Liputan6.com, Jakarta - Kehidupan Imam An-Nawawi dan kesederhanaan yang melekat padanya menjadi teladan abadi di tengah derasnya arus kemewahan dunia modern. Sosoknya dikenal bukan hanya karena keilmuan yang luas, tetapi juga karena cara hidupnya yang penuh dengan nilai zuhud dan wira’i.
Imam An-Nawawi dan kesederhanaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam setiap lembar perjalanan hidupnya, ia menunjukkan betapa indahnya hidup dalam kesahajaan, menjauhi gemerlap dunia, dan hanya berorientasi pada ridha Allah SWT.
Para ulama klasik menempatkan Imam An-Nawawi sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Dalam berbagai karya biografi, kehidupannya selalu digambarkan dengan ketulusan, kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta kepedulian terhadap umat.
Imam An-Nawawi tidak hanya dikenal karena kitab-kitab monumental seperti Riyadhus Shalihin dan Arba’in An-Nawawiyyah, tetapi juga karena cara hidupnya yang mencerminkan isi dari kitab-kitab tersebut—penuh dengan akhlak mulia dan ketundukan kepada Allah SWT.
Zuhud Sejak Masa Muda
Imam An-Nawawi lahir pada tahun 631 Hijriah di Nawa, wilayah Damaskus. Sejak kecil, tanda-tanda kecerdasannya sudah terlihat. Namun, yang lebih menonjol justru adalah keseriusannya dalam mempelajari agama dan keengganannya terhadap permainan duniawi.
Dalam kitab Min A’lam As-Salaf karya Syaikh Ahmad Farid disebutkan, Imam An-Nawawi tumbuh sebagai sosok yang menjaga diri dari hal-hal haram dan syubhat. Ia selalu berhati-hati dalam setiap langkah, menjadikan ilmunya tidak hanya luas tetapi juga penuh berkah.
Keluarganya dikenal saleh dan sederhana. Dukungan ayahnya, yang juga seorang pecinta ilmu, membuat Imam An-Nawawi kecil tumbuh dalam lingkungan yang mendorong kesalehan dan kemandirian.
Kehidupan di Damaskus
Setelah beranjak dewasa, Imam An-Nawawi pindah ke Damaskus untuk menuntut ilmu. Di kota ini, ia menempati sebuah asrama sederhana untuk para penuntut ilmu. Di kamarnya, tak ada kemewahan—hanya kitab-kitab yang bertumpuk hampir memenuhi seluruh ruang.
Imam An-Nawawi dikenal tidak banyak tidur. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk membaca, menulis, dan mengajar. Sering kali ia lupa makan karena terlalu larut dalam penelaahan ilmu.
Sumber lain menyebutkan bahwa makanannya sehari-hari hanyalah roti kering dan buah zaitun. Ia tidak memasak, karena waktunya digunakan sepenuhnya untuk mengajar dan menulis.
Sikap terhadap Dunia dan Jabatan
Imam An-Nawawi tidak pernah tertarik pada jabatan atau kekuasaan. Ketika diminta menjadi hakim oleh pemerintah pada masanya, ia menolak dengan halus. Baginya, jabatan dunia bukanlah tempat yang sesuai untuk orang yang ingin menjaga kemurnian niat.
Bahkan ketika diminta untuk memberikan fatwa yang bisa menguntungkan pihak penguasa, Imam An-Nawawi tetap teguh menolak. Ia lebih memilih hidup dalam kesederhanaan daripada kehilangan integritas keilmuannya.
Sikap ini membuatnya sangat dihormati oleh masyarakat dan para ulama lain. Ia menjadi simbol keberanian intelektual yang dilandasi keikhlasan.
Keteguhan Zuhud dan Wira’i
Zuhud Imam An-Nawawi bukan hanya dalam hal harta, tapi juga dalam hal kehormatan dunia. Ia menolak segala bentuk pemberian yang bisa membuatnya bergantung pada orang lain.
Dalam buku Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dijelaskan, Imam An-Nawawi bahkan tidak menikah sepanjang hidupnya. Keputusan itu bukan karena menolak sunnah, tetapi karena waktunya habis untuk ilmu dan dakwah.
Ia menjadikan hidupnya sebagai ladang pengabdian. Tidak ada waktu untuk berleha-leha, karena setiap detiknya dianggap berharga untuk menulis dan mengajar.
Menasihati Penguasa
Ketika banyak ulama memilih diam, Imam An-Nawawi tampil sebagai sosok yang berani menasihati penguasa. Ia menulis surat kepada penguasa kala itu, menegur kebijakan yang dianggap tidak adil kepada rakyat.
Dalam suratnya kepada Ibnu An-Najjar, ia menulis, “Alhamdulillah, aku lebih memilih mati dalam keadaan taat kepada Allah SWT daripada hidup dalam kemaksiatan.”
Kata-kata itu menjadi cerminan keberanian seorang ulama sejati—yang tidak takut kehilangan dunia demi mempertahankan kebenaran.
Warisan Keilmuan yang Abadi
Imam An-Nawawi wafat pada 24 Rajab 676 Hijriah di kampung halamannya, Nawa. Namun, karya dan pengaruhnya tidak ikut mati. Kitab-kitabnya menjadi rujukan utama di berbagai madrasah dan pesantren hingga kini.
Di antara karya monumentalnya adalah Riyadhus Shalihin, Syarah Shahih Muslim, Al-Adzkar, dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Semua karya itu ditulis dengan hati yang tulus dan semangat ibadah yang tinggi.
Keilmuan Imam An-Nawawi menjadi warisan yang tak ternilai bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kitab Tuhfah ath-Thâlibîn karya Ibn al-Aththâr mencatat betapa sederhana dan bersahajanya hidup Imam An-Nawawi. Ia tidak memiliki rumah besar, pakaian mahal, atau harta melimpah, tetapi kekayaannya adalah ilmu dan akhlak.
Kitab Al-Manhalu Al-‘Adzbu Ar-Rawiy karya As-Sakhawi juga menegaskan, kezuhudan Imam An-Nawawi menjadi teladan bagi ulama sesudahnya. Kesederhanaannya menjadi cermin dari ilmu yang suci dan niat yang lurus.
Bahkan dalam Jurnal At-Ta’dib (2021), disebutkan bahwa seluruh nilai akhlak dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalah Al-Qur’an lahir dari pribadi yang benar-benar mengamalkannya.
Ketekunan Menulis dan Ibadah
Imam An-Nawawi dikenal menulis dalam keadaan berdzikir. Setiap lembar kitabnya selalu diawali dengan basmalah dan niat untuk memberi manfaat kepada umat.
Ia tidak menulis untuk ketenaran, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Karena itu, karya-karyanya terus hidup dan menyentuh hati siapa pun yang membacanya.
Ketekunannya dalam ibadah membuatnya dijuluki “Muhyiddin” (yang menghidupkan agama), meski ia sendiri tidak suka dengan gelar tersebut karena takut akan riya’.
Keteladanan Bagi Generasi Kini
Di era yang serba cepat dan materialistis, sosok Imam An-Nawawi menjadi oase ketenangan. Kesederhanaannya mengajarkan bahwa nilai hidup bukan diukur dari banyaknya harta, tapi dari keberkahan ilmu dan amal.
Imam An-Nawawi dan kesederhanaan hidupnya menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada kepemilikan, melainkan pada keikhlasan.
Ia hidup dalam kefakiran yang terhormat, namun dikenang dalam kemuliaan yang abadi.
Akhir yang Mulia
Ketika ajal menjemput, Imam An-Nawawi masih dalam keadaan menulis dan berzikir. Wajahnya disebut berseri-seri, menandakan kebahagiaan seorang hamba yang kembali kepada Rabb-nya.
Kesederhanaan yang ia jalani sepanjang hidup menjadi saksi ketulusan cintanya kepada Allah SWT. Dari kehidupan yang sederhana, lahirlah warisan ilmu yang tak pernah pudar.
Imam An-Nawawi dan kesederhanaan adalah dua sisi dari satu kisah indah tentang cinta kepada Allah, ilmu, dan keikhlasan yang abadi.
People Also Talk
1. Mengapa Imam An-Nawawi dijuluki Muhyiddin? Karena ia dikenal menghidupkan nilai-nilai agama melalui karya dan amalnya, meski ia sendiri tidak menyukai gelar itu.
2. Apa makna zuhud menurut Imam An-Nawawi?Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat dan memilih apa yang lebih baik untuk akhirat.
3. Mengapa Imam An-Nawawi tidak menikah?Karena waktunya sepenuhnya digunakan untuk menulis, mengajar, dan beribadah.
4. Apa karya paling terkenal Imam An-Nawawi? Riyadhus Shalihin dan Arba’in An-Nawawiyyah yang berisi hadis-hadis pilihan tentang akhlak dan ibadah.
5. Apa pelajaran terbesar dari kesederhanaan Imam An-Nawawi?Bahwa ilmu dan ketulusan lebih bernilai daripada kemewahan dunia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513755/original/018031500_1772065055-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448678/original/076312300_1766037315-shurkin_son.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397214/original/081553500_1681628826-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506735/original/013845900_1771475144-keluatga_buka_puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512358/original/092272800_1771952631-IOH_X_BERSATHU__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2810105/original/026483700_1558322699-cdn2.tstaticdotnet_masjid-al-akbar-surabaya_20150616_182916.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)








