Gaya Hidup Sederhana ala Rasulullah yang Relevan di Zaman Sekarang, Antitesa Hedonisme dan FOMO

5 days ago 17

Liputan6.com, Jakarta - Gaya hidup sederhana (zuhud) Rasulullah SAW bukan sekadar konsep historis, melainkan solusi spiritual dan praktis untuk menghadapi badai hedonisme di era modern. Umat Islam, terutama kaum muda, penting untuk mengetahui gaya hidup sederhana ala Rasulullah yang relevan di zaman sekarang

Gaya hidup sederhana dalam Islam bukan berarti memilih untuk menjadi miskin atau fakir. Sebaliknya, hidup sederhana adalah tentang bagaimana manusia bersikap tunduk dan rendah diri di hadapan Allah SWT serta mampu mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang sia-sia.

Terlebih, di zaman sekarang, fenomena hedonisme telah merambah ke berbagai kalangan, termasuk kalangan muda. Meneladani kesederhanaan Rasulullah SAW menjadi sangat relevan karena  mengajarkan keseimbangan (tawazun) antara pemenuhan kebutuhan duniawi dan kesiapan ukhrawi.

Dalam berbagai studi, frugal living ala Rasulullah SAW bahkan menjadi antitesa gejala hedonisme dan FOMO di kalangan muda usia. Berikut ulasannya, merujuk berbagai studi ilmiah dan pandangan ulama.

Menurut Faraj Hadi dalam rbook Kepribadian Rasulullah SAW, hidup sederhana ala Rasulullah adalah tentang prioritas. Dahulukan kebutuhan di atas keinginan, dan jadikan harta di tangan (sebagai alat), bukan di hati (sebagai tujuan).

Untuk itu, pertama kali saat akan menerapkan hidup sederhana ala Rasulullah adalah mengenal kepribadiannya.

1. Kepribadian Rasulullah: Sederhana namun Berwibawa

Ada beberapa parameter yang menunjukkan betapa sederhananya kepribadian Rasulullah SAW. Dan itu tak mengurangi kewibawaannya.

  • Tawadhu (Rendah Hati): Beliau senantiasa menjauhkan diri dari segala bentuk kepura-puraan dan keterpaksaan.
  • Mandiri dan Membantu Keluarga: Meski seorang pemimpin negara, beliau tetap rendah hati dengan membantu urusan rumah tangga, seperti menjahit pakaian atau memperbaiki alas kaki sendiri.
  • Adil dalam Sederhana: Beliau tidak pernah menggunakan jabatan atau kekayaannya untuk kepentingan pribadi, melainkan tetap hidup bersahaja demi menegakkan kebenaran.

2. Tidak Berlebihan

Konsep hidup sederhana secara eksplisit diatur dalam Al-Qur'an melalui tiga pilar utama:

Larangan Berlebihan (Israf) - QS. Al-A'raf: 31: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." 

Dalam Tafsir Al-Maraghi, Ahmad Mustafa Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kaidah dasar kesehatan dan ekonomi.

Manusia diperbolehkan menikmati perhiasan dan makanan yang baik, namun jika melewati batas (israf), maka akan mendatangkan kerugian bagi fisik maupun harta.

3. Proporsional dalam Tasaruf Harta

Hal ini berdasar QS. Al-Furqan: 67: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." 

Muhammad Ali al-Shabuni dalam kitab Shafwah al-Tafasir menyebutkan bahwa sifat hamba Allah yang mulia ('Ibadurrahman) adalah yang mampu mengambil jalan tengah (moderat).

Mereka tidak boros hingga menghamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat, namun juga tidak bakhil hingga menahan hak yang seharusnya dikeluarkan.

4. Tidak Sombong

Di lain sisi, ada larangan sombong dan angkuh , yang termaktub dalam QS. Luqman: 18-19: "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh..." 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kesederhanaan harus tampak dari cara berjalan dan berbicara. Hidup sederhana adalah bentuk syukur, sedangkan kesombongan seringkali lahir dari gaya hidup mewah yang dipamerkan (hedonisme).

Tips Praktis Frugal Living ala Rasulullah SAW

Dalam tataran praksis, kesederhanaan Rasul bisa kita contoh dalam era kekinian yang juga populer disebut frugal living:

1. Makanan

Kesederhanaan Rasulullah bisa dilihat dari cara beliau makan, rumah yang beliau huni, dan cara beliau berpakaian. 

“Makan dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.” (HR. An-Nasa’I).

2. Tidak membelanjakan uang secara berlebihan

“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S Al-Furqan: 67).

3. Tidak membeli barang di luar kebutuhan

Upaya Rasul untuk hidup sederhana dengan cara membeli barang sesuai dengan kebutuhan. Rasulullah tidak pernah membeli sesuatu melainkan itu bermanfaat untuknya. Konsep hidup seperti ini akan membuat pengeluaran kita lebih stabil.

4. Memenuhi kebutuhan harian dengan bijak

Kebutuhan harian dapat dilihat dari skala prioritas. Kita bisa lebih paham mana kebutuhan primer dan sekunder. 

5. Berbagi kepada yang membutuhkan

Berbagi itu bukan berarti mengurangi harta, tetapi melipatgandakan dan membuat harta yang kita miliki menjadi berkah. Berbagi atau sedekah juga dapat membuat kita terhindar dari bala dan memperpanjang umur.

"Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk." (HR. Thabrani). 

Antitesa Gejala Hedonisme dan FOMO

Kajian dalam Jurnal Tashdiq (Ai Nurasyiah dkk.) menyoroti bahwa gaya hidup sederhana Rasulullah adalah "obat" bagi mentalitas mahasiswa saat ini yang sering terjebak Fear of Missing Out (FOMO) dan tekanan sosial untuk terlihat kaya.

  • Zuhud di Era Digital: Mengikuti sunnah bukan berarti meninggalkan teknologi, tapi menggunakan teknologi secukupnya tanpa harus selalu mengikuti tren gadget terbaru jika tidak mendesak.
  • Kemandirian: Meneladani Nabi yang mandiri membantu meringankan beban orang tua dan fokus pada prestasi daripada sekadar penampilan fisik.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, pada Bab tentang Keutamaan Lapar dan Hidup Sederhana, dijelaskan banyak hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW seringkali hanya makan kurma dan air meski beliau bisa saja memiliki harta berlimpah.

Hal ini dilakukan untuk memberi teladan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kedekatan dengan Allah, bukan pada tumpukan barang mewah.

People Also Ask:

Bagaimana cara Rasulullah mencontohkan kita hidup sederhana?

Kesederhanaan Rasul bisa kita contoh dalam hal ini. Beginilah frugal living ala Rasulullah! Kesederhanaan Rasulullah bisa dilihat dari cara beliau makan, rumah yang beliau huni, dan cara beliau berpakaian. “Makan dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa bersikap berlebihan dan sombong.” (HR. An-Nasa'I).

Bagaimana kita bisa meneladani perilaku sederhana nabi dan rasul?

Ringkasan AIUntuk meneladani kesederhanaan Nabi dan Rasul, kita bisa mulai dari hal kecil seperti tidak berlebihan dalam makan, minum, dan berpakaian, mengutamakan kebutuhan daripada keinginan, bijak mengelola keuangan (hemat, tidak boros), rajin bersedekah, serta mengamalkan akhlak mulia seperti jujur, sabar, peduli, dan selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas, menjadikannya gaya hidup yang fokus pada kualitas hidup spiritual dan sosial daripada materi.

Mengapa Rasulullah memilih hidup sederhana?

Jika Nabi Muhammad hidup dalam kekayaan dan kemegahan, maka kaumnya akan menuduh bahwa dia adalah orang yang gila harta dan tamak. Untuk itu, Rasulullah memilih tetap hidup sederhana.

Seperti apakah kehidupan sederhana Nabi Muhammad?

Kehidupan sederhana Nabi Muhammad SAW: Beliau tidak mengumpulkan kekayaan, tidak hidup dalam kemewahan, berani dan gagah, tidak makan dan minum, tidak berdandan dan bersenang-senang, tidak menikmati kesenangan duniawi, tidak menginginkan ketenaran, percaya pada keadilan yang sama untuk semua, mencintai orang-orang dari agama lain, menganggap duniawi

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |