Liputan6.com, Jakarta - Bagi muslim Indonesia yang mayoritas menganut madzhab Syafi'i, bacaan doa qunut menjadi bagian tak terpisahkan dari sholat subuh. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui doa qunut sholat Subuh lengkap arab latin dan artinya. Terlebih bagi yang belum terbiasa membaca huruf Hijaiyah.
Merujuk Jurnal Tarjih berjudul berjudul 'Kunut Salat Subuh dalam Hadis dan Fikih' karya Syamsul Anwar (2014), dalam pandangan Madzhab Syafi'i, qunut disunatkan secara terus-menerus dalam Subuh dan Witir. Qunut Subuh adalah sunnah ab'ad atau sunnah yang dianjurkan secara kontinyu berdasarkan riwayat praktik Nabi Muhammad SAW yang terus-menerus melakukannya hingga wafat.
Dalam kitab al-Muhadzdzab, Imam Syirazi (ulama mazhab Syafi'i) menjelaskan, adalah sunat untuk melakukan qunut dalam salat Subuh berdasarkan riwayat Anas RA bahwa Nabi saw melakukan qunut.
Doa Qunut Sholat Subuh Lengkap Arab Latin
Umat Islam dianjurkan membaca doa qunut subuh saat sholat sendirian (munfarid) maupun sholat berjamaah. Secara umum, bacaan qunut sama, hanya saja ada perbedaan sedikit untuk menunjukkan tunggal dan jamak.
Doa Qunut Subuh saat Sholat Sendirian
Berikut ini adalah doa qunut yang dibaca pada saat sholat sendiri.
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Allahummahdini fî man hadait, wa ‘âfini fî man ‘âfait, wa tawallanî fî man tawallait, wa bâriklî fî mâ a‘thait, wa qinî syarra mâ qadhait, fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaik, wa innahû lâ yazillu man wâlait, wa lâ ya‘izzu man ‘âdait, tabârakta rabbanâ wa ta‘âlait, fa lakal hamdu a’lâ mâ qadhait, wa astagfiruka wa atûbu ilaik, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya: Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan. Dan berilah keberkahan kepadaku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan aku dan Maha tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan. Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertobat kepada Engkau. (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Bacaan Qunut Subuh Imam (Versi Jamak)
Dijelaskan dalam Al-Majmū‘ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi, disunahkan bagi imam untuk mengubah lafaz doa dari bentuk tunggal menjadi bentuk jamak, karena ia sedang berdoa untuk dirinya dan untuk makmumnya.
Dengan dasar itu, maka bacaan doa qunut subuh yang dibaca imam dalam sholat berjamaah adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ. فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Allāhumma ihdinā fīman hadait, wa ‘āfinā fīman ‘āfait, wa tawallanā fīman tawallait, wa bārik lanā fīmā a‘ṭait, waqinā syarra mā qaḍait, fa innaka taqḍī wa lā yuqḍā ‘alaik, wa innahu lā yażillu man wālait, wa lā ya‘izzu man ‘ādait, tabārakta rabbana wa ta‘ālait. fa lakal hamdu a’lâ mâ qadhait, wa astagfiruka wa atûbu ilaik, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.
Artinya:“Ya Allah, berilah kami petunjuk bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami kesehatan bersama orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah kami bersama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berkahilah untuk kami apa yang telah Engkau karuniakan. Lindungilah kami dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang menetapkan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau, wahai Tuhan kami.”
Dalil Doa Qunut Subuh dan Penjelasannya
Imam Al-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan qunut subuh disunahkan berdasarkan hadits shahih dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW selalu qunut sampai beliau meninggal.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى مَاتَ. رواه الحاكم في المستدرك، وقال: هذا حديث صحيح الإسناد.
Artinya: Dari Anas radhiyallāhu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ selalu berqunut dalam salat Subuh hingga beliau wafat. (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, beliau berkata: “Hadis ini sanadnya sahih.”). (Lihat: Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Adzkar, Beirut, Darul Fikri, 1994, halaman: 59).
Menurut Imam an-Nawawi, qunut subuh sunah muakkadah, meninggalkannya tidak membatalkan shalat, tetapi dianjurkan sujud sahwi, baik ditinggalkan sengaja atau tidak.
“Qunut dalam salat Subuh adalah sunnah muakkadah. Jika imam atau orang yang salat sendirian meninggalkannya, baik karena lupa maupun sengaja, disunnahkan baginya melakukan sujud sahwi,” demikian dikutip dari Al-Majmu'.
Keutamaan Membaca Qunut Subuh
1. Meneladani praktik Nabi Muhammad SAW
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai kontinuitasnya, seluruh mazhab mengakui bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan qunut subuh. Dengan melaksanakan qunut, seorang muslim telah mengamalkan salah satu sunnah Nabi yang tercatat dalam berbagai riwayat hadis sahih, khususnya sebagai bentuk qunut nazilah (doa saat musibah).
2. Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa
Qunut merupakan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Penciptanya. Dalam posisi berdiri setelah rukuk—yang merupakan salah satu momen mustajab—seorang muslim memanjatkan permohonan, pertolongan, dan petunjuk kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu" (QS. Ghafir: 60).
3. Memohon perlindungan dari segala keburukan
Doa qunut yang diajarkan dalam mazhab Syafi'i mengandung makna permohonan yang sangat mendalam, yaitu meminta hidayah dalam kelompok orang yang telah mendapat petunjukMeminta keselamatan dalam kelompok yang telah diselamatkanMeminta perlindungan dari takdir buruk yang telah ditetapkan.
4. Menguatkan sikap berserah diri (tawakal)
Dengan merangkum berbagai permohonan dalam bentuk doa qunut, seorang muslim secara tidak langsung mengakui keterbatasan dirinya dan menyadari bahwa hanya Allah tempat bergantung segala urusan. Hal ini sejalan dengan pesan dalam QS. Ali Imran: 159, "Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
5. Menjaga tradisi ilmiah para ulama
Dengan mengamalkan qunut subuh—sesuai dengan mazhab yang diikuti—seorang muslim turut melestarikan warisan intelektual Islam yang telah dibangun para ulama selama berabad-abad. Hal ini mencerminkan sikap menghargai ijtihad para imam mazhab yang didasarkan pada dalil-dalil yang mereka pandang kuat.
6. Mempererat persaudaraan sesama muslim
Doa qunut yang dibaca secara berjemaah—khususnya dalam mazhab Syafi'i—menciptakan momen bersama untuk memohon kebaikan dan perlindungan Allah. Secara psikologis, hal ini dapat memperkuat ikatan emosional dan spiritual di antara jemaah yang saling mendengar dan mengamini doa bersama.
7. Media pendidikan spiritual yang kontinu
Pelaksanaan qunut subuh setiap hari—bagi yang mengamalkannya—menjadi pengingat rutin tentang pentingnya memulai hari dengan doa dan permohonan kepada Allah. Praktik ini membentuk kebiasaan spiritual (riyadhah ruhiyyah) yang dapat meningkatkan ketakwaan secara bertahap.
Hukum Qunut Subuh Pendapat 4 Ulama Madzhab
Umat Islam juga perlu mengetahui khilafiyah dalam menghukumi qunut dalam sholat subuh. Dengan begitu, kita akan lebih arif dalam memaknai perbedaan dan tidak saling menyalahkan. Sebab, masing-masing madzhab memiliki dasar yang kuat, berdasar hadis dan ijmak.
1. Madzhab Syafii
Mazhab Syafi'i memandang qunut Subuh sebagai sunnah ab'ad yang dianjurkan untuk dikerjakan secara terus-menerus. Qunut dilakukan pada rakaat kedua setelah bangun dari rukuk (i'tidal) dengan membaca doa tertentu.
Landasan pendapat ini adalah riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa melaksanakan qunut dalam salat Subuh hingga akhir hayatnya. Bagi yang lupa mengerjakannya, dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi.
2. Madzhab Maliki
Dalam mazhab Maliki, qunut Subuh dianggap sebagai sunnah yang dianjurkan, namun dengan tata cara yang berbeda. Qunut dibaca secara sirr (tidak dikeraskan) pada rakaat kedua sebelum melakukan rukuk.
Meskipun demikian, terdapat keragaman pendapat di kalangan ulama Maliki sendiri, di mana sebagian ulama berpandangan bahwa qunut Subuh tidak memiliki dasar syar'i yang kuat.
3. Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa qunut Subuh yang dilakukan secara rutin tidak disyariatkan. Mereka hanya mengakui qunut dalam salat Witir.
Pendirian ini didasarkan pada pemahaman bahwa praktik qunut Subuh yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW telah dihapus (mansukh) dan tidak lagi dianjurkan untuk dilaksanakan secara terus-menerus.
4. Mazhab Hanbali
Mazhab Hanbali tidak menganjurkan qunut Subuh secara rutin. Mereka hanya membolehkan qunut nazilah, yaitu qunut yang dilakukan ketika umat Islam menghadapi musibah atau bencana, dan itu pun dapat dilaksanakan dalam semua salat fardu.
Pendapat ini berlandaskan pada hadis-hadis shahih yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW hanya melakukan qunut untuk sementara waktu kemudian menghentikannya.
Pertanyaan Seputar Doa Qunut
1. Bagaimana bacaan doa qunut yang lengkap?
Tabaarakta rabbanaa wa ta'aalait. Fa lakal-hamdu 'alaa maa qadhaiit, Astaghfiruka wa atuubu ilaik wa shallallahu 'ala sayyidina muhammadin nabiyyil ummuyyi wa 'alaa aalihii wa shahbihii wa sallam. Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk.
2. Bolehkah membaca doa qunut versi pendek?
Bacaan Doa Qunut Subuh Pendek Arab, Latin, dan ArtinyaYa, boleh membaca doa qunut pendek. Hal ini diperbolehkan dan dianjurkan, terutama jika tidak hafal doa qunut panjang. Doa qunut pendek dapat berupa bacaan khusus atau pengganti yang lebih mudah dihafal, karena inti dari qunut adalah berisi doa dan pujian kepada Allah dalam bahasa Arab.
3. Kalo ga hafal doa qunut baca apa?
"Kalau gak hafal qunut boleh saja baca Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, boleh apa saja," Jelas Buya. Lalu jika kemudian menjadi imam dan tidak hafal qunut, Buya Yahya menyarankan untuk tidak merasa khawatir atau malu.
4. Doa qunut Subuh sendiri bisa diganti dengan doa apa?
Contoh dzikir yang dapat menjadi pengganti doa qunut, yaitu 'Allahummaghfir lii yaa Ghafuur'. Kalimat 'ighfir lii' termasuk doa, sedangkan 'yaa Ghaffur' termasuk pujian.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515616/original/022919100_1772182056-Terminal_Jatijajar_Depok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4769102/original/014075000_1710171937-20240311-Taraweh_Pertama_di_Istiqlal-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505405/original/077638700_1771386569-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505591/original/004405000_1771391548-baju_kurung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515025/original/077930200_1772148384-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606355/original/da4eee4c0f11eaa06447a469562bbdd4ommons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513755/original/018031500_1772065055-1.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









