144 laporan telah masuk dari penerima manfaat. Dari jumlah tersebut, 3.135 laporan atau 99,71 persen menyatakan makanan yang diterima layak untuk dikonsumsi, sementara hanya sembilan laporan yang menyebut makanan tidak layak konsumsi.
Sementara itu, sebanyak 815 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tercatat telah menyampaikan laporan atau sekitar 0,37 persen dari total 220.251 KPM yang telah terdata. Selain itu, terdapat 215 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dilaporkan atau sekitar 1,02 persen dari total 21.024 SPPG yang telah dipetakan.
Dari aspek distribusi, sebanyak 3.076 laporan atau 97,84 persen menyebutkan makanan diterima tepat waktu maupun lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Namun, masih terdapat 68 laporan yang mencatat keterlambatan pengiriman makanan.
Selain itu, sebanyak 3.128 laporan atau 99,49 persen menyatakan aroma makanan dalam kondisi layak, dengan hanya 16 laporan yang menyebutkan kondisi aroma tidak layak. Dari sisi tampilan, 3.122 laporan atau 99,30 persen menilai makanan layak disajikan, sementara 22 laporan mengindikasikan tampilan makanan tidak layak.
Sementara itu, dari aspek rasa, sebanyak 3.103 laporan atau 98,70 persen menyebut rasa makanan dalam kondisi normal. Terdapat 41 laporan yang mencatat rasa makanan tidak normal.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4174191/original/099991100_1664358430-bacaan-doa-setelah-adzan-beserta-arti-dan-keutamaannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385863/original/035777200_1760946460-KIP_Kuliah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)
















