Adakah Amalan di Malam Tahun Baru Masehi dalam Islam? Simak Panduan Quran dan Hadis

2 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Pergantian tahun Masehi kerap disambut dengan berbagai bentuk perayaan meriah di berbagai belahan dunia. Kembang api, pesta, konser musik, hingga doa bersama pada detik pergantian tahun menjadi pemandangan yang lazim dijumpai. Fenomena ini tidak jarang menyeret sebagian umat Islam untuk ikut larut dalam euforia tanpa mempertimbangkan nilai-nilai keimanan.

Bagi seorang Muslim, setiap waktu adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, pergantian tahun seharusnya menjadi momentum refleksi diri, bukan sekadar perayaan seremonial yang berpotensi melalaikan.

Islam memandang waktu sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian apabila tidak mengisi waktunya dengan iman dan amal saleh. Prinsip inilah yang menjadi dasar dalam memahami amalan di malam tahun baru menurut ajaran Islam. Berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (31/12/2025).

Adakah Amalan di Malam Tahun Baru Masehi dalam Islam?

Secara syariat, Islam tidak menetapkan adanya amalan khusus di malam tahun baru Masehi sebagaimana malam-malam istimewa yang telah ditentukan, seperti malam Lailatul Qadar atau malam Nisfu Sya’ban. Tidak terdapat dalil dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah SAW yang secara khusus menganjurkan ibadah tertentu pada malam pergantian tahun Masehi.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1–2:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”(QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa waktu akan menjadi sumber kerugian apabila tidak dimanfaatkan dengan keimanan dan amal saleh. Namun, ketiadaan dalil khusus bukan berarti malam tahun baru tidak boleh diisi dengan kebaikan. Islam justru mendorong umatnya untuk mengisi setiap waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, selama tidak diyakini sebagai ibadah khusus yang disyariatkan.

Menurut penjelasan Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA dalam Tanya Jawab Fiqih Rumah Fiqih, permasalahan utama terkait malam tahun baru terletak pada pemaknaan “perayaan”. Jika suatu aktivitas diniatkan sebagai perayaan hari besar agama lain, maka hal tersebut bermasalah. Namun, apabila seorang Muslim memanfaatkan waktu libur untuk kegiatan positif seperti pengajian atau zikir tanpa niat merayakan tahun baru, maka persoalannya menjadi berbeda.

Dengan demikian, amalan di malam tahun baru bukanlah ibadah khusus, melainkan aktivitas kebaikan yang secara umum memang dianjurkan dalam Islam, seperti berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan melakukan muhasabah diri.

Pandangan Islam terhadap Perayaan Tahun Baru Masehi

Dalam Islam, perayaan tahun baru Masehi tidak memiliki landasan ibadah. Muhammadiyah Kota Semarang menjelaskan bahwa perayaan tahun baru sarat dengan unsur budaya dan ritual non-Islam, seperti meniup terompet, menyalakan kembang api, serta pesta pada detik pergantian tahun. Praktik-praktik tersebut tidak bersumber dari ajaran Islam.

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan tegas terkait bahaya tasyabbuh (menyerupai kaum lain) dalam urusan akidah dan ibadah:

“Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar kehati-hatian umat Islam dalam meniru tradisi keagamaan non-Muslim. Sejarah mencatat bahwa perayaan tahun baru Masehi memiliki akar dari berbagai tradisi non-tauhid, seperti Nasrani, Yahudi, Majusi, hingga paganisme Yunani kuno.

Namun demikian, Islam juga mengenal prinsip niat dan substansi perbuatan. Tidak semua aktivitas yang dilakukan pada malam tahun baru otomatis dihukumi haram. Yang dilarang adalah perayaan yang bermakna ritual keagamaan agama lain, mengandung maksiat, hura-hura, pemborosan, serta melalaikan kewajiban ibadah.

Sikap Bijak Muslim di Malam Tahun Baru

Islam mengajarkan sikap moderat dan proporsional dalam menyikapi malam pergantian tahun. Beberapa kegiatan positif yang dapat dilakukan tanpa menjadikannya sebagai perayaan keagamaan antara lain:

  1. Berkumpul bersama keluarga sebagai bentuk silaturahmi, tanpa euforia berlebihan.
  2. Makan bersama secara sederhana, dengan niat kebersamaan, bukan perayaan tahun baru.
  3. Muhasabah diri, mengevaluasi amal selama setahun dan merencanakan perbaikan ke depan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
  4. Berdoa dan berzikir, tanpa meyakini adanya keutamaan khusus pada waktu pergantian tahun.
  5. Membaca Al-Qur’an atau mengikuti pengajian, sebagai alternatif dari kegiatan yang melalaikan.
  6. Mendoakan saudara yang tertimpa musibah, sebagai wujud empati dan ukhuwah Islamiyah.
  7. Menjauhi hura-hura dan maksiat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”(HR. At-Tirmidzi)

Aktivitas-aktivitas tersebut sejalan dengan nilai Islam selama tidak diniatkan sebagai perayaan tahun baru.

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi dalam Islam

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak ada larangan mutlak terkait aktivitas pada malam tahun baru, selama tidak mengandung unsur maksiat dan tasyabbuh. Buku Jangan Baca Buku Ini Jika Belum Siap Masuk Surga karya H. Brilly El-Rasheed menegaskan bahwa yang menjadi tolok ukur hukum adalah niat dan tujuan kegiatan, bukan semata waktunya.

MUI melalui penjelasan yang dilansir Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI juga menyatakan bahwa mengucapkan selamat tahun baru Masehi dibolehkan, selama dilakukan secara wajar, tidak berlebihan, dan tidak bertentangan dengan nilai Islam.

Dengan demikian, amalan di malam tahun baru dalam Islam lebih diarahkan pada upaya menjaga iman, menghindari kemaksiatan, serta mengisi waktu dengan kegiatan yang bernilai ibadah secara umum.

FAQ Seputar Malam Tahun Baru dalam Islam

1. Apakah ada ibadah khusus di malam tahun baru Masehi?

Tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan dalam Islam pada malam tahun baru Masehi.

2. Bolehkah mengadakan pengajian di malam tahun baru?

Boleh, selama tidak diyakini sebagai ibadah khusus tahun baru dan diniatkan untuk kebaikan.

3. Apakah haram merayakan tahun baru Masehi?

Haram jika perayaannya mengandung maksiat, tasyabbuh, atau diniatkan sebagai ritual keagamaan non-Islam.

4. Bolehkah berdoa tepat pukul 00.00?

Boleh berdoa kapan saja, selama tidak diyakini ada keutamaan khusus pada waktu tersebut.

5. Apa sikap terbaik Muslim saat malam tahun baru?

Menjaga niat, adab, menghindari hura-hura, serta mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |