Bacaan Doa Saat Melihat Orang Tertimpa Musibah: Arab, Latin, dan Terjemah

3 months ago 59

Liputan6.com, Jakarta Membaca doa saat melihat orang tertimpa musibah adalah bentuk kepedulian dan permohonan kepada Allah agar mereka diberi kemudahan. Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh acuh ketika melihat saudaranya terkena musibah.

Selain memberikan bantuan secara langsung, mendoakan orang yang tertimpa musibah juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.  Musibah dapat dipandang sebagai ujian, teguran, hukuman, ataupun petunjuk dari Allah kepada umat-Nya.

Berapa pun besarnya ujian yang menimpa manusia lebih sedikit jika dibandingkan dengan ganjaran yang akan diterima. Memahami doa saat melihat orang tertimpa musibah menjadi penting agar kita dapat memberikan dukungan spiritual kepada sesama. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Senin (10/11/2025).

Bacaan Doa Saat Melihat Orang Tertimpa Musibah

Ketika seorang Muslim menyaksikan saudaranya mengalami musibah, baik secara langsung maupun melalui media, ada doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca. Doa ini bertujuan agar kita bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan memohon perlindungan dari cobaan serupa.

Melansir dari buku Pendidikan akhlak dan adab Islam, orang yang tidak mengalami musibah dan melihat sesama saudaranya tertimpa cobaan dapat dihukumi musibah pula. Hal ini menunjukkan betapa eratnya ikatan persaudaraan dalam Islam, sehingga rasa empati dan kepedulian harus selalu dijaga.

Berikut bacaan lengkap doa saat melihat orang tertimpa musibah beserta tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:

Tulisan Arab: الـحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّـا ابْتَلاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً

Tulisan Latin: Alhamdulillahilladzi 'afani mimma ibtalaka bihi wa faddhalani 'ala katsirin mimman khalaqa tafdhila.

Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu dan memberikan keutamaan kepadaku atas makhluk (lainnya) yang Dia ciptakan."

Doa ini diriwayatkan dalam hadis Tirmidzi No. 343 dan dibaca dalam hati tanpa didengarkan kepada orang yang tertimpa musibah. Tujuannya adalah untuk menjaga perasaan mereka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau rasa tersinggung.

Adab Membaca Doa Ketika Melihat Musibah Orang Lain

Membaca doa saat melihat orang tertimpa musibah memiliki adab dan tata cara yang perlu diperhatikan agar tidak menyakiti perasaan orang yang sedang mengalami cobaan. Berikut adab-adab yang harus diperhatikan:

1. Membaca Doa dalam Hati

Doa ini harus dibaca dengan pelan atau dalam hati, tidak boleh diucapkan keras-keras apalagi di hadapan orang yang tertimpa musibah. Hal ini untuk menghindari kesan sombong atau merendahkan orang yang sedang mengalami kesulitan.

2. Disertai Rasa Syukur dan Empati

Saat membaca doa ini, hati harus dipenuhi rasa syukur kepada Allah atas nikmat kesehatan dan keselamatan yang diberikan. Namun, syukur tersebut harus dibarengi dengan rasa empati dan kepedulian terhadap saudara yang tertimpa musibah, bukan rasa superioritas.

3. Diikuti dengan Bantuan Nyata

Doa sebaiknya tidak hanya berhenti di lisan saja, tetapi juga diikuti dengan tindakan nyata membantu meringankan beban mereka yang tertimpa musibah. Bantuan bisa berupa materi, tenaga, atau sekadar memberikan dukungan moral.

4. Menjaga Niat yang Ikhlas

Niat dalam membaca doa ini harus ikhlas karena Allah, bukan untuk pamer kesalehan atau mencari pujian dari orang lain. Keikhlasan menjadi kunci diterimanya doa dan amal ibadah.

5. Tidak Menggunjing atau Membicarakan Aib

Setelah melihat musibah orang lain, seorang Muslim dilarang menggunjing atau membicarakan aib orang tersebut. Sebaliknya, kita harus menjaga kehormatan dan privasi mereka dengan menutup aib yang terlihat.

Kalimat Istirja: Doa Pertama Saat Menghadapi Musibah

Sebelum membaca doa khusus saat melihat orang tertimpa musibah, seorang Muslim juga dianjurkan untuk membaca kalimat istirja terlebih dahulu. Kalimat istirja adalah ucapan yang dibaca ketika mendengar atau melihat musibah, baik yang menimpa diri sendiri maupun orang lain.

Tulisan Arab: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Tulisan Latin: Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun.

Artinya: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali."

Kalimat ini merupakan ungkapan ketundukan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Dengan mengucapkan kalimat istirja, seorang Muslim mengakui bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kalimat ini mengingatkan kita akan sifat kehidupan dunia yang sementara dan pentingnya berserah diri kepada takdir Allah.

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan kalimat istirja dan doa setelahnya, Allah akan memberikan ganjaran dan mengganti musibahnya dengan yang lebih baik. Kalimat istirja juga mengandung hikmah mendalam tentang kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian hidup.

Doa Memohon Ganti Musibah dengan Kebaikan

Setelah membaca kalimat istirja, umat Islam yang mengalami musibah secara langsung dianjurkan untuk melanjutkan dengan doa memohon ganti dari Allah. Doa ini juga relevan untuk dibaca ketika kita ikut merasakan kepedihan musibah yang menimpa saudara kita.

Tulisan Arab: اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Tulisan Latin: Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khairan minhaa.

Artinya: "Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik."

Doa ini menunjukkan sikap optimis dan penuh harapan kepada Allah bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmah dan kebaikan yang tersembunyi. Seorang Muslim yang membaca doa ini dengan penuh keyakinan menunjukkan keimanan yang kuat bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya sendirian dalam kesulitan.

Melansir dari hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjanjikan bahwa Allah akan mengabulkan doa tersebut dengan memberikan ganjaran atas kesabaran dan menggantinya dengan yang lebih baik. Doa ini mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi, termasuk saat menghadapi ujian dan cobaan yang berat.

Hikmah Musibah dalam Perspektif Islam

Islam memandang musibah bukan semata-mata sebagai malapetaka, tetapi sebagai bagian dari rencana Allah yang penuh hikmah. Memahami hikmah di balik musibah membantu seorang Muslim untuk tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup.

Musibah dapat berfungsi sebagai penghapus dosa dan pembersih jiwa dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Setiap kesulitan yang dialami seorang Muslim, sekecil apa pun, dapat menjadi kafarat atau penghapus dosa jika dihadapi dengan kesabaran dan ketaatan kepada Allah. Hal ini menunjukkan kasih sayang Allah yang tidak membiarkan hamba-Nya membawa beban dosa hingga hari kiamat.

Musibah juga berfungsi sebagai ujian untuk menguji keimanan dan keteguhan hati seorang Muslim. Mengutip dari QS. Al-Baqarah ayat 155-156, Allah berfirman bahwa Dia pasti akan menguji hamba-Nya dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, tetapi berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Ujian ini bertujuan untuk membedakan antara orang yang benar-benar beriman dengan yang hanya mengaku beriman di mulut saja.

Selain itu, musibah dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika mengalami kesulitan, manusia cenderung lebih sering berdoa, beribadah, dan mengingat Allah. Kondisi ini adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Sikap Muslim Ketika Melihat Saudaranya Tertimpa Musibah

Sebagai umat yang memiliki ikatan persaudaraan yang kuat, seorang Muslim harus menunjukkan sikap yang tepat ketika melihat saudaranya tertimpa musibah. Sikap ini tidak hanya berupa doa, tetapi juga tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian dan empati.

1. Merasakan Kepedihan yang Sama

Dari hadis Nu'man bin Basyir yang diriwayatkan Muslim No. 6751, Rasulullah SAW bersabda bahwa perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakannya. Ini berarti seorang Muslim harus merasakan kepedihan yang sama ketika melihat saudaranya menderita.

2. Memberikan Bantuan Sesuai Kemampuan

Bantuan yang diberikan bisa berupa materi seperti uang, makanan, pakaian, atau tempat tinggal sementara. Jika tidak mampu memberikan bantuan materi, setidaknya memberikan bantuan tenaga atau dukungan moral yang dapat menghibur mereka yang sedang berduka.

3. Mendoakan dengan Tulus

Mendoakan orang yang tertimpa musibah adalah bentuk bantuan spiritual yang sangat berharga. Doa yang tulus dari saudara seiman dapat menjadi kekuatan bagi mereka untuk tetap sabar dan tawakal menghadapi cobaan.

4. Tidak Menyebarkan Aib atau Musibah Mereka

Menjaga kehormatan dan privasi orang yang tertimpa musibah adalah kewajiban setiap Muslim. Tidak boleh menyebarkan berita musibah mereka sebagai bahan gunjingan atau hiburan.

5. Memberikan Nasihat yang Menenangkan

Memberikan nasihat dengan cara yang lembut dan bijaksana dapat membantu mereka yang sedang berduka untuk tetap kuat dan tidak putus asa. Nasihat yang baik adalah yang mengingatkan tentang kuasa Allah dan janji-Nya untuk memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitan.

Keutamaan Bersyukur di Tengah Musibah Orang Lain

Membaca doa saat melihat orang tertimpa musibah mengandung nilai bersyukur yang sangat tinggi. Rasa syukur ini bukan berarti merasa senang atau lega melihat penderitaan orang lain, melainkan menyadari nikmat Allah yang telah menyelamatkan kita dari cobaan serupa.

Bersyukur adalah kunci untuk mendapatkan tambahan nikmat dari Allah. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman bahwa jika kamu bersyukur, pasti Allah akan menambah nikmat kepadamu. Dengan bersyukur atas keselamatan yang diberikan, seorang Muslim menunjukkan pengakuan dan penghargaan terhadap karunia Allah yang tidak terhitung jumlahnya.

Namun, rasa syukur ini harus dibarengi dengan empati dan kepedulian terhadap yang tertimpa musibah. Bersyukur tidak boleh menjadikan seseorang sombong atau merasa lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, rasa syukur harus mendorong seseorang untuk membantu meringankan beban saudaranya yang sedang mengalami kesulitan.

Melansir dari buku Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, syukur dalam Islam memiliki tiga dimensi, yaitu syukur dengan hati (mengakui nikmat), syukur dengan lisan (memuji Allah), dan syukur dengan perbuatan (menggunakan nikmat sesuai kehendak Allah). Ketiga dimensi ini harus berjalan bersama agar syukur menjadi sempurna dan mendatangkan keberkahan.

Rasa syukur juga mengajarkan kita untuk tidak lalai dan selalu waspada. Musibah yang menimpa orang lain bisa menjadi pengingat bahwa kita juga tidak kebal dari cobaan. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga ketaatan kepada Allah, memperbanyak amal shaleh, dan senantiasa memohon perlindungan dari segala macam ujian yang berat.

FAQ

1. Apa doa yang dibaca saat melihat orang tertimpa musibah? 

Doa yang dibaca adalah "Alhamdulillahilladzi 'afani mimma ibtalaka bihi wa faddhalani 'ala katsirin mimman khalaqa tafdhila" yang artinya segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu.

2. Apakah doa melihat musibah boleh dibaca keras-keras? 

Tidak boleh, doa ini harus dibaca dalam hati atau sangat pelan agar tidak didengar oleh orang yang tertimpa musibah untuk menjaga perasaan mereka.

3. Apa perbedaan doa saat mengalami musibah sendiri dengan melihat musibah orang lain? 

Doa saat mengalami musibah sendiri adalah kalimat istirja dan memohon ganti dari Allah, sedangkan doa saat melihat musibah orang lain adalah doa bersyukur atas perlindungan Allah.

4. Apakah harus membaca istirja terlebih dahulu sebelum doa melihat musibah? 

Ya, dianjurkan membaca kalimat istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun) terlebih dahulu ketika melihat atau mendengar musibah.

5. Bolehkah doa melihat musibah dibaca untuk semua jenis musibah? 

Ya, doa ini dapat dibaca untuk semua jenis musibah yang menimpa orang lain, baik musibah kecil maupun besar.

6. Apa hikmah membaca doa saat melihat orang tertimpa musibah? 

Hikmahnya adalah untuk bersyukur atas nikmat Allah, memohon perlindungan dari cobaan serupa, dan menumbuhkan rasa empati kepada sesama.

7. Apakah cukup hanya berdoa tanpa memberikan bantuan nyata kepada yang tertimpa musibah? 

Sebaiknya doa diikuti dengan bantuan nyata sesuai kemampuan karena Islam mengajarkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |