Gaya Hidup Muslim Produktif Tanpa Meninggalkan Ibadah, Bagaimana Implementasinya?

4 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Dalam pandangan Islam, produktivitas bukan sekadar pencapaian materi atau kesibukan tanpa makna. Ia merupakan bagian integral dari ibadah, manifestasi rasa syukur, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sayangnya, masih banyak yang memandang kerja dan ibadah sebagai dua domain yang terpisah: dunia dan akhirat, duniawi dan ukhrawi.

Padahal, Islam mengajarkan integrasi di mana setiap detik kehidupan dapat bernilai ibadah jika diniatkan dan dijalankan dengan benar. Untuk itu kita perlu memahami, gaya hidup muslim produktif tanpa meninggalkan ibadah.

Dewan Penyelenggara Universitas Komputama (UNIKMA), sekaligus Guru Besar Manajemen UIN Saizu Purwokerto, Prof Dr Fathul Aminudin Aziz, MM dalam Buku Manajemen Pesantren: Paradigma Baru Mengembangkan Pesantren Ditinjau dari Teori Manajemen memperkenalkan paradigma pesantren hybrid, di mana santri diajarkan bahwa dalam muamalah ada ibadah, begitu pula dalam ibadah ada muamalah.

Hal ini relevan dengan gaya hidup muslim produktif tanpa mengabaikan ibadah. Dalam konteks tarbiyah, santri (pelajar) perlu diperkenalkan bahwa produktivitas bukanlah hal terpisah dari ibadah. 

Gaya Hidup Muslim Produktif, Seiring Ibadah

Dr. Mustafa Kamal Rokan, dalam ebook Materi Khutbah Jumat: Islam dan Produktivitas (2019) mengangkat fenomena paradoks yang menggelisahkan. Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat religiusitas tinggi (keyakinan aqidah hingga 90%, ibadah shalat hingga 96%), namun produktivitas dan semangat kewirausahaan masyarakatnya justru rendah (hanya 3,01% wirausaha).

Bahkan, muncul anggapan yang keliru bahwa keyakinan kepada Allah dan Hari Akhir justru menjadi “pembenaran” untuk bermalas-malasan: “Untuk apa bersusah payah bekerja, nanti juga mati dan harta tak dibawa mati.”

Pemikiran ini, menurut Dr. Mustafa, berakar pada sekularisasi pemahaman ibadah. Ibadah dipersempit hanya pada ritual maghdhah (mahdhah) seperti shalat dan puasa, sementara aktivitas duniawi seperti bekerja, berbisnis, dan membangun peradaban dianggap urusan tersendiri yang lepas dari nilai ibadah.

Padahal, Rasulullah SAW dan para sahabat adalah contoh nyata manusia yang paling takut kepada Allah, paling khusyuk ibadahnya, namun juga paling produktif dan visioner dalam membangun peradaban.

Allah SWT berfirman: “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas (peninggalan) mereka. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yasin: 12)

Ayat ini menegaskan bahwa “bekas-bekas” (atsar) atau warisan peradaban yang kita tinggalkan di muka bumi adalah bagian yang dicatat Allah. Orang yang hidupnya tidak meninggalkan jejak kebaikan, inovasi, atau manfaat bagi sesama, maka sedikitlah yang bisa dicatat sebagai amal jariyahnya.

Etos Kerja sebagai Bagian Iman

Rahmad Annam dalam Jurnal Etos Kerja dan Produktivitas Kerja dalam Upaya Menjawab Permasalahan Ekonomi Islam menekankan bahwa ekonomi Islam dibangun di atas dasar-dasar Al-Qur’an dan Sunnah, di mana kerja dan produktivitas memiliki posisi sentral. Islam memandang bumi beserta isinya sebagai amanah Allah kepada manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30).

Peran sebagai khalifah ini mengandung makna kepemimpinan, pengelolaan, pemanfaatan, dan pelestarian alam. Untuk menjalankan amanah ini, manusia diwajibkan bekerja keras.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (tekun/sempurna).” (HR. Al-Baihaqi)

Prinsip Dasar Produktivitas Kerja dalam Islam

Etos kerja dalam Islam didasari prinsip-prinsip mendasar:

  • Bekerja secara halal, baik dari jenis pekerjaan maupun cara pelaksanaannya (thalaba ad-dunya halalan).
  • Bekerja agar tidak menjadi beban orang lain (ta’affufan ‘an al-mas’alah). Rasulullah menegur seorang pemuda kuat yang memilih mengemis, seraya bersabda bahwa memikul kayu bakar lebih mulia daripada mengemis (HR. Bukhari-Muslim).
  • Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga (sa’yan ‘ala ‘iyalihi). Hadis menyatakan, “Tidaklah seseorang memperoleh hasil terbaik melebihi yang dihasilkan tangannya sendiri.” (HR. Ibnu Majah).
  • Bekerja untuk meringankan beban tetangga (ta’aththufan ‘ala jarihi), sebagai wujud solidaritas sosial.
  • Uang dan harta dalam pandangan Al-Qur’an adalah “qiyaman” (sarana pokok kehidupan) (QS. An-Nisa’: 5) dan disebut sebagai “khair” (kebaikan) (QS. Al-Baqarah: 180). Namun, statusnya adalah amanah yang harus dikelola dengan baik, didapatkan secara halal, dan dialirkan untuk kemaslahatan melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Menimbun harta tanpa perputaran dikecam keras (QS. At-Taubah: 34).

3 Pilar Produktivitas Muslim

Merujuk Studi Perilaku Produktif Remaja Muslim dalam Buku Muslim Produktif Karya Mohammed Faris Terjemah Kusnandar, oleh Iftitah Riyani Tsalis menawarkan kerangka praktis yang menghubungkan keimanan dengan produktivitas sehari-hari.

Menjadi hamba Allah yang taat (‘ubudiyah) dan menjadi khalifah yang sukses memakmurkan bumi. Untuk mencapainya, produktivitas harus dibangun di atas tiga pilar yang saling terkait:

1. Produktivitas Spiritual

  • Energi, fokus, dan waktu harus disemangati oleh spiritualitas.
  • Energi Spiritual: Diperoleh dari hubungan dekat dengan Allah (dzikir, syukur, sabar, menyempurnakan ibadah). Faris mengutip kisah seorang shalih yang berkata, “Dzikir adalah sarapan pagi saya. Tanpanya, kekuatan saya akan hilang.”
  • Fokus Spiritual: Kemampuan menjaga niat (ikhlas) dan hanya mengonsumsi yang halal. Makanan haram memengaruhi ketaatan anggota badan (Imam Al-Ghazali).

2. Tubuh yang Sehat

Tubuh yang sehat adalah amanah dan alat untuk ibadah. Tidur dengan niat untuk menguatkan ibadah, mengikuti sunah tidur siang (qailulah), dan menjalankan adab sebelum tidur.

Mengonsumsi makanan halal dan bergizi seimbang, menghindari berlebihan. Nabi SAW bersabda, “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang rusuknya...” (HR. At-Tirmidzi).

Berolahraga rutin untuk kesehatan. Umar bin Khattab RA berkata, “Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah, dan menunggang kuda.”

3. Produktivitas Sosial

Seorang muslim bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kemaslahatan umat.

  • Membangun Hubungan: Berbakti pada orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik pada tetangga, dan menjaga pergaulan yang positif.
  • Berkontribusi untuk Masyarakat: Memiliki “proyek sosial”, saling tolong-menolong, amar ma’ruf nahi munkar, serta berdakwah dengan karya nyata (membangun sekolah, rumah sakit, dll).
  • Bersedekah dan Wakaf: Menanamkan mental pewakif – bahwa harta, ilmu, dan anak adalah untuk diwakafkan di jalan Allah. Inilah investasi abadi yang pahalanya terus mengalir.

Contoh Praksis Sehari-hari

Berdasarkan penelitian Iftitah Riyani Tsalis terhadap buku Muslim Produktif, gaya hidup produktif muslim  dapat diwujudkan dalam empat dimensi yang saling melengkapi. Konsep ini relevan bagi semua usia:

1. Produktif Secara Fisik

Diwujudkan dengan disiplin menjaga kesehatan melalui manajemen tidur, nutrisi, dan kebugaran seperti yang telah diuraikan di atas. Tubuh yang fit adalah modal untuk ibadah dan kerja yang optimal.

2. Produktif Secara Sosial

Diwujudkan dengan menghormati orang tua, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, tolong-menolong, dan menjaga pergaulan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Bukhari-Muslim).

3. Produktif Secara Moral

  • Diwujudkan dengan karakter terpuji (akhlaq al-karimah) seperti:
  • Jujur dan Amanah: Dasar semua transaksi. Kisah gadis penjual susu yang jujur hingga dinikahkan dengan putra Umar bin Khattab menjadi teladan.
  • Iffah (Menjaga Kesucian): Menjaga diri dari yang haram, baik dalam makanan, pandangan, maupun pergaulan.
  • Sabar dan Pemaaf: Kunci ketangguhan mental. Allah berfirman, “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). Memaafkan adalah bentuk kekuatan dan pembersih hati.

4. Produktif Secara Agama

Diwujudkan dengan ketakwaan, tawakal, syukur, dan keikhlasan.

Tawakal bukan pasif menunggu, tapi berusaha maksimal lalu berserah diri pada Allah. Seperti petani yang membajak sawah lalu berdoa meminta hujan.

Syukur meningkatkan energi positif dan menarik keberkahan. “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Ikhlas adalah ruh seluruh amal. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa ikhlas adalah membersihkan amal dari campuruan makhluk.

Membangun Mentalitas Muslim Produktif

Untuk keluar dari paradoks kesalehan tanpa produktivitas, diperlukan perubahan paradigma dan mentalitas:

  • Menyatukan Ibadah dan Kerja: Setiap aktivitas duniawi dapat bernilai ibadah dengan niat yang benar dan cara yang sesuai syariah. Bekerja untuk menafkahi keluarga adalah ibadah, berwirausaha yang jujur adalah jihad, menuntut ilmu adalah kewajiban.
  • Mengubah Orientasi Kepemilikan: Harta bukan tujuan, tapi alat (wasilah) untuk mencapai ridha Allah dan kemaslahatan umat. Kekayaan yang hakiki adalah yang diwakafkan untuk peradaban.
  • Membangun Mental Wakaf (Mental Pewakif): Seperti ditegaskan Dr. Mustafa, kita perlu mental berinvestasi untuk jangka panjang dan dampak luas. Daripada berhaji berkali-kali untuk diri sendiri, wakafkan sebagian dana untuk beasiswa atau rumah sakit yang manfaatnya mengalir abadi.
  • Meneladani Rasulullah SAW sebagai Usahawan dan Pemimpin: Nabi Muhammad SAW adalah penggembala, pedagang sukses, negarawan, panglima, dan kepala keluarga yang produktif dalam semua perannya. Beliau adalah bukti nyata integrasi kesalehan dan produktivitas kelas dunia.

Gaya hidup muslim produktif tanpa meninggalkan ibadah adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Ia adalah manifestasi dari tauhid yang mewujud dalam setiap aspek kehidupan. Produktivitas dalam Islam memiliki dimensi ganda: vertikal (meningkatkan ketakwaan dan meraih pahala) dan horisontal (memberikan manfaat dan membangun peradaban).

Dengan fondasi spiritual yang kuat, pengelolaan fisik yang sehat, komitmen moral yang tinggi, dan kontribusi sosial yang nyata, seorang muslim dapat menjadi insan yang produktif sekaligus shalih. Ia tidak hanya sibuk mengejar dunia, tetapi juga aktif menanam untuk akhirat. Ia tidak hanya rajin shalat malam, tetapi juga tekun dan profesional di siang hari.

People also Ask:

Bagaimana menjadi muslim yang produktif?

Menjadi Muslim Produktif. Memulai hari dengan shalat Subuh dan dzikir. Membuat perencanaan harian.Memprioritaskan tugas sesuai urgensi. Menghindari pemborosan waktu. Meluangkan waktu untuk menambah ilmu.

Apa itu gaya hidup Muslim?

Larangan: Dalam Islam, segala sesuatu yang dianggap berbahaya bagi tubuh, pikiran, jiwa, atau masyarakat adalah haram, sedangkan segala sesuatu yang bermanfaat adalah halal. Islam melarang umat Islam mengonsumsi daging babi, alkohol, atau obat-obatan yang mengubah kesadaran.

Apa itu produktif dalam Islam?

Produktif dalam Islam berarti memanfaatkan waktu dan potensi untuk kegiatan yang bermanfaat dunia akhirat, dengan niat ibadah, disiplin, serta seimbang antara urusan dunia dan akhirat, yaitu dengan berbuat kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain, belajar, berdakwah, serta mengelola waktu secara optimal karena Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja keras dan menebar manfaat.

Bagaimana umat Muslim dapat menjadi lebih produktif?

Ajaran Islam memberitahukan kita tentang manfaat luar biasa dari waktu antara subuh, subuh, dan matahari terbit, dan bagaimana refleksi serta doa kita menjadi sangat baik pada waktu itu. Saat ini, penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang sukses adalah mereka yang bangun pagi .

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |