Liputan6.com, Jakarta - Menjelang bulan Ramadhan, menjelang Syawal, dan Dzulhijjah kalimat sidang isbat selalu lalu-lalang di indera penglihatan dan pendengaran kita.
Tak salah jika di wakjtu menjelang akhir Ramadhan kali ini pun menjadi trending topik di pencarian google, Jumat (28/03/2023).
Lalu sebenarnya sejak kapan sidang isbat ini mulai ada di Indonesia? Bukan hanya itu, apa sebenarnya tujuan sidang isbat ini, lantas mengapa harus ada sidang yang hasilnya diumumkan oleh Menteri Agama ini?
Menjawab persoalan ini Liputan6.com merangkum data dari Kementrian Agama RI, termasuk didalamnya siapa saja peserta sidang yang amat ditunggu keputusannya oleh masyarakat Indonesia ini.
Untuk diketahui, Kementerian Agama rutin menggelar sidang isbat (penetapan) awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal ini sudah berlangsung sejak dekade 1950-an, sebagian sumber menyebut tahun 1962. Hasil sidang isbat diumumkan oleh Menteri Agama dan itu menjadi momen yang ditunggu masyarakat.
Keputusan kapan umat Islam memulai puasa dan merayakan Idul Fitri di Indonesia tidak ditentukan secara sepihak. Sejak lama, pemerintah bersama para ulama dan ormas Islam membangun mekanisme yang disebut sidang isbat. Sidang ini menjadi ruang musyawarah untuk menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijah secara nasional.
Simak Video Pilihan Ini:
Kondisi Arus Mudik 2025 di Tol dan Jalur Pantura Pemalang Jateng
Tujuan dan Peserta Sidang Isbat
Penting diketahui, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 menjadi landasan penting dari proses ini. Melalui fatwa tersebut, penetapan awal bulan-bulan penting dalam kalender Hijriah dilakukan melalui gabungan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) oleh Pemerintah RI melalui Kementerian Agama.
Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Dr H Muhammad Adib MAg, menegaskan bahwa sidang isbat bukan sekadar formalitas tahunan. Di tengah realitas Indonesia yang bukan negara agama sekaligus bukan negara sekuler, keberadaan sidang isbat menjadi penting. Sebab, banyak ormas Islam di tanah air yang memiliki metode dan standar berbeda dalam menetapkan awal bulan Hijriah.
"Sidang isbat menjadi forum bersama, agar kita semua punya satu pedoman yang sama dalam mengawali Ramadan atau berlebaran," kata Adib di Jakarta.
Sidang isbat, kata dia, adalah bentuk nyata kehadiran negara untuk memfasilitasi keputusan bersama. Perbedaan pendekatan dan mazhab di Indonesia sangat beragam. Sebagian ormas mengandalkan hisab sepenuhnya, sebagian lain menekankan rukyat. Maka, tanpa forum musyawarah, potensi perbedaan waktu ibadah antar kelompok bisa semakin tajam.
Adib menjelaskan bahwa sidang isbat melibatkan bukan hanya Kementerian Agama dan MUI, tetapi juga pakar falak dari berbagai ormas, astronom, perwakilan lembaga riset seperti BMKG, BIG, BRIN, hingga Planetarium Jakarta dan Observatorium Bosscha ITB. Hadir pula anggota DPR, Mahkamah Agung, serta duta besar negara-negara sahabat.
Keputusan Sidang Isbat
“Di sinilah letak keunikan kita. Indonesia tidak hanya menunggu laporan, tetapi memusyawarahkan bersama semua pihak. Di beberapa negara, cukup hakim agung yang menetapkan, tapi kita sepakat menggunakan jalan musyawarah,” jelas Adib.
Setelah hasil musyawarah dicapai, Menteri Agama hanya berperan sebagai pihak yang mengesahkan keputusan tersebut agar memiliki kekuatan hukum. Pemerintah, lanjut Adib, tidak serta-merta menentukan kapan umat Islam mulai puasa atau lebaran. Peran utamanya hanya sebagai fasilitator bagi seluruh unsur yang terlibat.
Menurut Adib, mekanisme sidang isbat juga dilakukan di sejumlah negara lain, terutama di kawasan Timur Tengah. Namun, di Indonesia, musyawarah menjadi nilai lebih yang menunjukkan kearifan dalam mengelola keragaman.
“Keputusan yang dihasilkan sidang isbat bukan hasil sepihak, tetapi buah dari musyawarah, gotong-royong, dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai demokrasi sangat terasa dalam sidang ini,” ujar Adib.
Ia pun menegaskan bahwa sidang isbat menjadi momen penting bagi umat Islam Indonesia, tidak hanya soal kepastian awal ibadah, tetapi juga sebagai simbol untuk terus menjaga persatuan dan saling menghormati perbedaan.
“Sidang isbat adalah pengingat kita semua agar tetap satu langkah dalam beribadah, merawat harmoni, dan memperkuat ikatan dengan Allah serta sesama,” tutup Adib.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul