10 Hadist Tentang Ikhlas Arab dan Terjemah Lengkap Maknanya, Kunci Penentu Amal

3 months ago 37

Liputan6.com, Jakarta Ikhlas merupakan satu perilaku seseorang jika mengerjakan sesuatu tidak mengharapkan imbalan apapun. Orang dengan sifat ikhlas tidak pernah mengharapkan pujian atau imbalan dari manusia. Dalam berbagai riwayat, hadist tentang ikhlas menekankan perilaku yang hanya mengharapkan ridha dari Allah SWT.

Dalam Surah An-Nisa ayat 125, dijelaskan penekanan kata muhsinun atau menyerahkan diri kepada Allah. Selain ayat Al Quran ada banyak hadist tentang ikhlas yang menekankan perintah hanya berharap kepada Allah SWT.

Dijelaskan dalam buku Mutiara Hadits Qudsi Oleh Ahmad Abduh Iwadh,  2008 lm. 91, ikhlas menjadi syarat utama diterimanya suatu amal. Jika tidak ikhlas disebut riya, hal ini malah menyebabkan amal seseorang menjadi rusak. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan orang yang tidak ikhlas dalam beramal termasuk riya’ dan menjadi golongan musyrik

Berbagai hadist tentang ikhlas berikut menjadi dasar penekanan untuk selalu mengharap keridhaan Allah dalam setiap amal. 

 1. Amalan yang Diterima Allah

Hadist tentang ikhlas berikut maknanya sangat menekankan keikhlasan disandarkan pada setiap ibadah. Berikut bunyi hadistnya.

إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang murni (Ikhlas) hanya untuk-Nya, dan dicari wajah Allah dengan amalan tersebut. (HR. An-Nasa'l no. 3140, dishahihkan Al-Albani].

2. Keikhlasan Bukan Fisik 

Hadist tentang ikhlas selanjutnya menerangkan berisi makna penilaian Allah terhadap amal yang objektif. 

  إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ   

Artinya: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan harta-bendamu, tetapi Allah melihat (menilai) pada hatimu dan amalmu". [HR. Muslim juz 4, hal. 1987]

3. Setiap Amal Tergantung Pada Niat

Niat yang tulus mendasari amalan yang tulus. Dalam Islam, setiap ibadah akan dinilai berdasarkan niatnya. Makna hadist tentang ikhlas ini berlaku untuk menilai niat dari seseorang saat beramal. 

  إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Artinya: "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya. Maka barangsiapa yang berhijrah karena menginginkan keuntungan dunia yang akan didapatnya atau karena menginginkan wanita yang dia akan mengawininya, maka hijrahnya itu akan mendapatkan sesuai apa yang ia berniat hijrah padanya". [HR. Bukhari juz 1, hal. 2]

4. Riya’ Menghancurkan Keikhlasan

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, hadist tentang ikhlas berikut ini memiliki makna yang jelas bahwa  riya’ adalah lawan dari ikhlas. 

  سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ عَنِ الرَّجُلِ يُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.   

Artinya: “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, orang yang berperang karena membela golongannya dan orang yang berperang karena riya' (ingin dipuji orang), siapa diantara mereka itu yang termasuk dijalan Allah?. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Barangsiapa yang berperang agar supaya kalimat Allah itu yang paling tinggi, maka dialah yang (berperang) dijalan Allah". [HR. Muslim juz 3, hal. 1513]

5. Balasan Orang yang Syirik Kecil

Syirik adalah dosa besar yang dibenci Allah SWT. Saat beramal, seorang muslim hendaknya hanya mengharap ridha Allah SWT. Jangan sampai sebuah amal baik hanya diniatkan untuk sekedar pamer atau urusan dunia belaka. Makna hadist berikut berisi amalan ini dikhawatirkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist berikut. 

  إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشَّرْكُ الأَصْغَرُ . قَالُوا : وَمَا الشَّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُبِأَعْمَالِهِمْ: اِذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَحِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟ 

"Artinya: "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan atas kamu sekalian itu adalah syirik kecil". Kemudian para shahabat bertanya, "Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?". Rasulullah SAW menjawab, "(Syirik kecil itu ialah) riya'. Besok pada hari qiyamat ketika para manusia diberi balasan dengan amal-amal mereka, Allah 'azza wa jalla akan berfirman kepada mereka, "Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang dahulu kamu berbuat riya' padanya ketika di dunia, maka lihatlah olehmu sekalian apakah kamu mendapati pahala pada mereka?". [HR. Ahmad, juz 9, hal. 160, no. 23692]

6. Hanya Amal Ikhlas yang Diterima Allah SWT

Allah tidak mau menerima amal seseorang kecuali yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Dalam hadist tentang ikhlas disebutkan :

  أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الأَجْرَ وَالذِّكْرَ ، مَا لَهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : لَا شَيْئً لَهُ. فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ . يَقُوْلُ لَهُ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ : لَا شَيْئً لَهُ. ثُمَّ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ. النسائي ٦: ٢٥

Artinya: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, "Bagaimanakah pendapat engkau apabila ada seorang laki-laki berperang untuk mencari pahala dan nama ? Lalu apa yang ia dapat ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "la tidak mendapatkan apa-apa". Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Rasulullah SAW menjawab, "la tidak mendapatkan apa-apa". Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak mau menerima amal kecuali amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mencari keridlaan-Nya". [HR. Nasai 6: 25]

7. Gambaran Ikhlas dalam Berperang

 الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذَّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ في سَبِيلِ الله.

Artinya: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, Ada orang yang berperang supaya mendapatkan harta rampasan, ada lagi orang yang berperang untuk mendapat sebutan (cari nama), dan ada lagi orang yang berperang supaya dipuji orang (sebagai pemberani), siapa diantara mereka itu yang termasuk dijalan Allah?. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Barangsiapa yang berperang agar supaya kalimat Allah itu yang paling tinggi, maka dialah yang (berperang) di jalan Allah". [HR. Bukhari juz 3, hal. 206]

8. Orang Ikhlas Mendapat Pertolongan Allah

Hadist tentang ikhlas selanjutnya berisi makna penjelasan orang yang berserah diri beramal kepada Allah akan ditolong oleh Allah langsung. 

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَه الأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلَاتِهِمْ، وَإِخْلَاصِهِمْ.

Artinya: "Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, salat, dan keikhlasan mereka" (HR. An Nasai no. 3178. Syekh Al  

9. Amal Ikhlas Akan Dicatat Sekecil Apapun

لَوْ أَنَّ أَحَدُكُمْ يَعْمَلُ فِي صَخْرَةٍ صَمَّاءَ لَيْسَ لَهَا بَابٌ وَلَا كَوَّةٌ خَرَجَ عَمَلُهُ كَائِنَا مَا كَانَ

Artinya: "Seandainya salah seorang diantara kamu melakukan suatu perbuatan di dalam gua yang tidak ada pintu dan lubangnya, maka amal itu tetap akan bisa keluar (tetap dicatat oleh Allah) menurut keadaannya". (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Keihlasan dari Dalam Hati

Hadist tentang ikhlas selanjutnya menekankan ikhlas berasal dari dalam hati. Keikhlasan ini hanya bisa diukur oleh diri seseorang langsung kepada Allah SWT. 

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بالنِّيَّةِ. وَإِنَّمَا لِاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ . وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. 

Artinya: "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena thaat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu akan diberi balasan pahala thaat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena menginginkan dunia yang akan didapatkan, atau wanita yang ia akan mengawininya, maka hijrahnya itu akan diberi balasan sesuai niatnya dia berhijrah". [HR. Muslim juz 3, hal. 1515]

FAQ Ikhlas

Q: Apakah Allah menilai bentuk fisik dan harta seseorang dalam beramal?

A: Tidak. Berdasarkan Hadis Riwayat Muslim, Allah tidak melihat bentuk tubuh atau harta-benda, tetapi Allah melihat dan menilai pada hati dan amal seseorang.

Q: Hadis mana yang terkenal tentang niat sebagai penentu sahnya amal?

A: Hadis yang sangat terkenal adalah hadis "Innamal a’mālu bin niyyāt..." (Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat), yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Q: Mengapa riya' disebut sebagai syirik kecil oleh Rasulullah SAW?

A: Riya' disebut syirik kecil karena niat beramal tidak hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga menyertakan keinginan untuk dilihat atau dipuji manusia, sehingga menodai keikhlasan tauhid.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |