Cara Taubat Nasuha yang Benar, Penyesalan Dosa untuk Meraih Surga

3 months ago 41

Liputan6.com, Jakarta - Taubat adalah penyesalan yang mendalam atas dosa yang telah dilakukan, disertai dengan tekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Mengingat dosa yang berpotensi dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam perlu mengetahui cara taubat nasuha yang benar.

Perintah untuk taubat nasuha ditegaskan, salah satunya dalam surat At-Tahrim ayat 8, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (nasuha)." (QS. At-Tahrim: 8).

Merujuk Buku Ensiklopedia Taubat, menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah taubat nasuha pada hakikatnya adalah kelahiran kembali spiritual, yang berarti perubahan total dari hamba yang tersesat menjadi hamba yang kembali kepada fitrah penciptaannya.

Menurut Ibnu Qayyim, taubat nasuha bukanlah akhir perjalanan, melainkan permulaan sebenarnya dari perjalanan menuju Allah, sebuah proses terus-menerus menyucikan jiwa, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta untuk meraih surga-Nya.

Cara Taubat Nasuha

Mengutp Jurnal Al-Fatih berjudul Nilai Pendidikan Tentang Fenomena Tobat yang Terulang: Analisis Ceramah Ustadz Adi Hidayat dan Buya Yahya, karya Riva Salsabila dkk, tobat merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam yang menandai proses kembali seorang hamba kepada Tuhannya setelah melakukan pelanggaran terhadap aturan syariat.

Tobat digambarkan sebagai amalan yang sangat dianjurkan dan menjadi bentuk kasih sayang Allah kepada manusia yang penuh kekhilafan. Tobat bukan hanya sebuah proses spiritual, tetapi juga memiliki implikasi moral, psikologis, dan sosial

Berikut ini adalah tata cara taubat nasuha, merujuk Kitab At-Taubah Wa al-Inâbah (Ensiklopedia Taubat-penerjemah Ahmad Dzulfikar) karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dan jurnal di atas.

1. Penyesalan Mendalam (Al-Iqla')

Penyesalan harus menjadi guncangan spiritual yang menyentuh relung hati terdalam. Ibnu Qayyim menegaskan bahwa penyesalan bukan sekadar ucapan lisan, melainkan keadaan hati yang remuk di hadapan Allah.

Penyesalan adalah taubat. Penyesalan sejati akan memancarkan energi spiritual yang menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk meninggalkan kemaksiatan.

2. Penghentian Total dan Segera (Al-Iqtha')

Taubat nasuha menuntut pemutusan hubungan secara total dengan dosa, tanpa kompromi atau penundaan. Ibnu Qayyim mengingatkan perlu diketahui juga bahwa menunda taubat juga merupakan dosa yang harus segera disusul dengan taubat.

Penghentian ini mencakup semua aspek fisik, psikologis, dan spiritual, serta meninggalkan lingkungan dan pergaulan yang mendukung kemaksiatan.

3. Tekad Bulat Tidak Mengulang (Al-'Azm)

Tekad ini harus menjadi komitmen seumur hidup yang tertanam dalam sanubari. Hal ini harus selalu ada ketika seseorang sedang bertaubat. Artinya, jika seorang bertaubat maka dalam satu waktu ia harus menyesal, berhenti total dari pelanggaran serupa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi.

Tekad ini harus diwujudkan dalam bentuk perubahan perilaku yang konsisten dan berkelanjutan.

4. Pengakuan Tanpa Pembenaran Diri

Seorang yang bertaubat nasuha harus mengakui kesalahannya tanpa mencari-cari alasan atau menyalahkan takdir. Ibnu Qayyim mengkritik keras mereka yang berdalih dengan takdir. Pengakuan jujur merupakan fondasi dari diterimanya taubat.

"Dalih bahwa seseorang melakukan perbuatan buruk sebagai takdir yang disuratkan kepadanya justru menafikan makna taubat," jelasnya.

5. Memandang Berat Dosa yang Dilakukan

Memandang berat dosa akan melahirkan penyesalan yang mendalam dan motivasi yang kuat untuk benar-benar berubah.

Oleh karena itu, seseorang yang bertaubat nasuha mesti bermuhasabah dan bahkan menghisab dirinya sendiri untuk mengingat dosa yang telah dilakukan.

Jika dosa berkaitan dengan hak manusia (adami), taubat tidak sah tanpa mengembalikan hak-hak tersebut. Ibnu Qayyim menekankan pentingnya menyelesaikan urusan horizontal sebelum memohon ampunan vertikal.

Ini mencakup meminta maaf, mengembalikan harta yang diambil, atau membersihkan nama baik yang dirusak.

7. Terus-Menerus Memperbaharui Taubat

Taubat nasuha bukan peristiwa sekali jadi, melainkan proses berkelanjutan. Taubat harus terus diperbaharui karena disadari atau tidak, manusia pasti akan terus melakukan dosa, baik besar atau kecil.

Setiap kali sadar melakukan kesalahan, segera bertaubat kembali tanpa putus asa.

8. Meninggalkan Penyebab dan Lingkungan Dosa

Taubat yang sejati harus diikuti dengan perubahan lingkungan dan kebiasaan. Ini termasuk meninggalkan teman-teman buruk, tempat-tempat maksiat, dan segala hal yang dapat mengembalikan seseorang kepada dosanya.

Perubahan eksternal ini merupakan cermin dari transformasi internal yang terjadi.

9. Melakukan Amal Kebajikan Pengganti

Umat Islam dianjurkan untuk mengisi kekosongan setelah meninggalkan dosa dengan amal shaleh. Amal kebajikan ini berfungsi sebagai terapi spiritual yang menyembuhkan luka-luka dosa.

10. Senantiasa Merasa Takut dan Berharap

Seorang yang bertaubat nasuha harus menjaga keseimbangan antara khauf (takut) dan raja' (harap). Ia takut taubatnya tidak diterima, namun tetap berharap akan rahmat Allah.

Ibnu Qayyim menggambarkan: "Sekejap pun ia tak pernah lepas dari rasa cemas ini. Dengan demikian, ia akan selalu diliputi rasa cemas terhadap murka-Nya" (hlm. 20).

Kesempurnaan taubat nasuha terletak pada integritas antara niat, ucapan, dan perbuatan. Taubat bukan sekadar bebas dari dosa, melainkan kembali kepada fitrah asal penciptaan sebagai hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

Amaliah Taubat Nasuha

1. Sholat Taubat

Di antara amalan yang dianjurkan saat seseorang bertaubat adalah dengan sholat taubat. Merujuk Buku Risalah Tuntunan Sholat Lengkap Dzikir dan Doa-Doa Mustajab karya Ustadz Abu Quro, S. Ag, sholat sunnah taubat ialah sholat yang dilakukan setelah seseorang berbuat dosa atau merasa bersalah, kemudian bertaubat kepada Allah SWT.

Mengutip Jurnal Efektivitas Salat Taubat dalam Meningkatkan Ketenangan Hati oleh Ahmad Rusdi, UII (2016), sholat taubat merupakan salah satu bentuk ibadah sunnah yang memiliki dampak signifikan terhadap ketenangan jiwa dan pembersihan spiritual (dosa).

Adapun caranya yakni, dengan sholat dua rakaat, sebagaimana sholat wajib atau sunnah. Niat sholat taubat adalah

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:"Ushalli sunnatat-taubati rak'ataini lillāhi ta'ālā"

Artinya: "Aku shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Niat dibatin dalam hati saat takbiratul ikhram. Selanjutnya sholat dua rakaat hingga salam.

2. Istighfar dan Doa Taubat

Setelah salam sholat taubat, dianjurkan untuk memperbanyak istighfar. Istigfar menunjukkan kesungguhan seseorang dalam meminta maaf atas dosa-dosa, seraya berharap Allah menerima taubatnya.

Bacaan Istighfar:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Latin: Astaghfirullaahal’adziim, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaiih

Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya”.

Dilanjutkan dengan bacaan istighfar yang dianjurkan (Sayyidul Istighfar).

Bacaan Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika. Mastatha'tu a'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu u laka bini' matika 'alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta

Artinya: "Wahai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau." (HR Bukhari).

Bacaan Doa Taubat

Kemudian doa taubat.

اسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمُ الَّذِي لا إله إلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأتُوبُ إِلَيْهِ تَوْبَةً عَبْدٍ ظَالِم لا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مونا وَلاحَيَا وَلاحَيَاةَ وَلَا نُشُورًا

Latin: Astaghfirullaahal azhiim, alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuunu wa atuubu ilaih taubata ‘abdin zhaalimin laa yamliku linafsihii dharraw wa laa naf’aw wa laa mawtaw wa laa hayaataw wa laa nusyuuraa

Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Hidup dan terus Terjaga. Aku bertaubat kepada-Nya, taubatnya seorang hamba yang zalim yang tidak memiliki kemampuan untuk menolak mudarat dan mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri, serta tidak memiliki kuasa atas kematian, kehidupan, maupun kebangkitan”.

Pertanyaan Seputar Taubat

1. Apa saja 4 syarat taubat?

Syarat Taubat Diterima, Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu:

(1) Menyesal,

(2) Berhenti dari dosa, dan

(3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.,

(4) Jika dosa berkaitan dengan sesama manusia) mengembalikan haknya atau meminta maaf. Keempat syarat ini harus dipenuhi agar taubat diterima oleh Allah SWT.

2. Apa doa taubatan nasuha?

“Allaahumma innii as-aluka taufiiqa ahlil hudaa wa a'maala ahlit taubati wa 'azma ahlish shabri wa jidda ahlil khasyyati wa thalaba ahlir raghbati wa ta'abbuda ahlil wara'i wa 'irfaana ahlil 'ilmi hattaa akhaafaka.

3. Kapan waktu sholat taubat nasuha?

Sholat taubat nasuha bisa dilaksanakan kapan saja, namun waktu yang paling utama adalah pada sepertiga malam terakhir atau saat waktu tahajud, dan segera setelah melakukan dosa. Waktu lain yang dianjurkan adalah antara Maghrib dan Isya, atau saat sahur, dan dilarang pada waktu-waktu terlarang seperti saat matahari terbit, di atas kepala (waktu istighar), dan setelah Ashar hingga matahari terbenam.

4. Apa ciri-ciri taubat kita diterima Allah?

Ciri-ciri taubat diterima Allah meliputi penyesalan mendalam, tidak mengulangi dosa, dan berubah menjadi lebih baik. Seseorang yang bertaubat akan meninggalkan perbuatan buruk, menggantinya dengan kebiasaan baik, dan semakin dekat dengan orang-orang saleh. Perubahan ini tidak hanya terjadi sesaat, melainkan terus berproses dalam hati dan perilaku.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |