Liputan6.com, Jakarta Di tengah perbedaan manusia di seluruh dunia, Islam hadir membawa rahmat yang mengayomi kehidupan agar berjalan dalam kedamaian. Islam memang bukan sekadar agama yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tapi juga harmoni sosial antar sesame manusia tanpa memandang keyakinannya. Bahkan terdapat hadist tentang toleransi yang mendukung sikap menghargai dan menerima adanya perbedaan. Toleransi sendiri merupakan sebagai kelapangan hati untuk menghargai perbedaan sambil tetap berpegang teguh pada keimanan.
Toleransi dalam Islam bukanlah kompromi terhadap akidah, melainkan wujud kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Rasulullah SAW sendiri menjadi teladan dalam hal ini dengan memperlakukan tetangga non-muslimnya dengan penuh kebaikan, lembut, dan tetap adil. Nilai-nilai luhur ini terangkum dalam banyak hadist tentang toleransi, yang menjadi pedoman moral dan sosial bagi setiap Muslim hingga kini.
Makna dan Landasan Toleransi dalam Islam
Secara etimologis, kata toleransi berasal dari bahasa Arab “tasāmuh”, yang bermakna kelembutan, kelapangan dada, serta sikap saling memaafkan. Dalam ajaran Islam, makna tentang toleransi meluas menjadi sikap menghormati hak-hak orang lain dengan adil tanpa menzalimi siapa pun. Inilah bagian dari akhlak mulia yang tumbuh dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Sebagai sumber hukum Islam, Al-Quran dengan tegas mengajarkan nilai toleransi melalui firman Allah:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)
Dalam ayat ini, Islam seperti menegaskan untuk mendorong umatnya berbuat baik kepada siapa pun, selama tidak ada permusuhan terhadap iman yang diyakininya. Namun, tetap ada batas toleransi yang jelas dalam Islam, yaitu seorang Muslim tidak boleh mencampuradukkan keyakinan atau ikut serta dalam ritual yang bertentangan dengan akidah Islam. Inilah poin penting toleransi dalam Islam, tetap seimbang antara penghormatan dan keteguhan iman.
Hadist-Hadist tentang Toleransi
Sebagai seorang muslim, kita juga dicontohkan bagaimana sikap toleransi dalam Islam dari hadist tentang toleransi. Hadist tentang toleransi ini menggambarkan betapa Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan keharmonisan sosial. Setiap hadist bukan sekadar teks, tetapi cerminan nyata dari kehidupan sosial Rasulullah SAW. Berikut beberapa di antaranya:
a. Hadist untuk mengajarkan tolong menolong pada siapa pun
Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,
فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
“Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah Islam masih mengajarkan peduli sesama.
b. Hadist tentang menjalin hubungan kerabat pada saudara non-muslim.
Asma’ binti Abi Bakr pernah berkata,
“Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi SAW dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat,
لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِى الدِّينِ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari).
c. Hadist memberi hadiah pada non-muslim
Dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata,
رَأَى عُمَرُ حُلَّةً عَلَى رَجُلٍ تُبَاعُ فَقَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ابْتَعْ هَذِهِ الْحُلَّةَ تَلْبَسْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَإِذَا جَاءَكَ الْوَفْدُ . فَقَالَ « إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذَا مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ فِى الآخِرَةِ » . فَأُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْهَا بِحُلَلٍ فَأَرْسَلَ إِلَى عُمَرَ مِنْهَا بِحُلَّةٍ . فَقَالَ عُمَرُ كَيْفَ أَلْبَسُهَا وَقَدْ قُلْتَ فِيهَا مَا قُلْتَ قَالَ « إِنِّى لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا ، تَبِيعُهَا أَوْ تَكْسُوهَا » . فَأَرْسَلَ بِهَا عُمَرُ إِلَى أَخٍ لَهُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ
“’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari).
d. Hadist tentang larangan membunuh non-Muslim dzimmi
Nabi SAW pernah bersabda,
“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahid, maka ia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).
e. Hadist untuk berbuat baik terhadap non-muslim
Berikut ini teladan dari salafus shalih dalam berbuat baik terhadap tetangganya yang Yahudi. Seorang tabi’in dan beliau adalah ahli tafsir, imam Mujahid, ia berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah bin ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata,
ياَ غُلاَمُ! إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِي
”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu”.
Lalu ada salah seorang yang berkata,
آليَهُوْدِي أَصْلَحَكَ اللهُ؟!
“(kenapa engkau memberikannya) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisimu”.
‘Abdullah bin ’Amru lalu berkata,
إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشَيْنَا أَوْ رُؤِيْنَا أَنَّهُ سَيُوّرِّثُهُ
‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.” (Al Irwa’ Al-ghalil).
Batas Toleransi dalam Islam
Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi, namun Islam juga adalah agama yang seimbang antara kasih saying dengan keimanan. Karenanya, toleransi memiliki batas agar tidak melampaui syariat.
Seorang muslim tetap harus menjaga kemurnian akidah meski menghormati orang lain. Berikut batas-batasnya:
- Tidak ikut serta dalam ritual keagamaan agama lain sebagai bentuk partisipasi.
- Tidak mengucapkan selamat hari raya agama lain yang mengandung pengakuan terhadap kepercayaan tersebut.
- Tetap menghormati dan berbuat baik dalam urusan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan tanpa menyinggung akidah.
- Menolak bentuk toleransi berlebihan yang melemahkan iman.
- Menegakkan keadilan kepada siapa pun, baik Muslim maupun non-Muslim, selama tidak ada permusuhan terhadap Islam.
Dengan demikian, hadist tentang toleransi tidak hanya berbicara tentang sikap lembut, tetapi juga keseimbangan antara kasih sayang dan keteguhan iman.
Nilai-Nilai Toleransi dalam Islam
Toleransi sejatinya bukan sekadar keramahan sosial, melainkan cerminan dari nilai-nilai spiritual yang tinggi. Nilai-nilai inilah yang membentuk masyarakat yang damai, adil, dan beradab. Nilai-nilai toleransi yang diajarkan Islam:
- Keadilan: Memberi hak kepada setiap orang tanpa diskriminasi, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Ma’idah: 8.
- Kasih sayang: Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal ini ditegaskan pula dalam berbagai hadist kasih sayang yang mengajarkan cinta universal.
- Kebebasan beragama: “Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256)
- Perdamaian: Islam berarti damai; setiap Muslim diajak menebar ketenangan kepada sesama makhluk.
- Etika sosial: Menjaga ucapan, menghormati keyakinan, dan menebarkan kebaikan tanpa menimbulkan perpecahan.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa arti toleransi dalam Islam?
Toleransi berarti berbuat baik dan adil kepada siapa pun tanpa mengorbankan akidah Islam.
2. Apakah Islam melarang berbuat baik kepada non-Muslim?
Tidak. Islam justru memerintahkan untuk berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memusuhi umat Islam.
3. Apakah boleh mengucapkan selamat hari raya agama lain?
Mayoritas ulama melarang karena termasuk bentuk persetujuan terhadap akidah lain.
4. Apa contoh toleransi Nabi Muhammad ﷺ?
Beliau menjenguk tetangga Yahudi yang sakit dan memberikan perlindungan kepada non-Muslim di Madinah.
5. Mengapa Islam disebut agama yang paling toleran?
Karena Islam menjunjung keadilan, kasih sayang, dan menghormati hak hidup semua manusia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515616/original/022919100_1772182056-Terminal_Jatijajar_Depok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4769102/original/014075000_1710171937-20240311-Taraweh_Pertama_di_Istiqlal-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505405/original/077638700_1771386569-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505591/original/004405000_1771391548-baju_kurung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515025/original/077930200_1772148384-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606355/original/da4eee4c0f11eaa06447a469562bbdd4ommons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513755/original/018031500_1772065055-1.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









