15 Hadist Tentang Toleransi, Pedoman Hidup Harmonis dalam Bingkai Islam

3 months ago 38

Liputan6.com, Jakarta Keberagaman dalam hidup bersosial, merupakan landasan setiap masyarakat bisa menjalani kehidupan yang damai. Inilah makna toleransi yang sering digunakan di lapisan bernegara maupun beragama. Dalam Islam sendiri, ada berbagai hadist tentang toleransi yang menjadi pedoman. 

Menurut buku Berislam Secara Moderat (Ajaran dan Praktik Moderasi Beragama dalam Islam), Oleh Khoirul Anwar (2022, hlm. 269), dalam bahasa Arab toleransi dikenal sebagai tasaamuh. Sedangkan dalam bahasa adalah tindakan dan pemikiran yang dilandasi pada penerimaan terhadap pemikiran dan perbuatan yang dilakukan orang lain.

Hadist-hadist tentang toleransi dalam Islam berisikan konsep tasamuh atau menghormati pendirian yang berbeda. Pemahaman seputar hadist tentang toleransi menjadi kunci utama melihat Nabi SAW mempraktikkan sikap ini, baik sesama muslim dan mereka yang berbeda keyakinan. Inti dari toleransi dalam Islam adalah al-samhah dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesulitan atau paksaan.

Toleransi Beragama (Al-Hanifiyyah As-Samhah)

1. Toleransi yang Dicintai Allah SWT

Hadist tentang toleransi yang pertama ini secara langsung menjelaskan sifat Islam sebagai agama yang mudah diterima. 

Lafal Arab:

 حَدَّثَنِي يَزِيدُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ: أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهُ؟ قَالَ: " الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ "

Latin: … Qīla li-Rasūlilāh: Ayyul adyāni aḥabbu ilallāh? Qāla: Al-Ḥanīfiyyatu as-Samḥah

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah SAW: "Agama manakah yang paling dicintai Allah?" Maka Rasulullah menjawab, "Al-Hanifiyyah Al-Samhah (yang lurus lagi toleran)." (HR. Ahmad)

2.  Nabi Diutus Membawa Islam yang Toleran

Tasaamuh menjadi prinsip diutusnya Rasulullah SAW lewat misi kenabiannya. Seperti menolak pandangan ekstrem atau membatasi. Menurut Jurnal Vol. 14, No. 2, Juli – Desember 2022, halaman 19, Sikap Rasulullah SAW yang mendoakan dan mengharapkan orang-orang musyrik supaya menjadi bagian umat Islam. Hal ini menguatkan bahwa Rasulullah diutus membawa misi toleransi, sebagaimana sabda beliau:

Arab: 

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَة

Latin: Faqāla an-Nabiyyu SAW: Innī lam ub'aṡ bil-Yahūdiyyah walā bin-Naṣrāniyyah walakinī bu'iṡtu bil-Ḥanīfiyyah as-Samḥah

Artinya: [Maka Rasulullah saw bersabda, "sesungguhnya aku tidak diutus untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani, akan tetapi aku diutus untuk orang-orang yang lurus terpuji."]  

3. Inti Agama Islam adalah Kemudahan

Islam diturunkan oleh Allah SWT dengan kemudahan-kemudahannya. Bahkan dalam beribadah, Allah menegaskan tidak membebani seorang hamba dengan aturan-aturan dalam Islam. Begitu pula dalam bersosial

Lafal Arab: " يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا "

Latin: Yassirū walā tu’assirū, wa basysyirū walā tunaffirū.

Artinya: Nabi SAW bersabda, "Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari (menjauh)." (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Menjenguk Non-Muslim yang sakit

Salah satu tindakan yang menjadi puncak toleransi antar umat beragama dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW di dalam hadist berikut:

Lafal Arab: كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيُّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ...

Latin: Kāna ghulāmun yahūdiyyu yakhdumu an-Nabiyya famariḍa, fa atāhu an-Nabiyyu ya’ūduhu, faqa'ada 'inda ra'sihi...

Artinya: Dari Anas RA berkata, "Ada seorang anak kecil Yahudi yang bekerja membantu Nabi SAW menderita sakit. Maka Nabi SAW menjenguknya dan beliau duduk di sisi kepalanya..." (HR. Shahih Bukhari).

5. Mengormati Jenazah Non-Muslim

Menghormati hak kemanusiaan tak hanya sebatas saat berinteraksi, namun juga saat berhadapan dengan kematian.

Lafal Arab: قِيلَ لَهُ إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ فَقَالَ " أَلَيْسَتْ نَفْسًا "

Latin: Qīla lahu innahā janāzatu Yahūdiyyin, faqāla: Alaisat nafsan?

Artinya: (Ketika Nabi SAW berdiri untuk jenazah), ditanyakan kepada Beliau, "Sesungguhnya itu adalah jenazah Yahudi." Maka Beliau berkata, "Bukankah ia juga jiwa (manusia)?" (HR. Bukhari)

Hadist Tentang Toleransi Sosial (Ukhuwah Insaniyah)

6. Takwa Menjadi Pokok Toleransi dalam Beragama 

Rasulullah SAW menekankan setiap ras suku dan golongan pada dasarnya sama. Namun yang membedakan adalah pokok ketakwaan kemuliaan.

Lafal Arab:حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ بَكْرٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍ قَالَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: انْظُرْ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى

Latin: Unẓur, fa-innaka lasta bi-khairin min aḥmara walā aswada illā an tafḍulahū bi-taqwā.

Artinya:  "Telah menceritakan kepada kami Waki, dari Abu Hilal, dari Bakar, dari Abu Zar [Al-Ghifari] yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda kepadanya: 'Perhatikanlah, sesungguhnya kebaikanmu bukan karena kamu dari kulit merah dan tidak pula dari kulit hitam, melainkan kamu beroleh keutamaan karena takwa kepada Allah SWT," (H.R. Ahmad).

7. Allah Melihat Hati dan Amal

Perbedaan yang ada pada antar individu manusia bukan menjadi hal yang harus diunggulkan. Islam menekankan kualitas diri di atas tampilan fisik dan kekayaan. Toleransi ini dijelaskan hadist berikut: 

Lafal Arab: " إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ "

Latin: Innallāha lā yanẓuru ilā ṣuwarikum wa amwālikum walākin yanẓuru ilā qulūbikum wa a’mālikum.

Artinya: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian." (HR. Muslim)

8. Rukun Bertetangga

Berkasih sayang dalam lingkungan menjadi kunci toleransi. Meski memiliki kehidupan yang berbeda-beda, saling berkasih sayang bertetangga dijelaskan dalam hadist berikut: 

Lafal Arab: وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُؤْمِنُ عَبْدُ ، حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ، أَوْ قَالَ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Latin: Lā yu’minu ‘abdun, ḥattā yuḥibba li-jārihī, aw qāla li-akhīhī mā yuḥibbu li-nafsihī.

Artinya: dari Anas RA dari nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "demi Rabb yang jiwaku berada ditangannya, tidaklah seorang hamba dikatakan beriman (dengan iman yang sempurna) hinnga ia mencintai tetangganya seperti atau saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri". (HR. Shahih Muslim).

9. Larangan Menyakiti Tetangga

Hadits tentang toleransi selanjutnya menekankan pada tindakan nyata. Seperti menjaga kenyamanan dan keselamatan orang lain.

Lafal Arab: " مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ "

Latin: Man kāna yu’minu billāhi wal-yawmil ākhiri falā yu’dzī jārahū.

Artinya: Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya." (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Berbuat baik kepada Kerabat Non-Muslim

Meski berbeda keyakinan, hubungan kekeluargaan harus tetap dijaga. Ini merupakan wujud toleransi dalam Islam.

Lafal Arab: فَقَالَ لَهَا : " نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ "

Latin: Faqāla lahā: Na’am ṣilī ummaki

Artinya: Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Nabi SAW tentang ibunya yang musyrik yang ingin bersilaturahim, maka Beliau menjawab, "Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Toleransi dalam Muamalah dan Akhlak (Memudahkan Orang Lain)

11. Sikap Mudah dalam Jual Beli

Sikap toleran dalam berbisnis atau transaksi merupakan ciri seorang muslim yang baik. Menurut Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist / Volume 4, No.2. Juni 2021, berikut hadistnya:

Lafal Arab: " رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْعًا، إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى "

Latin: Raḥimallāhu rajulan samḥan, iżā bā’a, wa iżā-sytarā, wa iżā-qtaḍā.

Artinya: Rasulullah SAW bersabda, "Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli, dan juga orang yang meminta haknya." (HR. Shahih Bukhari)

12. Larangan Mu’ahad atau Menzalimi Non-Muslim

Hadist tentang toleransi ini menjelaskan hak-hak dasar bagi non-Muslim yang hidup berdampingan.

Lafal Arab: " مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ "

Latin: Man qatala mu’āhadan lam yariḥ rā’iḥata al-jannah.

Artinya: Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa yang membunuh orang kafir Mu'ahad (yang terikat perjanjian damai), maka dia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga bisa tercium sedari perjalanan 40 tahun." (HR. Bukhari)

13. Nabi Melindungi Hak Non-Muslim

Rasulullah SAW mengancam siapapun yang melanggar hak non-Muslim yang damai di hari Kiamat.

Lafal Arab: " مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ حَقًّا أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ "

Latin: Man ẓalama mu’āhidan aw intaqṣahū ḥaqqan aw kallafahū fawqa ṭāqatihī aw akhaża minhu syai’an bi ghayri ṭībi nafsin fa anā ḥajījuhū yawmal qiyāmah.

Artinya: Nabi SAW bersabda, "Ingatlah! Barangsiapa yang menzalimi orang kafir Mu'ahad, mengurangi haknya, membebani dengan sesuatu yang memberatkan, atau mengambil sesuatu miliknya tanpa kerelaan, maka saya menjadi lawannya pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud)

14. Muslim Bagaikan Satu Bangunan

Hadist tentang toleransi ini menekankan pentingnya persatuan dan saling menguatkan sesama muslim

 Lafal Arab: " الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا "

Latin: Al-mu’minu lil-mu’mini kal-bunyāni yasyuddu ba’ḍuhu ba’ḍan.

Artinya: Nabi SAW bersabda, "Hubungan orang mukmin dengan orang mukmin yang lain bagaikan satu bangunan yang saling memperkokoh satu sama lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Kasih Sayang akan Mendapat Rahmat Allah

Lafal Arab: " الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ "

Latin: Ar-rāḥimūna yarḥamuhum ar-Raḥmān, irḥamū man fī al-arḍi yarḥamkum man fī as-samā’i.

Artinya: Nabi SAW bersabda, "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang ada di langit." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

QNA 

Q: Apa batas utama toleransi yang ditekankan dalam hadist dan Al-Qur'an?

A: Batasan utama terletak pada akidah (keyakinan) dan ibadah ritual. Toleransi tidak berarti mencampuradukkan keyakinan atau mengikuti ibadah agama lain (sesuai prinsip Lakum dīnukum wa liya dīn).

Q: Apa bunyi hadist yang menolak diskriminasi rasial?

A: Hadist yang menyebutkan bahwa keutamaan seseorang tidak terletak pada kulit merah atau hitam, melainkan pada takwa kepada Allah SWT.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |