Hukum Pamer Harta di Media Sosial dalam Islam: Ketahui Bahaya Sifat Riya

3 months ago 81

Liputan6.com, Jakarta Hukum pamer harta di media sosial perlu dipahami oleh setiap Muslim. Fenomena memamerkan harta kekayaan melalui media sosial semakin marak di era digital ini. Berbagai platform sosial dijadikan ajang untuk mengunggah foto rumah mewah, kendaraan, perhiasan, hingga gaya hidup glamor, tanpa menyadari dampak spiritual yang ditimbulkan.

Padahal dalam Islam, perilaku ini termasuk dalam kategori perbuatan tercela yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Pamer harta di media sosial bukan sekadar tindakan menunjukkan pencapaian pribadi, namun dapat menimbulkan berbagai masalah seperti kesombongan dan riya. Islam secara tegas melarang umatnya untuk berbuat sombong dan memamerkan kekayaan karena hal tersebut merupakan akhlak yang tidak disukai Allah SWT. 

Allah SWT berfirman dalam Surat Luqman ayat 18 bahwa Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Larangan ini bukan tanpa alasan, karena kesombongan dan pamer harta dapat membawa seseorang kepada kebinasaan spiritual dan menjauhkan diri dari rahmat Allah. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (19/11/2025).

Hukum Pamer Harta di Media Sosial Dalam Islam

Pamer harta di media sosial dalam pandangan Islam memiliki hukum yang jelas dan tegas. Perbuatan ini termasuk dalam kategori akhlak tercela yang sangat tidak disukai oleh Allah karena mengandung unsur kesombongan dan riya. Mengutip laman Kementerian Agama, pamer harta kekayaan termasuk dalam kategori sombong, salah satu tindakan yang dilarang dalam Islam. 

Secara syariat, hukum pamer harta di media sosial adalah haram karena termasuk perbuatan syirik kecil atau riya. Ketika seseorang memamerkan hartanya dengan tujuan mendapat pujian dan pengakuan dari orang lain, ia telah menyekutukan Allah dengan makhluk dalam hal tujuan hidupnya.

Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam yang mengajarkan bahwa segala sesuatu harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT.  Allah SWT berfirman dalam Surat Luqman ayat 18 yang berbunyi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: "Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri."

Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang bersikap sombong dan membanggakan diri, termasuk dalam hal memamerkan harta kekayaan. Sifat ini dapat merusak hubungan dengan Allah SWT dan juga dengan sesama manusia.

Bahaya Sifat Riya Dalam Islam

Riya termasuk perbuatan tercela yang dibenci Allah dan memiliki bahaya yang sangat besar bagi kehidupan spiritual seorang Muslim. Sifat ini tidak hanya merusak nilai ibadah, tetapi juga dapat membawa dampak buruk di dunia dan akhirat.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumiddin menjelaskan bahwa segala perbuatan yang dilakukan dengan niat riya (ingin dilihat orang lain) adalah haram, meskipun perbuatan itu sendiri adalah ibadah.

1. Menghapus Pahala Amalan Ibadah

Bahaya paling besar dari riya adalah kemampuannya untuk menghapuskan pahala dari amal ibadah yang telah dilakukan dengan susah payah. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 264 yang menegaskan bahwa sedekah yang dilakukan dengan riya akan menghilangkan pahalanya, seperti batu licin yang ditimpa hujan sehingga bersih dari tanah yang ada di atasnya.

2. Termasuk Syirik Kecil (Asy-Syirk Al-Ashghar)

Riya dianggap sebagai syirik kecil karena orang yang melakukannya telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam amal atau ibadah tersebut. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mahmud bin Labid bahwa yang paling beliau takuti atas umatnya adalah asy-syirk al-ashghar, yaitu riya.

3. Mendatangkan Murka Allah SWT

Karena riya termasuk dalam perbuatan syirik kecil, maka dapat mendatangkan murka Allah SWT. Balasannya tidak lain adalah siksa api neraka di akhirat. 

4. Merusak Keikhlasan Dalam Beribadah

Riya merusak keikhlasan yang merupakan syarat utama diterimanya ibadah. Amalan yang tidak dilakukan dengan ikhlas karena Allah akan sia-sia dan tidak mendapat ridha dari Allah SWT. Keikhlasan adalah ruh dari setiap ibadah dan riya menghancurkan ruh tersebut.

5. Menjadikan Pelaku Masuk Golongan Munafik

Perbuatan riya berbahaya karena merupakan salah satu penyakit hati yang menjadikan seseorang masuk dalam golongan orang munafik. Allah SWT menyebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 142 bahwa orang munafik berdiri mengerjakan shalat dalam keadaan malas dan riya di hadapan manusia.

6. Lebih Berbahaya Dari Fitnah Dajjal

Rasulullah SAW bahkan menyatakan bahwa kekhawatiran beliau terhadap syirik tersembunyi (riya) jauh lebih besar dibandingkan kekhawatiran beliau terhadap Dajjal. Hal ini menunjukkan betapa bahayanya riya karena sifatnya yang tersembunyi dan sulit dideteksi.

7. Menimbulkan Ketidaktenangan Hati

Orang yang melakukan riya akan selalu bergantung pada penilaian dan pujian orang lain. Ketika pujian yang diharapkan tidak datang, ia akan merasa hampa, kecewa, dan tidak puas dengan apa yang telah dilakukan. Kondisi ini menciptakan ketidaktenangan dalam hati.

Bentuk-Bentuk Perbuatan Riya

Memahami berbagai bentuk riya sangat penting agar setiap Muslim dapat menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari. Riya dapat muncul dalam berbagai aspek kehidupan dan ibadah.

1. Riya dalam Ibadah Fisik

Bentuk riya ini terjadi ketika seseorang melakukan ibadah seperti shalat, puasa, atau haji dengan tujuan agar dilihat dan dipuji orang lain. Misalnya, seseorang yang shalat dengan khusyuk dan lama hanya ketika ada orang yang melihat, namun tergesa-gesa ketika sendirian.

2. Riya dalam Penampilan

Riya penampilan mencakup penggunaan pakaian atau aksesoris tertentu dengan tujuan mendapat pujian dari orang lain. Contohnya, seseorang yang menggunakan hijab panjang atau pakaian muslim hanya karena ingin dianggap sebagai orang alim dan saleh, bukan karena ketaatan kepada Allah.

3. Riya dalam Perkataan

Bentuk ini terjadi ketika seseorang melantunkan ayat Al-Quran dengan suara merdu atau berbicara tentang ilmu agama di hadapan orang lain hanya untuk mendapat pujian atas kemampuannya, bukan karena ingin menyebarkan kebaikan.

4. Riya dalam Harta

Fenomena pamer harta di media sosial yang dikenal dengan istilah flexing termasuk dalam bentuk riya dalam harta. Mereka yang melakukannya sering beralasan untuk memotivasi orang lain, padahal sejatinya ini adalah perbuatan sombong yang tidak disukai Allah SWT.

5. Riya dalam Amal Kebaikan

Seseorang yang bersedekah atau membantu orang lain dengan cara yang mencolok agar dilihat dan dipuji orang lain termasuk dalam kategori ini. Misalnya, menunda sedekah sampai ada orang yang melihat, atau menceritakan amal kebaikan yang telah dilakukan kepada banyak orang.

6. Riya dalam Ilmu Pengetahuan

Menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu agama dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang berilmu dan mendapat penghormatan dari masyarakat, bukan karena Allah, termasuk bentuk riya yang berbahaya.

Cara Menghindari Sifat Riya

Setelah mengetahui bahaya dan bentuk-bentuk riya, setiap Muslim perlu mengetahui cara-cara efektif untuk menghindari sifat tercela ini. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan:

1. Memperbaiki dan Meluruskan Niat

Cara menghindari riya yang pertama adalah dengan memperbaiki niat. Kita harus ingat bahwa segala macam perbuatan tergantung pada niat. Apabila niat kita baik semata-mata karena Allah SWT, maka insyaAllah akan dicatat sebagai pahala. Sebaliknya, jika terbesit di pikiran kita rasa ingin dipuji oleh manusia, maka perbuatan kita tidak memperoleh apapun, bahkan bernilai dosa.

2. Memupuk Rasa Tawadhu (Rendah Hati)

Berbuat dan bersikap sewajarnya dalam berbagai hal, tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan. Kesederhanaan membuat seseorang menjadi lebih baik, ikhlas, dan tidak mudah melakukan riya.

3. Menyembunyikan Amal Kebaikan

Berusaha menyembunyikan ibadah dan amal-amal kebaikan sebagai cara menghindari sikap riya. Bersedekah seolah tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui. Namun, ibadah umum yang tidak bisa disembunyikan seperti shalat jamaah di masjid atau puasa tak perlu ditutupi, yang terpenting berusahalah ikhlas.

4. Senantiasa Berbuat Baik Saat Sendirian Maupun Di Hadapan Orang

Konsistensi dalam beribadah baik saat sendirian maupun di hadapan orang banyak menunjukkan keikhlasan. Caranya dengan meyakini bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan akan disaksikan Allah, bukan manusia.

5. Tidak Mengungkit Amal Kebaikan Yang Telah Dilakukan

Menahan diri untuk tidak mengungkit amalan atau perbuatan baik yang pernah dilakukan, terutama jika niatnya untuk mencari pujian orang lain. Cukup Allah yang mengetahui dan mencatatnya.

6. Tidak Merasa Bangga Atas Kelebihan Yang Dimiliki

Tidak merasa bangga atas kelebihan dan kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, kelebihan tersebut dijadikan pengingat untuk bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat.

7. Memperbanyak Dzikir dan Doa

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk melibatkan Allah SWT dalam segala urusan, termasuk berlindung dari sifat-sifat yang tercela seperti riya. Berdoa dan memohon perlindungan Allah agar dihindarkan dan dijauhkan dari sifat riya merupakan cara yang sangat efektif.

8. Mengendalikan Hati Dari Pujian Manusia

Berusaha mengendalikan hati agar tidak terbuai dengan pujian manusia. Sebuah pujian memang bisa memotivasi diri untuk menjadi lebih baik, namun kadang pujian juga bisa menjadi racun hingga membuat seseorang menjadi riya.

9. Memperbanyak Muhasabah (Introspeksi Diri)

Melakukan introspeksi diri secara rutin untuk mengidentifikasi apakah niat dalam beramal sudah bercampur dengan riya atau belum. Setiap malam sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: "Apakah aku beramal hari ini karena Allah atau karena ingin dipuji manusia?"

10. Mengingat Kematian dan Hari Akhir

Sering mengingat kematian dan hari akhir dapat membantu seseorang untuk lebih fokus pada ridha Allah daripada pujian manusia. Ketika meninggal, seseorang akan sendirian di dalam kubur dan yang bisa menemani hanya amal ibadah yang dilakukan secara ikhlas semasa hidup.

FAQ

1. Apakah memamerkan harta di media sosial termasuk dosa besar?

Memamerkan harta di media sosial termasuk dosa karena mengandung unsur kesombongan dan riya yang merupakan syirik kecil.

2. Bolehkah mengunggah foto pencapaian di media sosial?

Boleh jika niatnya untuk berbagi keberkahan dan motivasi yang baik, bukan untuk pamer atau mencari pujian dari orang lain.

3. Apakah riya bisa menghapus semua pahala ibadah?

Ya, riya dapat menghapus pahala ibadah karena Allah tidak menerima amalan yang dilakukan dengan niat menyekutukan-Nya.

4. Bagaimana cara membedakan antara berbagi kebahagiaan dengan pamer?

Berbagi kebahagiaan dilakukan dengan rendah hati dan tujuan positif, sedangkan pamer dilakukan dengan kesombongan dan mengharap pengakuan orang lain.

5. Apakah semua unggahan di media sosial tentang harta termasuk riya?

Tidak semua, tergantung niat; jika untuk edukasi atau berbagi manfaat dengan ikhlas maka boleh, namun jika untuk pamer maka termasuk riya.

6. Bagaimana menghindari riya saat berbagi pencapaian di media sosial?

Perbaiki niat dengan memastikan tujuannya untuk menginspirasi atau bersyukur kepada Allah, bukan untuk mencari pujian dan validasi dari orang lain.

Islam tidak melarang memiliki harta atau menunjukkan nikmat Allah, yang dilarang adalah sikap sombong dan pamer dengan tujuan mendapat pujian. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |