Rupiah Makin Terpuruk, BI: Dipengaruhi Ketidakpastian Global

5 hours ago 5

BANK Indonesia (BI) buka suara soal nilai tukar rupiah yang terus melemah pada periode libur dan cuti bersama Iduladha. Pada Kamis, 28 Mei 2026, rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.845 per dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat, 29 Mei 2026, rupiah kembali melemah di level Rp 17.880 per dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah. “Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN (Utang Luar Negeri) dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” ucapnya dalam keterangan tertulis pada Jumat, 29 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Denny menyatakan BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, secara around the world dan around the clock. Ia mengatakan komitmen itu diwujudkan melalui optimalisasi intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Selain itu, kata Denny, Bank Indonesia juga terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing. BI juga telah menetapkan ambang batas pembelian valas tanpa underlying menjadi US$ 25 ribu per orang per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” ucap Denny.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, dari sisi internal, perkembangan nilai tukar dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed yang menahan suku bunga. Hal itu mengakibatkan keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Akibatnya, investor cenderung memindahkan aset ke instrumen berisiko rendah. “Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI (Morgan Stanley Capital International), kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN,” katanya dalam keterangan tertulis pada Jumat, 29 Mei 2026.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |