Terapi Brain Freeze untuk Melindungi Otak Setelah Stroke

3 hours ago 2

PENELITI menemukan kombinasi dua obat yang dapat memicu kondisi menyerupai hipotermia atau “brain freeze” yang berpotensi memperlambat kerusakan otak akibat stroke. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menggunakan dua obat yang telah lama tersedia, yakni antipsikotik chlorpromazine dan obat penenang promethazine, yang dikombinasikan sebagai terapi C+P. Pada uji praklinis, kombinasi tersebut mampu memicu kondisi mirip hipotermia sekaligus melindungi jaringan otak pada tikus dan monyet yang mengalami stroke.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Peneliti juga menguji keamanan terapi tersebut pada 32 pasien stroke. Hasilnya, infus C+P tidak menimbulkan efek samping yang berarti. Meski demikian, terapi tersebut belum menunjukkan perbaikan signifikan terhadap luaran klinis pasien stroke.

Asisten profesor neurologi di Washington University School of Medicine di St. Louis, Dr. Eric Landsness, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan studi ini memberikan pemahaman baru mengenai mekanisme yang mendasari manfaat hipotermia.

“Yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa jelas bukan hanya hipotermianya, tapi juga hipometabolismenya,” katanya seperti dikutip dari laporan Live Science, 24 Juni lalu.

Penelitian ini berfokus pada stroke iskemik akut, yaitu jenis stroke yang terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat. Stroke iskemik merupakan bentuk stroke paling umum dan mencakup lebih dari 85 persen dari seluruh kasus.

Selama ini, hipotermia terapeutik diketahui dapat membantu melindungi otak, terutama setelah henti jantung maupun pada bayi yang mengalami kekurangan suplai darah dan oksigen ke otak saat lahir. Namun, penerapannya pada pasien stroke dewasa belum memberikan hasil yang konsisten.

Dalam studi terbaru, para peneliti membandingkan terapi C+P dengan dua metode lain untuk menurunkan suhu tubuh pada tikus, yakni menggunakan obat adenosine 5’-monophosphate dan pendinginan dengan air dingin serta kantong es. Ketiganya sama-sama menurunkan suhu tubuh, tetapi hanya C+P yang terbukti menekan konsumsi oksigen dan pengeluaran energi, yang menjadi indikator perlambatan metabolisme.

Menurut profesor fisiologi dan ilmu saraf, neurologi, serta bedah saraf di University of Southern California Keck School of Medicine, Dr. Patrick Lyden, perlambatan metabolisme menjadi salah satu alasan mengapa hipotermia dapat melindungi otak. “Karena metabolisme melambat, proses kematian sel di otak juga melambat,” ucapnya. 

Pada hewan percobaan, terapi C+P juga menurunkan pembakaran gula di otak dan jaringan lemak cokelat, mengurangi kerusakan jaringan otak, serta menekan penumpukan laktat yang dapat memicu kematian sel. Efek serupa juga diamati pada monyet rhesus.

Sementara itu, pada pasien yang menerima dosis tertinggi C+P, peneliti menemukan penurunan kadar protein yang berkaitan dengan metabolisme. Kelompok ini juga mengalami penurunan suhu tubuh empat jam setelah terapi diberikan, meski belum mencapai kondisi hipotermia.

Meski demikian, terapi C+P belum terbukti mengurangi tingkat kerusakan otak yang diamati 72 jam setelah pengobatan maupun meningkatkan kemampuan pasien menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri setelah 90 hari.

Para penulis studi menyatakan bahwa uji klinis lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah terapi C+P benar-benar memberikan efek perlindungan terhadap otak pada pasien stroke.

Di sisi lain, Lyden mengingatkan bahwa kombinasi chlorpromazine dan promethazine masih berpotensi menimbulkan efek samping seperti kejang otot, kejang, atau gangguan irama jantung akibat interaksi kedua obat tersebut. Karena itu, para peneliti menilai masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme kerja kombinasi obat tersebut sekaligus mengembangkan alternatif terapi lain yang mampu memperlambat metabolisme tanpa menimbulkan risiko serupa.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |