Liputan6.com, Jakarta Dalam tradisi Islam di sebagian masyarakat Indonesia, bacaan mahalul qiyam menjadi bagian yang tak terlupakan. Bacaan ini biasanya menjadi salah satu sesi penting saat acara Maulid Nabi. Ketika bacaan mahalul qiyam dilantunkan, para jamaah serentak berdiri seolah menyambut kedatangan sosok yang begitu diagungkan. Memang bagi sebagian orang, bacaan mahalul qiyam menciptakan suasana khusyu’ seolah mereka menyambut kehadiran Nabi Muhammad SAW.
Namun di sisi lain, ada kalangan yang mempertanyakan bacaan sholawat Maulid Nabi ini: apakah ada dasar yang kuat dalam sumber hukum Islam mengenai kebiasaan berdiri dan membaca bacaan mahalul qiyam pada saat tersebut?
Bagi yang merasakan keindahan sholawat penyejuk hati, bacaan mahalul qiyam menjadi jalur batin untuk menuju kedekatan dengan Nabi. Namun bagi mereka yang berpegang teguh pada prinsip kemurnian ibadah, setiap amal harus berpijak pada sumber hukum Islam yang sahih agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan Rasulullah SAW.
Bacaan Mahalul Qiyam
Berikut ini adalah bacaan mahalul qiyam lengkap beserta dengan tulisan latin dan artinya:
صَلَّى اللهُ عَلى مُحَمَّدْ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا، مَرْحَبًا جَدَّ الحُسَيْنِ مَرْحَبًا
Shallallāhu ‘alā Muhammad, shāllallāhu ‘alayhi wasallam
Marhaban yā marhaban yā marhaban, marhaban jaddal Husaini marhaban.
Artinya:
Allah bershalawat untuk Nabi Muhammad saw, Allah bershalawat dan mengucap salam sejahtera untuknya.
Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang kakek dari Husain, selamat datang.
يَا نَبِى سَلَامْ عَلَيْكَ، يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ
يَا حَبِيْبْ سَلَامْ عَلَيْكَ، صَلَوَاتُ اللهْ عَلَيْكَ
Yā nabī salām ‘alayka, yā rasūl salām ‘alayka
Yā habīb salām ‘alayka, shalawātullāh ‘alayka
Artinya:
Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, wahai Rasul salam sejahtera untukmu
Wahai Kekasih, salam sejahtera untukmu, shalawat (rahmat) Allah untukmu
اَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُوْرُ
مِثْلَ حُسْنِكْ مَا رَأَيْنَا، قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُوْرِ
Asyraqal badru ‘alayna, fakhtafat minhul budūru
Mitsla husnik mā ra’aynā, qaththu yā wajhus surūri
Artinya:
Satu purnama telah terbit di atas kami, pudarlah jutaan purnama lain karenanya
Belum pernah kulihat seperti keelokanmu, wahai wajah yang gembira
اَنْتَ شَمْسٌ اَنْتَ بَدْرٌ، اَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرِ
اَنْتَ اِكْسِيْرٌ وَّغَالِى، اَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُوْرِ
Anta syamsun anta badrun, anta nūrun fawqa nūri
Anta iksīruw wa ghālī, anta mishbāhus shudūri
Artinya:
Kau bak mentari, kau juga laksana purnama, kau cahaya di atas cahaya
Kau laksana obat segala guna (elixir) lagi mahal, kau adalah lentera hati
يَاحَبِيْبِيْ يَامُحَمَّدْ، يَا عَرُوْسَ الخَافِقَيْنِ
يَا مُؤَيَّدْ يَا مُمَجَّدْ، يَا اِمَامَ القِبْلَتَيْنِ
Yā habībi yā Muhammad, yā ‘arūsal khāfiqayni
Yā mu’ayyad yā mumajjad, yā imāmal qiblatayni
Artinya:
Wahai Kekasih, wahai Muhammad saw, wahai pengantin Timur dan Barat
Wahai Rasul yang diperkuat (oleh wahyu), wahai Nabi yang agung, wahai imam dua kiblat
مَنْ رَآى وَجْهَكَ يَسْعَدْ، يَا كَرِيْمَ الوَالِدَيْنِ
حَوْضُكَ الصَّافِى الْمُبَرَّدْ، وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُوْرِ
Man ra’ā wajhaka yas‘ad, yā karīmal wālidayni
Hawdhukas shāfil mubarrad, wirdunā yawman nusyūri
Artinya:
Siapapun yang memandang wajahmu pasti bahagia, wahai manusia yang memiliki orang tua mulia.
Telagamu berair jernih dan sejuk, yang kelak kami datangi pada hari kebangkitan
مَا رَأَيْنَا الْعِيْسَ حَنَّتْ، بِالسُّرَى اِلَّا اِلَيْكَ
وَاْلَغَمَامَةْ قَدْ اَظَلَّتْ، وَالْمَلَا صَلُّوْا عَلَيْكَ
Mā ra’aynal ’īsa hannat, bis surā illā ilayka
Wal ghamāmah qad azhallat, wal malā shallū (shallaw pada sebagian naskah) ‘alayka
Artinya:
Belum pernah kami melihat unta peranakan unggul yang bersuara sambil berjalan malam hari, kecuali menuju kepadamu
Gumpalan awan menaungimu, semua makhuk mengucapkan shalawat untukmu.
Makna Mahalul Qiyam
Dalam beberapa majelis, bacaan mahalul qiyam menjadi momen yang mengubah suasana menjadi lebih haru dan khusyu’. Para jamaah akan berdiri dan melantunkan sholawat ini bersama-sama. Dalam bahasa Arab sendiri, mahalul qiyam memiliki arti “tempat atau saat berdiri.” Meski sederhana, namun sesi mahalul qiyam ini menyimpan banyak makna.
Mahalul qiyam dipandang sebagai bentuk penyambutan atas kehadiran Rasulullah SAW. Setiap bacaan mahalul qiyam dilantunkan, para jamaah seolah-olah menyambut kehadiran Sang Nabi dengan penuh rindu.
Berdiri saat mahalul qiyam juga memiliki makna kasih dan penghormatan. Seperti seseorang yang bangkit berdiri ketika orang mulia datang, begitu pula jamaah berdiri untuk menyambut Nabi mereka. Pandangan ini lahir dari semangat adab dan cinta, bukan sekadar ritual simbolik.
Antara Tradisi dan Kemurnian Ibadah
Perbedaan cara pandang terhadap mahalul qiyam sejatinya berakar dari perbedaan pendekatan dalam memahami agama. Sebagian kalangan menekankan cinta dan penghormatan kepada Rasulullah, sedangkan yang lainnya menekankan pentingnya dalil yang sahih sebagai dasar setiap amal ibadah.
Untuk penerapan mahalul qiyam sendiri, sebenarnya tidak ada satu pun hadis sahih yang menunjukkan bahwa Nabi SAW atau para sahabat berdiri untuk menyambut kehadirannya saat membaca shalawat. Bahkan, ketika para sahabat hendak berdiri, Nabi justru memintanya untuk tetap duduk. Oleh karena itu, sebagian kalangan yang menekankan pentingnya dalil memandang mahalul qiyam sebagai tradisi dengan tujuan baik namun tidak memiliki landasan syar’i.
Lebih lanjut, bagi kalangan yang berhati-hati dalam urusan syariat, cinta kepada Nabi justru seharusnya dibuktikan dengan ketaatan. Mereka menilai bahwa ekspresi cinta harus dibingkai oleh tuntunan yang jelas agar tidak tergelincir pada pengagungan yang berlebihan. Dalam pandangan mereka, keindahan cinta kepada Nabi SAW terletak pada kesetiaan terhadap ajaran-ajarannya, bukan pada bentuk-bentuk tambahan yang tidak beliau contohkan.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa itu bacaan mahalul qiyam?
Bacaan mahalul qiyam adalah bagian dalam sholawat maulid Nabi ketika jamaah berdiri sambil memuji Rasulullah SAW.
2. Apakah bacaan mahalul qiyam ada dalilnya?
Sebagian ulama menyebut tidak ada dalil sahih yang mewajibkan, namun dianggap bentuk adab dan cinta.
3. Apakah berdiri saat bacaan mahalul qiyam termasuk ibadah?
Tidak wajib secara syariat; berdiri lebih dilihat sebagai simbol penghormatan, bukan kewajiban ibadah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505405/original/077638700_1771386569-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505591/original/004405000_1771391548-baju_kurung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515025/original/077930200_1772148384-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606355/original/da4eee4c0f11eaa06447a469562bbdd4ommons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513755/original/018031500_1772065055-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448678/original/076312300_1766037315-shurkin_son.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397214/original/081553500_1681628826-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506735/original/013845900_1771475144-keluatga_buka_puasa.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









